INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

NEGARA PARA PAMAN

Gedung Soetedja, Koperasi Desa MerahPutih, dan Ketakutan Kita pada Ruang yang Tidak Menghasilkan

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Minggu, 7 Juni 2026

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Minggu pagi adalah waktu yang berbahaya. Bukan karena ada perang, bukan karena harga cabai sedang naik, dan bukan pula karena dompet mendadak kosong begitu tanggal muda berlalu tanpa pamit.

Minggu pagi berbahaya karena manusia punya terlalu banyak waktu untuk berpikir.
Kopi sudah tersaji.
Istri masih sibuk di dapur.
Anak-anak masih bergulat dengan selimut.
Burung-burung berkicau riuh, persis seperti juru kampanye yang belum dibayar.
Dan di saat itulah, kita membuka telepon genggam. Di situlah petualangan sesungguhnya dimulai.

Berita pertama membuat darah mendidih karena marah.
Berita kedua membuat kepala pening karena heran.
Berita ketiga membuat kita tertawa sendiri.
Berita keempat membuat bingung: apakah ini berita nyata, atau naskah pertunjukan ketoprak humor?

Lama-kelamaan saya mulai curiga: negeri ini sebenarnya bukan negara republik. Ini adalah Negara Para Paman.
Jumlah penduduk memang banyak, tetapi jumlah “Pamannya” ternyata jauh lebih banyak lagi.

Ada Paman Sam.

Ia tinggal jauh di seberang lautan, namun sering kali terasa lebih tahu apa yang harus dilakukan negara lain, dibandingkan negara itu sendiri.

Ada Paman Gober.

Hartanya sedemikian rupa hingga uang tak lagi sekadar alat membeli kebutuhan, melainkan alat membeli pengaruh. Jika rakyat kecil menabung untuk masa depan, Paman Gober menabung masa depan orang lain.

Ada Paman Patih.

Tokoh ini sudah ada sejak zaman kerajaan dulu. Pekerjaannya satu: mengatur.
Apa pun diatur. Siapa boleh bicara, siapa harus diam. Siapa boleh naik panggung, siapa harus turun. Siapa berhak disebut pahlawan, siapa harus hanya menjadi figuran.

Masalahnya, sejarah sering kali membuktikan: ketika Paman Patih terlalu lama mengatur segalanya, ia mulai percaya bahwa matahari terbit semata-mata karena izin darinya.

Lalu ada Paman Pangon.

Dalam bahasa desa, pangon artinya penggembala. Paman Pangon sangat mencintai rakyatnya. Saking cintanya, ia ingin semua rakyat berjalan ke arah yang sama, berpikir sama, berbicara sama, tersenyum sama. Bahkan, kalau bisa, mimpi pun harus sama persis.

Ia lupa satu hal penting: manusia bukan kawanan kambing. Jika semua orang berpikir sama, biasanya artinya hanya ada satu orang yang sedang berpikir untuk semuanya. Dan sejarah membuktikan, hal seperti itu jarang berakhir baik.

Ada pula Paman Eman.

Namanya terdengar lembut dan menenangkan. Kelihatannya penuh kasih sayang. Ia sering berkata dengan lantang, “Saya peduli pada rakyat.” Kalimat itu diucapkan dengan raut wajah yang sangat tulus, biasanya tepat di depan kamera. Begitu kamera dimatikan, kepeduliannya pun ikut pulang bersama kru dokumentasi.

Yang lebih seru lagi adalah Paman Galak.

Paman ini punya teori yang sangat sederhana. Kalau suaranya belum terdengar keras, naikkan volumenya. Kalau orang belum setuju, bentak sedikit. Kalau masih belum setuju juga, bentak lebih keras lagi.

Ia mengira kebenaran itu semata-mata soal seberapa tinggi desibel suara. Padahal, petir jauh lebih keras daripada suara manusia, tetapi ia tidak pernah terpilih menjadi pemimpin.

Namun, dari sekian banyak jenis paman, favorit saya tetaplah Paman Ndasmu. Paman Ndasmu adalah mahakarya peradaban digital. Pagi hari ia bangun sebagai ahli ekonomi. Menjelang siang berubah menjadi ahli hukum. Sore hari beralih profesi menjadi ahli pendidikan. Malam harinya ia berubah menjadi pakar geopolitik internasional. Besok pagi ia bisa jadi dokter, dan lusa ia sudah berubah menjadi ahli agama.

Semua gelar dan keahlian itu ia miliki tanpa perlu membaca buku tebal. Cukup membaca judul berita dan sekilas kolom komentar. Ia adalah bukti nyata bahwa internet telah berhasil menghapus batas antara pengetahuan dan rasa percaya diri yang berlebihan.

Jika Socrates pernah berkata, “Aku tahu bahwa aku tidak tahu,” maka semboyan Paman Ndasmu justru sebaliknya: “Aku tidak tahu bahwa aku tidak tahu.” Dan yang menggelikan, jumlah pengikutnya sering kali jauh lebih banyak daripada pengikut Socrates.

Tetapi sesungguhnya, para paman itu tidak hanya hidup di luar sana, di berita atau di layar telepon genggam. Mereka tinggal di dalam diri kita masing-masing.  Saat melihat orang kaya lalu hati mulai iri, Paman Gober sedang tersenyum di dalam dada. Saat merasa diri sendiri paling benar dan yang lain salah, Paman Galak sedang mengelus pundak kita.

