BANYUMAS — Ratusan warga Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, menggelar aksi demonstrasi menolak aktivitas penambangan pasir menggunakan mesin sedot, Selasa (18/8/2026). Dalam aksi tersebut, warga memasang patok atau portal di akses menuju lokasi penambangan untuk menghalangi lalu lintas kendaraan pengangkut pasir.
11 Mesin Sedot Beroperasi, Warga Resah
Koordinator aksi sekaligus perwakilan warga, Sarno, mengatakan penolakan dilakukan karena aktivitas penambangan menggunakan mesin sedot dinilai telah menimbulkan keresahan dan gangguan bagi masyarakat.
“Simpel keinginan kami menolak tambang pasir menggunakan mesin. Dengan adanya tambang di sini, di depo pasir, yang memakai mesin sedot, itu sudah berjalan selama hampir dua bulan,” kata Sarno di lokasi aksi kepada wartawan.
Warga yang merasa terdampak berasal dari lima RT yang berada di dua RW. Sarno mengungkapkan jumlah mesin sedot yang beroperasi di lokasi penambangan kini dinilai sudah berlebihan. Dari informasi awal hanya disebutkan akan ada satu hingga delapan mesin, namun warga mendapati sekitar 11 mesin beroperasi di lokasi.
“Dari tadinya katanya satu sampai delapan, dan dari awal pun ada tiga. Jadi itu di lokasi penambangan ada 11 mesin,” ucapnya.
Khawatir Longsor dan Gangguan Lingkungan
Kekhawatiran warga diperkuat dengan pengalaman bencana longsor yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Sarno menyebut warga masih mengingat kejadian longsor pada masa lalu yang menyebabkan sejumlah rumah harus dipindahkan.
“Kami merasa resah, merasa terancam, merasa terganggu. Kehidupan kami selama hampir 30 tahun dengan longsor yang dulu itu masih ingat. Kejadian rumah kita pindah sampai berapa kali,” ujarnya.
Warga khawatir aktivitas penambangan dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor, terutama ketika memasuki musim penghujan. Mereka juga takut longsor kembali memutus akses jalan dan mencapai permukiman warga.
Selain ancaman longsor, warga mengeluhkan dampak lain berupa suara bising mesin dan debu yang ditimbulkan dari aktivitas penambangan serta kendaraan pengangkut pasir. Sarno menyebut sekitar 50 truk berukuran besar keluar masuk lokasi penambangan setiap hari.
“Banyak warga yang sudah emosi, setiap hari terganggu dengan suara mesin-mesin sedot pasir itu,” kata Sarno.
Keberadaan masjid yang digunakan untuk kegiatan Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) tidak jauh dari lokasi penambangan juga menjadi perhatian warga.
“Banyak anak-anak TPQ lalu lalang setiap hari, setiap sore. Takutnya terjadi apa-apa kepada anak-anak ngaji kita,” ujarnya.
Kesepakatan Dilanggar, Warga Ambil Tindakan
Sarno mengatakan pemasangan portal dilakukan setelah warga sebelumnya menempuh jalur komunikasi dengan pemerintah desa dan pihak penambang. Pertemuan tersebut bahkan telah menghasilkan kesepakatan, namun warga menilai kesepakatan itu kemudian tidak dijalankan.
“Kami sudah melalui jalur prosedural. Kami sudah bertemu dengan pihak Pemdes, pihak penambang, dan sudah terjadi kesepakatan, dan akhirnya tetap dilanggar,” ujarnya.
Warga kemudian meminta pemerintah mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi mendengarkan aspirasi mereka dan mengambil langkah terhadap persoalan tersebut.
Warga Tidak Tolak Penambangan Manual
Sarno menegaskan penolakan warga bukan terhadap seluruh aktivitas penambangan pasir. Warga hanya mempersoalkan metode penambangan menggunakan mesin sedot. Menurutnya, penambangan secara manual menggunakan perahu seperti yang dilakukan sebelumnya masih dapat diterima masyarakat.
“Kami menolak penambangan dengan mesin. Tapi kami tidak menolak penambangan dengan perahu. Kalau perahu seperti dulu silakan. Banyak tenaga-tenaga kerja lokal kalau pakai perahu,” katanya.
Tuntutan warga, menurut Sarno, sederhana yakni seluruh mesin sedot yang berada di lokasi penambangan dikeluarkan dari wilayah Desa Cindaga.
“Keluarkan dari Cindaga. Terserah mau dikembalikan ke yang punya mesin atau mau dipindahkan ke mana, silakan. Itu simpel saja,” tegasnya.
Sarno menyebut sedikitnya lima RT dan dua RW merasa terdampak atau resah dengan aktivitas tersebut. Jumlah warga yang berada di wilayah terdampak diperkirakan lebih dari 200 kepala keluarga dan mendekati 300 KK.
Editor : Angga Saputra







