BANYUMAS – Biasanya mahasiswa magang hanya duduk di belakang meja atau mengurus arsip. Tapi suasana berbeda terlihat di kantor Bawaslu Kabupaten Banyumas, Selasa (12/5/2026). Puluhan mahasiswa justru dilempar ke “pentas panas” persidangan sengketa Pemilu.
Mereka mengikuti program bernama “Kelas Pemilu”. Bukan sekadar teori, para peserta diminta memerankan berbagai peran: mulai dari pemohon, termohon, hingga majelis hakim (adjudikasi) dan mediator.
Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Banyumas, Suharso Agung Basuki, mengatakan pengalaman praktis ini penting bagi calon sarjana.
“Kami ingin adik-adik mahasiswa tidak hanya jadi penonton demokrasi. Lewat simulasi ini, kalian bisa merasakan langsung bagaimana beratnya menjaga keadilan di meja sidang,” ujar Agung dalam sambutannya.
Dua Jalur Penyelesaian yang Dipelajari
Kepala Subbagian Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Banyumas, Fahmi Nur Wicaksono, menjelaskan ada dua jalur utama yang disimulasikan:
1. Mediasi – jalur musyawarah untuk mencari kesepakatan damai.
2. Adjudikasi – jalur persidangan formal jika mediasi gagal, lengkap dengan pemeriksaan bukti dan saksi.
“Mahasiswa kami libatkan total. Mereka belajar bagaimana proses hukum berjalan, bukan sekadar teori di kampus,” ujar Fahmi.
Apresiasi dari KPU Banyumas
Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari KPU Banyumas. Anggota KPU Banyumas Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat, Sufi Sahlan Ramadhan, berharap simulasi ini membuka wawasan mahasiswa bahwa demokrasi memiliki aturan main yang tegas.
“Setiap keberatan dalam Pemilu itu ada salurannya. Bukan cuma ramai di media sosial, tapi harus dibuktikan secara hukum,” kata Sufi.
Sementara itu, Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Banyumas, Sidiq Fathoni, menambahkan bahwa skenario simulasi dibuat semirip mungkin dengan kondisi asli.
“Tujuannya agar mental mahasiswa teruji. Urusan Pemilu itu bukan cuma soal coblosan di TPS, tapi juga soal menjaga keadilan lewat jalur hukum yang benar,” tegas Sidiq.
Para mahasiswa pun mengaku mendapat pengalaman baru yang jarang mereka temui di bangku kuliah. Semoga program seperti ini bisa terus berlanjut dan menginspirasi daerah lain.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra







