PURWOKERTO – Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kembali melahirkan doktor baru yang risetnya menyentuh langsung persoalan keberlanjutan sumber daya perikanan di Jawa Tengah.
Dra. Siti Rukayah, M.Si., dosen Program Studi S3 Biologi Unsoed, resmi menyandang gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka, Jumat (13/2/2026). Penelitiannya mengupas tuntas biologi ikan Keting (Mystus nigriceps) di Sungai Ijo dan Sungai Cicingguling, Jawa Tengah.
Ikan Keting bukan sekadar ikan air tawar biasa. Di dua sungai tersebut, komoditas ini menjadi sumber protein masyarakat sekaligus penyokong ekonomi nelayan sungai. Namun, ancaman overfishing dan degradasi lingkungan terus membayangi keberlangsungan populasinya.
Siti Rukayah melakukan riset selama setahun penuh dengan menganalisis empat aspek krusial: taksonomi, karakteristik habitat, reproduksi, serta dinamika populasi ikan Keting termasuk laju eksploitasi dan pola pertumbuhan.
Yang menarik, penelitian ini justru mengandalkan pendekatan morfologi di tengah gempuran studi berbasis molekuler. Prof. Dr. Suhestri Suryaningsih, M.S., selaku penelaah, menilai pendekatan ini justru lebih fundamental.
“Karakter morfologi adalah dasar utama sebelum melangkah ke taksonomi molekuler. Pendekatan ini juga bisa membedakan ikan jantan dan betina yang penting untuk kepentingan budidaya,” terangnya.
Temuan penting lainnya: ikan Keting ternyata termasuk pemijah parsial (partial spawner) mereka memijah secara bertahap dalam periode berbeda. Pola ini dinilai menguntungkan karena memberi ruang pemulihan populasi di sela musim penangkapan.
Yang mengejutkan, penelitian ini menemukan bahwa penurunan populasi ikan Keting justru lebih banyak disebabkan faktor alami seperti predasi, usia, penyakit, dan perubahan ekologis dibanding tekanan penangkapan manusia.
Meski begitu, bukan berarti nelayan boleh lepas tangan. Siti Rukayah tetap merekomendasikan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan untuk menjaga keberlanjutan populasi.
“Penangkapan sebaiknya menggunakan jaring dengan diameter 0,5–1 cm. Ini penting untuk mendukung konservasi sekaligus menjaga ekosistem dan ketahanan pangan lokal,” tegasnya.
Promosi doktor yang dibimbing Prof. Dr. Agus Nuryanto, M.Si. dan Dr.rer.nat. W. Lestari, M.Sc. ini tidak sekadar menambah deretan doktor baru di Unsoed. Lebih dari itu, riset ini menyediakan pijakan ilmiah bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Jawa Tengah. (Angga Saputra)









