Serat Wedhatama, karya sastra Jawa yang ditulis Mangkunegoro IV, kembali mendapat perhatian karena pesan pembukanya yang dianggap tajam dan relevan dengan realitas masyarakat modern. Naskah yang selama ini dikenal sebagai kumpulan wejangan hidup itu ternyata tidak memulai ajarannya dengan konsep surga, pahala, atau ritual keagamaan, melainkan dengan satu kalimat kunci: “Mingkuri Angkoro.”
Pembuka tersebut dinilai bukan sekadar kalimat biasa, melainkan sebuah pernyataan dasar yang menempatkan persoalan manusia pada titik paling mendasar: mengelola diri sendiri sebelum bicara terlalu jauh tentang kebenaran.
Mangkunegoro IV dikenal bukan hanya sebagai raja, tetapi juga sebagai tokoh yang menjalani laku batin. Serat Wedhatama ditulis bukan dalam semangat teori, melainkan hasil pengamatan mendalam tentang karakter manusia, pergulatan emosi, serta cara seseorang menemukan ketenangan hidup.
Kalimat “Mingkuri Angkoro” seolah menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa perjalanan batin tidak dimulai dari luar, tetapi dari dalam diri.
Makna “Mingkuri Angkoro”
Secara bahasa, mingkuri berarti menjauh atau menghindar, sedangkan angkoro merujuk pada angkara murka: dorongan destruktif, ego kasar, nafsu, dan emosi yang tidak terkendali.
Namun dalam tafsir yang lebih luas, “mingkuri angkoro” tidak berhenti pada ajakan menjauhi kejahatan sosial atau perilaku buruk yang tampak di luar. Pesan utamanya justru mengarah pada satu hal yang lebih sulit: menjauh dari sisi gelap dalam diri sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia cenderung lebih mudah menilai kesalahan orang lain daripada mengakui kekacauan batinnya sendiri. Karena itu, ajaran ini dianggap menyentuh akar persoalan manusia: ketidakmampuan bercermin.
Angkoro yang Tidak Selalu Kasar
Wedhatama juga menyoroti bahaya angkoro yang sering muncul dalam bentuk halus dan tampak “baik”. Angkara murka tidak selalu hadir lewat kekerasan atau kebencian terang-terangan, tetapi bisa menyusup lewat sikap yang tampaknya benar.
Di antaranya melalui kemarahan atas nama agama, menghakimi atas nama kebenaran, hingga perasaan lebih suci dibanding orang lain.
Pada titik ini, Serat Wedhatama seperti memberi peringatan bahwa kebenaran yang sejati tidak gaduh. Ia tenang, tidak membutuhkan teriakan, apalagi penghinaan terhadap pihak lain.
Pesan tersebut sekaligus menyentil realitas sosial saat ini, ketika banyak orang merasa sedang membela nilai mulia, padahal sesungguhnya sedang membela ego.
Menghindar, Bukan Melawan
Hal yang menarik, Wedhatama tidak menggunakan kata “melawan” angkoro, melainkan “mingkuri”—menjauh. Pilihan kata ini dianggap mengandung strategi psikologis yang dalam.
Sebab saat seseorang melawan amarah atau ego dalam kondisi kesadaran rendah, yang terjadi sering kali bukan kemenangan, tetapi ledakan baru: emosi ikut bermain, ego makin aktif, konflik makin besar.
Alih-alih menaklukkan angkara murka, manusia justru masuk menjadi bagian dari angkara itu sendiri.
Karena itu, pendekatan Wedhatama bersifat halus: kenali, sadar, lalu menjauh. Seperti menghadapi api, orang bijak tidak memukul api, melainkan mengambil jarak agar tidak terbakar.
Realitas Hari Ini: Konflik karena Kurang Kesadaran
Dalam konteks kekinian, pesan “mingkuri angkoro” dianggap semakin relevan. Berbagai konflik sosial yang terjadi di ruang publik—baik di dunia nyata maupun media sosial—sering kali bukan disebabkan kurangnya ilmu atau informasi, tetapi kurangnya kesadaran diri.
Debat yang tidak selesai, komentar saling melukai, fanatisme yang membabi buta, hingga kebencian yang dibungkus pembenaran, semuanya dinilai memiliki akar yang sama: angkoro yang tidak disadari.
Ironisnya, banyak konflik menjadi semakin tajam karena setiap pihak merasa sedang berdiri di posisi paling benar.
Dalam kondisi itu, tragedi sosial muncul: kejahatan paling sulit dihentikan adalah kejahatan yang merasa dirinya kebenaran.
Gerbang Awal Laku Batin
Wedhatama menempatkan “mingkuri angkoro” sebagai langkah awal sebelum seseorang berbicara tentang spiritualitas yang lebih tinggi. Pesan ini menegaskan bahwa perjalanan batin bukan dimulai dari meditasi, teori, atau simbol-simbol keagamaan, melainkan dari kemampuan menyadari emosi saat mulai naik.
Mulai sadar ketika ingin menyerang, ketika ingin menang sendiri, ketika ingin merasa paling suci. Kemudian mundur sedikit. Diam sejenak. Tidak ikut arus. Itulah inti dari “mingkuri”.
Dalam pandangan Serat Wedhatama, banyak manusia ingin memperbaiki dunia tanpa menyelesaikan dirinya sendiri. Padahal dunia yang kacau sering kali adalah pantulan dari batin yang kacau. Karena itu, Wedhatama mengingatkan sejak awal: jangan mulai dari luar, mulailah dari dalam.
“Mingkuri angkoro” bukan tujuan akhir, melainkan gerbang kesadaran. Tanpa melewati gerbang itu, seluruh perjalanan spiritual berisiko menjadi ilusi—sekadar wacana, tanpa perubahan karakter.
Di tengah derasnya opini, kemarahan, dan fanatisme hari ini, Wedhatama seperti memberi pertanyaan sederhana namun menusuk:
“Yang sedang berbicara ini kesadaran, atau hawa nafsu?”
Jika jawabannya hawa nafsu, maka langkah terbaik bukan melawan, melainkan menjauh.
Mingkuri.
Penulis: Widhiantoro
Diambil dari berbagai sumber








