BANYUMAS – Puluhan warga Jatilawang, Banyumas, menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang dilanjutkan dengan diskusi publik di Warkop DGUWE, Minggu (17/5/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 19.30 hingga 22.30 itu berjalan lancar tanpa insiden berarti.
Acara diawali dengan pemutaran film sekitar pukul 19.30 hingga pukul 21.00. Setelah itu, diskusi dipandu moderator Ahmad Zaki bersama dua pemantik, yakni Khanan Saputra (penulis) dan Fathur Jibran (PMII UMP). Sepanjang diskusi, penonton aktif melontarkan pertanyaan dan pendapat.
Kegiatan ini sempat dipersoalkan terkait perizinan. Namun, panitia kemudian melayangkan surat pemberitahuan ke Polsek dan Koramil setempat.
“Berjalannya nobar dan diskusi di Jatilawang menunjukkan bahwa di sini masih menyisakan ruang demokratis. Dari nobar kita juga jadi tahu sisi kehidupan di ujung Indonesia yang sedang mengalami konflik,” ujar Khanan Saputra.
Ia menambahkan, ruang diskusi semacam ini perlu terus digencarkan agar distribusi pengetahuan berjalan. “Yang tersisa dari kita adalah solidaritas. Maka kita harus terus kokang solidaritas itu,” tegasnya.
Menariknya, di sela acara dilakukan iuran kolektif dari peserta untuk pengungsi Papua. Hal ini dinilai sebagai bentuk kesadaran tinggi atas nilai kemanusiaan yang tidak bisa dibatasi.
Para peserta mengaku kaget dengan situasi di Papua yang digambarkan dalam film Pesta Babi. Mereka turut prihatin dan aktif berdiskusi.
Menanggapi adanya pelarangan nobar serupa di Ajibarang, Khanan menyebut bahwa pelarangan justru menunjukkan ketakutan dari kekuasaan. “Kekuasaan merasa terancam oleh film, maka intimidasi digencarkan untuk menakut-nakuti rakyat,” katanya.
Harapannya, kegiatan nobar dan diskusi film Pesta Babi semakin gencar diselenggarakan. “Ini adalah ruang demokrasi kita. Semakin dilarang, semakin kita patut mempertanyakan, dan harus semakin berani,” pungkas Khanan.
Penulis : Angga Saputra






