Synchronize Festival 2026 resmi membuka gelaran edisi ke-11 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Tak sekadar menjadi perayaan musik lintas genre, festival tahun ini menghadirkan panggung-panggung kolaborasi, nostalgia, hingga suara kegelisahan sosial yang disampaikan melalui musik dan ekspresi visual.
Mengusung slogan “It’s Not Just a Festival, It’s a Movement!”, Synchronize Fest kembali menegaskan posisinya sebagai ruang pertemuan beragam warna musik Indonesia sekaligus medium untuk menyuarakan berbagai persoalan sosial.
Efek Rumah Kaca (ERK) mendapat kehormatan membuka rangkaian festival. Tampil dalam format semiakustik di hadapan Forest Stage, Cholil Mahmud dan kawan-kawan membawakan lagu “Di Udara” dan “Mosi Tidak Percaya” di tengah kerumunan penonton yang akrab disapa warga-wargi.
Penampilan tersebut terasa berbeda dengan kehadiran kolektif seni Jakarta 32°C yang menyuguhkan aksi olah tubuh, serta kolaborasi bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) yang menyampaikan pesan-pesan sosial.
Setelah sesi pembuka, ERK naik ke Forest Stage dan melanjutkan penampilan melalui sejumlah lagu andalan, seperti “Putih”, “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, hingga “Cinta Melulu”. Penampilan itu sekaligus menjadi pembuka rangkaian pertunjukan yang memadukan kegembiraan festival dengan ekspresi kritis terhadap situasi sosial.
Panggung Beragam Genre, Penonton Dihadapkan pada Pilihan Sulit
Selepas penampilan ERK, kemeriahan berlanjut di berbagai panggung. Afgan dan Monkey to Millionaire membuka District Stage dan XYZ Stage, sementara The Changcuters mengguncang Dynamic Stage, panggung terbesar di festival tersebut. Di Gigs Stage, kolektif hip-hop Gnarly Club langsung menghadirkan energi berbeda.
Memasuki malam hari, penonton dihadapkan pada pilihan sulit ketika Rumahsakit dan Romantic Echoes tampil bersamaan di panggung berbeda. Situasi serupa kembali terjadi saat Potret, The Jansen, dan Sal Priadi mengisi panggung masing-masing dalam rentang waktu berdekatan.
Namun, padatnya jadwal justru memperlihatkan kekayaan sajian Synchronize Fest. Setiap panggung memiliki karakter dan penggemarnya sendiri, dengan penonton yang turut bernyanyi serta menikmati pertunjukan hingga selesai.
Perunggu, Punk Sejak Dini, dan Nostalgia Geisha
Salah satu pertunjukan yang mencuri perhatian datang dari Perunggu melalui format spesial Pertunjukan Dalam Dinamika. Trio Maulana Ibrahim, Adam Adenan, dan Ildo Hasman berkolaborasi dengan Paduan Suara Alumni Universitas Indonesia serta sejumlah musisi, di antaranya Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca, Alit Djarot dari mpq, Bismo Triastirtoaji dari Satu Per Empat, dan Pandu Priyanto dari FILM.
Antusiasme penonton memenuhi berbagai sisi Dynamic Stage. Kerumunan yang memadati area tersebut memperlihatkan besarnya daya tarik Perunggu di tengah perkembangan musik Indonesia.
Di XYZ Stage, pertunjukan Punk Sejak Dini mempertemukan tiga kelompok musik dengan karakter berbeda, yakni Sakinah Mawaddah Warahmah, Sukses Lancar Rejeki, dan Sukatani. Kehadiran vokalis cilik Sakinah Mawaddah Warahmah menjadi salah satu sorotan, terlebih dengan konsep panggung melingkar yang memberi ruang bagi ekspresi para penampil.
Suasana kemudian berubah menjadi lebih emosional saat Geisha menghadirkan pertunjukan Retrospective Journey. Dua vokalis lintas generasi, Narova “Momo” Morina dan Regina Poetiray, tampil bersama dalam perayaan perjalanan musik Geisha.
