TEGAL – Dalam tiga tahun terakhir, volume penumpang di Stasiun Slawi melonjak hampir 40 persen. Kini, stasiun berusia 141 tahun itu tak lagi sekadar tempat naik-turun kereta, melainkan menjadi nadi mobilitas warga Tegal bagian selatan.
Mulai dari pekerja, pelajar, hingga pedagang, kereta api menjadi pilihan utama mereka untuk beraktivitas sehari-hari. Kepercayaan publik terhadap moda transportasi ini terus menguat, seiring dengan peningkatan layanan KAI.
Penumpang Naik Signifikan
Manajer Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin, menyebut stasiun memiliki makna lebih dari sekadar tempat transit.
“Di dalamnya ada perjalanan masyarakat, aktivitas ekonomi, harapan untuk bekerja dan belajar, serta koneksi dengan daerah lain,” ujarnya.
Berdasarkan data KAI Daop 5, rata-rata volume penumpang berangkat dan tiba di Stasiun Slawi terus meningkat:
· 2023: 16.671 orang/bulan
· 2024: 18.209 orang/bulan
· 2025: 20.904 orang/bulan
· Juli 2026: 23.417 orang/bulan
Angka itu menunjukkan pertumbuhan sekitar 40 persen dibandingkan tahun 2023.
As’ad menegaskan, peningkatan pelanggan menjadi amanah bagi KAI untuk terus meningkatkan pelayanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu.
Saat ini, Stasiun Slawi melayani 8 perjalanan kereta api per hari melalui rangkaian KA Kamandaka dan KA Joglosemarkerto. Kedua jalur ini menghubungkan Slawi dengan sejumlah kota di Jawa Tengah dan DIY, membuka akses ke tempat kerja, kampus, pusat perdagangan, hingga fasilitas kesehatan.
Saksi Sejarah Hasil Bumi
Stasiun Slawi mulai beroperasi pada 1885, atau 141 tahun silam, sebagai bagian dari jalur kereta api Tegal–Slawi–Prupuk. Pada masa kolonial, stasiun ini menjadi tulang punggung pengangkutan hasil perkebunan seperti gula, teh, dan tembakau dari kawasan Slawi.
Kini, muatan komoditas perlahan berganti menjadi mobilitas manusia. Namun esensinya tetap sama: menjadi penghubung.
Stasiun ini juga menyimpan sejarah penting. Sejak 2005, Stasiun Slawi menjadi stasiun pertama di Indonesia yang menggunakan sistem persinyalan elektrik buatan dalam negeri.
Menggerakkan Ekonomi Lokal
Tak hanya melayani penumpang, Stasiun Slawi turut menumbuhkan ekosistem ekonomi di sekitarnya. Warung makan, kios, pedagang makanan khas, hingga jasa ojek, becak, dan angkutan kota hidup dari lalu-lalang pengguna kereta.
Kuliner khas seperti tahu aci, kerupuk antor, dan teh poci menjadi bagian dari pengalaman masyarakat yang singgah di stasiun ini.
“Stasiun merupakan bagian dari ekosistem masyarakat. Semakin baik konektivitasnya, semakin besar peluang ekonomi dari mobilitas tersebut,” ujar As’ad.
Dari Stasiun Slawi, wisatawan juga dapat menjangkau destinasi unggulan Tegal, seperti Wisata Alam Guci (sekitar 30 km) dan Taman Rakyat Slawi Ayu (TRASA).
141 Tahun, Tetap Jadi Denyut Nadi
Slawi dikenal dengan tradisi “moci”—menikmati teh dengan poci tanah liat—yang menjadi cerminan keramahan dan kearifan lokal. Di tengah tradisi yang tetap lestari, Stasiun Slawi justru menjelma menjadi simbol perubahan.
“Selama 141 tahun, Stasiun Slawi telah menyaksikan banyak perubahan. Dari masa mengangkut hasil bumi hingga mengantarkan masyarakat menuju berbagai tujuan. Perannya berkembang, tetapi esensinya tetap sama: menghubungkan dan membuka peluang,” pungkas As’ad.
KAI Daop 5 Purwokerto berkomitmen terus menghadirkan layanan kereta api yang selamat, nyaman, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Bagi Stasiun Slawi, 141 tahun bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan perjalanan ribuan orang yang datang dan pergi—membawa cerita, peluang, dan menggerakkan kehidupan di sekitarnya.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






