Angga Saputra
Pimred indiebanyumas
BANYUMAS. Di tengah riuh rendah panggung nasional yang kerap memperdebatkan toleransi sebagai sesuatu yang rumit dan penuh kecurigaan, Banyumas berjalan dengan langkah tenang. Tidak banyak menggurui, apalagi membuat seremoni toleransi berbiaya besar.
Di sini, harmoni justru tumbuh di gang-gang sempit sekitar klenteng tua, di balik asap dupa yang bercampur aroma kopi dan gorengan pedagang kaki lima.
Pelajaran berharga itu bisa kita temukan di Klenteng Boen Tek Bio di Kota Lama Banyumas dan Klenteng Hok Tek Bio di Sokaraja. Bukan sekadar bangunan cagar budaya, kedua klenteng ini adalah bukti hidup bahwa akulturasi tak perlu dirancang di ruang rapat. Ia lahir dari interaksi sosial yang alami, puluhan bahkan ratusan tahun lamanya.
Yang menarik, klenteng-klenteng di Banyumas tidak eksklusif. Saat perayaan Imlek atau Cap Go Meh, warga sekitar—yang mayoritas Muslim dan berbudaya Jawa ngapak—justru turun tangan. Ada yang membantu parkir, menjaga keamanan, atau sekadar ikut menikmati pertunjukan barongsai. Bukan karena diminta, tapi karena sudah terbiasa.
Ini bukan toleransi instan yang difoto lalu diunggah ke media sosial. Ini adalah kebiasaan hidup bersama yang diwariskan turun-temurun.
Di Boen Tek Bio, bahkan ada sebuah altar bernama “Mbah Kuntjung” yang menyimpan keris pusaka Jawa. Tradisi jamasan (pencucian) pusaka dilakukan menjelang Imlek. Di situlah harmoni tidak sekadar slogan: keris sebagai simbol budaya Jawa dirawat dalam ruang ibadah Tri Dharma. Tidak ada yang mempertanyakan, tidak ada yang merasa terganggu. Karena di Banyumas, perbedaan bukanlah ancaman.

Sokaraja dan Posko Lintas Agama
Tak kalah menarik, Klenteng Hok Tek Bio di Sokaraja bahkan pernah menjadi bagian dari Posko Mudik Lintas Agama pada tahun 2013. Bersama lembaga keagamaan lain, klenteng ini ikut melayani pemudik Lebaran. Sebuah pemandangan yang mungkin akan membuat sebagian orang di luar sana mengernyitkan dahi. Tapi itulah Banyumas: cair, egaliter, dan tanpa beban.
Klenteng ini berdiri sejak sekitar tahun 1826, jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia tumbuh di jalur perdagangan yang ramai, menjadi titik temu berbagai etnis. Hingga kini, bangunannya dengan ornamen khas Tionghoa berdiri berdampingan dengan keseharian masyarakat ngapak yang terkenal blak-blakan dan lugas.
Polarisasi vs Realitas Sosial
Kita hidup di era ketika algoritma media sosial lebih suka memperbesar perbedaan daripada merayakan persamaan. Satu insiden kecil di ujung pulau bisa menjadi konsumsi nasional yang memanas. Namun di Banyumas, klenteng-klenteng tua itu seperti bisikkan lembut bahwa keberagaman tidak perlu dipertengkarkan.
Kerukunan di Banyumas tidak dibangun dengan monumen megah atau piagam deklarasi. Ia dibangun dari meja-meja panjang saat kenduri, dari sapaan “nggih” dan “ora”, dari kebiasaan numpang sholat di musala dekat klenteng, atau sekadar beli gorengan abang yang jualan di depan klenteng.
Apa yang bisa kita petik? Bahwa harmoni sosial sejatinya tidak membutuhkan teori rumit. Ia hanya butuh ruang untuk bergaul, kesabaran untuk saling memahami, dan keberanian untuk menganggap perbedaan sebagai sesuatu yang biasa—bukan luar biasa.
Klenteng-klenteng di Banyumas mengajarkan sebuah kalimat sederhana namun dalam: harmoni tidak harus ribut. Ia justru paling kuat ketika ia diam, bekerja, dan dirasakan dalam keseharian.
Karena wajah harmoni Banyumas tidak tercermin dari spanduk toleransi yang terpasang di jalan protokol. Wajahnya ada di tawaran kopi untuk penjaga klenteng, di keris yang dimandikan menjelang Imlek, dan di klenteng tua yang berdiri kokoh tanpa perlu meminta izin untuk diakui.
Banyumas sudah membuktikan. Sekarang giliran daerah lain yang mau belajar.