Saat ingin mengatur jalan hidup semua orang sesuai keinginan kita, Paman Pangon sedang bertepuk tangan riang.
Saat sibuk membangun citra agar dipuji orang lain, Paman Bertopeng sedang bercermin di hati.
Dan saat berbicara panjang lebar tentang hal yang sebenarnya tidak kita pahami sepenuhnya, Paman Ndasmu diam-diam sedang membuka seminar umum.

Karena itu, persoalan terbesar manusia sebenarnya bukanlah siapa yang memimpin negara ini. Melainkan: siapa yang sedang memimpin pikiran kita?

Banyak orang merasa diri mereka adalah koran berita bohong atau hoaks. Padahal, sering kali kenyataannya jauh lebih lucu dari itu. Mereka bukan sekadar korban hoaks, melainkan relawan penyebarnya. Mereka mengantar berita tak benar itu dari satu grup obrolan ke grup lain dengan semangat layaknya kurir ekspres, bahkan melakukannya secara cuma-cuma, tanpa minta ongkos kirim.

Kadang saya membayangkan para leluhur sedang menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum dari alam sana.Dulu, orang bertapa puluhan tahun hanya untuk mencari sepercik kebijaksanaan. Sekarang, orang merasa paling benar setelah membaca satu baris status WhatsApp yang ditulis sambil rebahan.

Dulu, para pujangga menulis serat dan babad berlembar-lembar penuh makna. Sekarang, seseorang merasa telah menemukan hakikat kehidupan hanya setelah menonton video pendek berdurasi tiga puluh detik.

Barangkali inilah yang kita sebut sebagai kemajuan. Kemajuan teknologi yang kadang berjalan jauh lebih cepat daripada kematangan akal dan budi pekerti.

Maka, Minggu pagi sebaiknya tidak dihabiskan hanya untuk menenggelamkan diri dalam berita dan keributan orang lain. Sesekali, bacalah diri sendiri. Periksalah ruang batin kita, yang sering kali jauh lebih gaduh daripada media sosial. Hitunglah berapa banyak Paman Galak yang bersarang inap di dalam kepala. Berapa banyak Paman Gober yang bersembunyi di balik keinginan-keinginan kita. Berapa banyak Paman Bertopeng yang kita pelihara demi sekadar pengakuan orang lain.

Dan berapa sering Paman Ndasmu diam-diam mengambil alih mikrofon dalam panggung kehidupan kita. Setelah selesai memeriksa semuanya, seduhlah kembali kopi Anda. Nikmati pahitnya. Karena kopi yang baik tidak pernah berjanji rasa manis. Ia justru mengajarkan kita bahwa hidup memang sedikit pahit, sedikit hangat, beraroma wangi, dan sering kali meninggalkan ampas di akhir perjalanan.

Lalu pandanglah langit yang terbentang. Awan bergerak lewat tanpa membuat keributan. Angin berembus sejuk tanpa perlu berpidato. Pohon tumbuh tegap tanpa pencitraan diri. Burung bernyanyi merdu tanpa kontrak publikasi.
Semuanya tetap menjalankan tugasnya dengan tenang, tanpa perlu menjadi viral atau terkenal.

Di situlah mungkin letak kebijaksanaan yang kini mulai langka kita temukan:
Bahwa hidup tidak harus selalu menjadi berita. Tidak harus selalu berisi pendapat. Tidak harus selalu penuh komentar. Kadang, cukup dengan menjadi manusia biasa.
Minum kopi. Tersenyum pada diri sendiri. Berdzikir mensyukuri hidup.Lalu membiarkan para paman itu lewat begitu saja, persis seperti asap kretek yang mengepul lalu melayang hilang ke udara.

Karena tidak semua hal harus kita tanggapi. Sebagian cukup kita pahami saja. Sebagian cukup kita tertawakan saja. Dan sebagian lagi, cukup kita ucapkan dengan satu kata yang sangat Indonesia, singkat padat dan jelas:  “Ndasmu.”

Ajibarang, 7 Juni 2026

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Kerugian Korban Mandiri Taspen Purwokerto Tembus Rp18,6 M, Eks Penyidik TPPU: Ini Indikasi Pencucian Uang

Selanjutnya

Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Sungai Kramacenil Jeruklegi

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Sungai Kramacenil Jeruklegi

Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Sungai Kramacenil Jeruklegi

Minggu, 7 Juni 2026

Gedung Soetedja, Koperasi Desa MerahPutih, dan Ketakutan Kita pada Ruang yang Tidak Menghasilkan

NEGARA PARA PAMAN

Minggu, 7 Juni 2026

Kerugian Korban Mandiri Taspen Purwokerto Tembus Rp18,6 M, Eks Penyidik TPPU: Ini Indikasi Pencucian Uang

Kerugian Korban Mandiri Taspen Purwokerto Tembus Rp18,6 M, Eks Penyidik TPPU: Ini Indikasi Pencucian Uang

Minggu, 7 Juni 2026

Selanjutnya
Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Sungai Kramacenil Jeruklegi

Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Sungai Kramacenil Jeruklegi

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com