BANYUMAS – Perwakilan relawan, pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan supplier Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Banyumas mendatangi DPRD setempat, Selasa (23/6/2026). Mereka mengadukan dampak peliburan program selama tiga minggu yang dinilai merugikan banyak pihak.
Audiensi berlangsung di ruang rapat Komisi IV DPRD Banyumas. Para perwakilan diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Banyumas, Muh Erlangga Nugraha, Ketua Komisi IV Dukha Ngabdul Latif, serta anggota komisi lainnya, Rachmat Imanda dan Balqis Fadillah.
Tak hanya menyampaikan aspirasi, perwakilan relawan, Taufik, mengumumkan rencana aksi damai pada Jumat, 26 Juni 2026. Aksi tersebut bertujuan menyuarakan keberlanjutan program MBG yang dinilai telah menggerakkan ekonomi masyarakat kecil.
“Kami ingin memastikan keberlanjutan program, karena ini sudah terbukti menggerakkan ekonomi masyarakat bawah,” ujarnya.
Relawan Terancam Kehilangan Satu-Satunya Penghasilan
Bendahara Paguyuban SPPG Banyumas, Martono, mengungkapkan bahwa peliburan operasional selama tiga minggu membuat para relawan kehilangan sumber pendapatan utama.
“Relawan sudah mengandalkan mata pencaharian melalui dapur. Penghasilan dibayarkan dua minggu sekali. Kalau libur sampai tiga minggu, dia akan kehilangan penghasilan yang selama ini menjadi andalan,” ujar Martono usai audiensi.
Bahkan, beberapa relawan terpaksa meminta pinjaman (bon) untuk bertahan hidup selama program libur.
“Ada yang suami istri, bahkan orang tua dengan anak, semuanya menggantungkan penghasilan di dapur. Mereka sangat kehilangan satu-satunya sumber penghasilan. Ada relawan sampai mau minta bon, nanti dikembalikan saat buka lagi,” tambahnya.
MBG Beri Dampak Ekonomi bagi Warga Kecil
Martono menjelaskan bahwa selama hampir satu tahun berjalan, program MBG telah memberikan dampak positif bagi banyak pihak, tidak hanya penerima manfaat tetapi juga pelaku usaha kecil di sekitar dapur.
“Supplier bukan hanya pedagang besar, tapi pedagang kecil, petani, termasuk peternak. Bakul-bakul omsetnya naik, yang tadinya eceran di pasar ada yang jadi pedagang besar,” katanya.
Penerima manfaat MBG kini tidak terbatas pada siswa dan santri, melainkan sudah menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3). Mereka menerima asupan gizi bergantian secara teratur setiap minggu.
Usul Skema Shift agar Program Tetap Jalan
Martono berharap operasional dapur MBG tetap berjalan meski dalam kapasitas terbatas. Ia mengusulkan skema shift bergantian bagi para relawan agar program tidak berhenti total.
“Karena sekolah libur, kita bisa saja melayani untuk yang B3. Yang namanya orang makan bergizi kan tidak ada liburnya. Meskipun tidak full relawan masuk, mungkin shift bergantian separuh-separuh agar tetap beroperasional,” usulnya.
Dengan begitu, supplier tetap bisa memasok bahan makanan, penerima manfaat tetap mendapat asupan gizi, dan relawan tetap berpenghasilan meski tidak penuh.
Penulis : Angga Saputra








