PURWOKERTO– Penasihat Ahli Menteri Agama RI, Prof. Nur Syam, menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar program pemerintah, melainkan warisan pemikiran (legasi) yang telah dibangun secara berkelanjutan oleh para Menteri Agama sejak awal berdirinya Kementerian Agama RI.
Pernyataan itu disampaikan dalam Workshop Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama di Gedung Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Kamis (6/8/2026). Kegiatan yang digelar oleh LPPM melalui Pusat Moderasi Beragama UIN Saizu ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, dan ASN di lingkungan kampus.
Syukur dan Modal Sosial
Dalam pemaparannya, Prof. Nur Syam mengajak peserta memulai moderasi beragama dari rasa syukur sebagai bangsa Indonesia yang hidup dalam keberagaman. Menurutnya, banyak hal dalam kehidupan, seperti tempat lahir dan suku bangsa, merupakan anugerah yang tidak bisa dipilih sendiri.
“Kita patut bersyukur lahir di Indonesia. Karena di negeri ini kita dapat menikmati kedamaian dan ketenteraman meskipun masyarakatnya sangat beragam,” ujarnya.
Dia menambahkan, keberagaman justru menjadi kekuatan besar jika dikelola dengan sikap saling menghormati. Prof. Nur Syam menyoroti nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur, seperti filosofi masyarakat Jawa: rukun, harmoni, dan selamat.
“Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Kalau masyarakat rukun, akan lahir kekuatan. Sebaliknya, jika bertikai, yang terjadi adalah perpecahan,” jelasnya.
Legasi Menteri Agama
Prof. Nur Syam memaparkan kontribusi para Menteri Agama dalam membangun kerukunan:
· Prof. Mukti Ali mewariskan metode penelitian agama yang menjadi rujukan akademik.
· Jenderal Alamsyah Ratu Perwiranegara mencetuskan Trilogi Kerukunan Umat Beragama.
· Prof. Munawir Sjadzali mengembangkan pemikiran hukum tata negara Islam.
· Prof. Maftuh Basuni memperbarui manajemen penyelenggaraan haji.
· Dr. Surya Dharma Ali menginisiasi Gerak Jalan Kerukunan.
· Dr. Lukman Hakim Saifuddin meletakkan fondasi Moderasi Beragama dan lahirnya Lima Nilai Budaya Kerja.
· Cholil Yaqut Quomas memasukkan Moderasi Beragama ke dalam RPJMN 2020–2024.
· Prof. Nasaruddin Umar mengembangkan pendekatan Beragama Berbasis Cinta dan Ekoteologi.
Peran ASN dan Perguruan Tinggi
Prof. Nur Syam juga menekankan pentingnya integritas dan profesionalitas ASN di lingkungan Kementerian Agama. Menurutnya, tantangan birokrasi saat ini adalah membangun kepercayaan publik melalui pelayanan yang berkualitas.
“Orang yang profesional bekerja sesuai keahlian dan memahami tugas pokok serta fungsinya,” tegasnya.
Di hadapan sivitas akademika UIN Saizu, dia menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis menjaga masa depan bangsa. Kampus tidak hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang membangun karakter, toleransi, dan nilai kebangsaan.
“Perguruan tinggi harus menjadi obor yang menerangi masyarakat melalui ilmu pengetahuan sekaligus keteladanan,” ujarnya.
Menutup pemaparan, Prof. Nur Syam mengajak semua pihak menghargai jasa para pendahulu dan melanjutkan perjuangan demi Indonesia yang rukun, harmonis, dan bermartabat.
Penulis : Yoga Cokro
Editor : Angga Saputra






