Langit malam Desa Pangebatan seakan ikut bernyanyi. Sabtu, 19 September 2026, pukul 19.30 hingga 23.00 WIB, lapangan desa itu menjelma panggung raksasa yang dibanjiri ribuan pasang mata. Mereka datang bukan sekadar menonton, melainkan menyaksikan sebuah perayaan: Akbar Jerami Fest 5.
Di tengah hamparan cahaya dan dentum musik, karya kolosal Cowongan hadir bukan sebagai pertunjukan biasa. Ia menjelma napas budaya yang berkolaborasi dengan musik modern, tampil epik, memukau, dan meninggalkan decak kagum yang tak sempat surut hingga tabir penutup.
Yang menarik, jamas perkakas tani (Tradisi membersihkan alat pertanian) dihadirkan sebagai elemen baru dalam pertunjukan. Sentuhan ini bukan sekadar estetika, melainkan bahasa simbolik tentang kerja, tanah, dan kehidupan petani.
Ratusan pemain yang terlibat tampil maksimal di bawah komando sutradara sekaligus ketua panitia, Yono BOC. Sementara itu, Titut Cowongsewu sebagai tokoh utama menjadi pusat sorotan, magnet yang menarik mata penonton sepanjang pagelaran.
Semangat pertunjukan dibuka oleh sentuhan musik modern dari Band Ujung Kuku dan Rodjie Band. Alunan mereka membakar awal acara, sebelum tarian dan teaterikal para remaja setempat bersama Cowongsewu menutup pertunjukan dengan kesempurnaan yang nyaris tanpa cela.

Bukan hanya panggung yang hidup. Ratusan pelaku UMKM pun merasakan denyut ekonomi dari gelaran ini — sebuah bukti bahwa seni dan budaya mampu menghidupi, bukan hanya menghibur.
Namun, di balik gemerlap panggung, tersimpan pesan yang lebih dalam: meregenerasi semangat bertani bagi kaum muda, menghargai, dan mensyukuri kerja keras petani yang selama ini memberikan kecukupan pangan.
“Semoga Jerami Fest terus berdampak untuk masyarakat,” Yono BOC, selaku panitia.
Malam itu, Lapangan Pangebatan bukan sekadar tempat berkumpul. Ia menjadi ruang ingatan kolektif — tempat budaya, tanah, dan manusia berjumpa dalam satu tarikan napas.
Angga Saputra