Momen nostalgia semakin terasa ketika Roby Geisha menyampaikan, “Selamat pulang kembali, Momo,” di tengah penampilan yang membawa penonton kembali mengenang lagu-lagu populer band tersebut.
Orkes, Joget, dan Perayaan 30 Tahun Project Pop
Di tengah dominasi musik rock, pop, dan punk, Synchronize Fest juga memberi ruang bagi kolaborasi lintas genre. Pertunjukan 4 Sehat 5 Nampol mempertemukan Orkes Nunung CS, Orkes Pensil Alis, Benang Kenur, Feel Koplo, dan Mingse dalam sajian musik yang mengundang penonton berjoget sekaligus tertawa bersama.
Sementara itu, Project Pop merayakan perjalanan 30 tahun mereka melalui pertunjukan spesial di Dynamic Stage. Grup kuintet tersebut membawakan lagu-lagu nostalgia dengan dukungan visual megah dan aksi panggung enerjik.
Kejutan dari RAPOT, Wika Salim, KOTAK, dan Feel Koplo menjadi bagian dari penampilan yang menandai konsistensi Project Pop dalam mewarnai industri musik Indonesia selama tiga dekade.
Sejumlah penampil lain juga turut menghidupkan hari pertama, di antaranya Marsada Band, Basajan, 510, dan For Revenge.
Di Gigs Stage, kurasi Krapela menghadirkan Sunne, Baur, Remuk, Coldskin, hingga Det-Plag Lust. Meski memiliki karakter musik yang berbeda, penampilan mereka menyuguhkan energi yang sama: riuh, eksperimental, dan penuh kejutan.
Oleng Upuk hingga RedWhite Jazz Lounge
Kemeriahan Synchronize Fest tak hanya terpusat di panggung utama. Area Oleng Upuk kembali menjadi salah satu titik keramaian dengan penampilan para DJ dan performer dari kurasi LaMunai Records, mulai dari Uda Sjam, Walearic, Kenya, Radio Rumah Oma (RRO), LaMunai Music Service, Danny, Quirk It!, hingga Prontaxan.
Panggung Getar yang kembali dikurasi Kobra Musik juga menyajikan warna musik beragam. Clever Moose dan Sukses Lancar Rejeki berbagi ruang dengan Orkes Trotoar, OM New Eleng, Santet, serta Orkes Bagong Februari dari Jatinangor.
Tahun ini, Synchronize Fest turut memperkenalkan RedWhite Jazz Lounge, area baru yang dikurasi maestro jazz Indra Lesmana. Ruang tersebut menghadirkan beragam aktivitas seputar musik jazz, termasuk penampilan Gerald Situmorang, sesi jam session yang dipandu Kenny Gabriel, serta DJ set dari EQ Puradiredja.
Kehadiran area ini memperluas pengalaman festival sekaligus menegaskan bahwa Synchronize Fest bukan sekadar pertemuan band dan penonton, melainkan ruang eksplorasi bagi beragam ekspresi musikal.
Musik sebagai Ruang Menyuarakan Kegelisahan

Di balik kegembiraan dan riuhnya panggung, pesan sosial menjadi salah satu benang merah hari pertama Synchronize Fest 2026.
Kolaborasi dengan kolektif Jakarta 32°C menghadirkan instalasi berisi pesan dan kritik terhadap berbagai persoalan sosial. Sejumlah musisi dan band juga menyampaikan kegelisahan melalui visual panggung masing-masing.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Di tengah perayaan dan kebersamaan, panggung juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kritik, merawat kesadaran, serta mengajak publik melihat kondisi Indonesia dari perspektif yang lebih luas.
Hari pertama Synchronize Fest 2026 pun ditutup dengan beragam kesan: nostalgia, eksplorasi musik, kolaborasi lintas generasi, hingga suara kritis yang menyatu dalam perayaan musik Indonesia.
Synchronize Festival 2026 masih berlangsung hingga Minggu (18/10/2026). Informasi dan pembelian tiket harian dapat diakses melalui situs resmi www.synchronizefestival.com.
Angga Saputra






