Jauh sebelum Slipknot bikin geger dengan topeng-topengnya, dunia musik sudah lebih dulu punya Kiss. Band rock Amerika ini muncul di awal 1970-an dengan wajah dicat warna-warni, rambut acak-acakan, dan aksi panggung yang megah. Tapi jangan salah—di balik semua itu, Kiss punya musikalitas yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Kiss adalah salah satu grup rock paling berpengaruh dan terlaris dari era 1970-an hingga awal 2000-an. Mereka dikenal lewat penampilan live teatrikal: kembang api, efek visual mengejutkan, kostum mewah, dan riasan wajah yang ikonik.
Band ini dibentuk pada 1973. Pada 2023, saat mendekati akhir tur terakhirnya—End of the Road World Tour—Kiss telah merilis puluhan album dengan lebih dari 100 juta kopi terjual di seluruh dunia. Formasi paling lama bertahan digawangi bassist sekaligus vokalis Gene Simmons dan gitaris ritme sekaligus vokalis Paul Stanley.
Dari Wicked Lester ke Kiss
Pada 1972, Simmons dan Stanley masih anggota Wicked Lester, band rock and roll asal Queens, New York. Meski cukup diperhitungkan di kancah musik New York City, keduanya hengkang setelah album debut mereka ditolak Epic Records. Mereka menilai arah kreatif band tak lagi sesuai.
Duo ini lalu mencari drummer dan gitaris untuk grup baru dengan suara hard rock yang lebih seragam. Pada 1972, Simmons melihat iklan di majalah Rolling Stone yang dipasang drummer berpengalaman Peter Criss. Criss mengikuti audisi dan langsung bergabung. Mereka berlatih sebagai trio, tapi merasa butuh suara yang lebih penuh.
Stanley pun memasang iklan di The Village Voice untuk mencari gitaris utama. Pada Januari 1973, Ace Frehley bergabung. Tak lama kemudian, Stanley mencetuskan nama Kiss, dan Frehley menggambar logo ikonik band—nama KISS dengan “SS” menyerupai dua kilat.
Logo itu belakangan dilarang di Jerman karena kemiripannya dengan simbol organisasi paramiliter Partai Nazi, SS.

Pertunjukan Pertama dan Lahirnya Persona
Kiss menggelar pertunjukan pertama pada 30 Januari 1973 di Popcorn Club (kemudian Conventry) di Sunnyside, Queens, dengan penonton yang sangat sedikit.
Awalnya, mereka mencoba mengadopsi penampilan androgini glam-punk ala New York Dolls. Tapi mereka menilai peniruan itu kurang orisinal dan jujur. Sebagai gantinya, Kiss mengenakan riasan badut hitam-putih yang terinspirasi Kabuki.
Setiap anggota mengembangkan persona berbeda: Simmons menjadi Demon, Stanley menjadi Starchild, Frehley menjadi Space Ace (atau Spaceman), dan Criss menjadi Catman.
Pada Agustus tahun itu, dalam pertunjukan di Hotel Diplomat di Times Square, Kiss menarik perhatian Bill Aucoin, yang kemudian menjadi manajer mereka. Aucoin membelikan band mesin kabut, lift drum, dan kostum spandeks. Ia juga membantu Kiss menandatangani kontrak dengan Casablanca Records yang baru berdiri—label yang memproduksi album debut Kiss pada Februari 1974.
Album Awal Sepi, Panggung Live Membara
Penjualan album debut Kiss buruk. Tapi pertunjukan langsung mereka sangat energik. Selain panggung drum yang melayang dan gerakan koreografi, Simmons belajar menyemburkan api dan mulai mengeluarkan darah palsu—aksi yang kemudian jadi bagian utama penampilan Kiss.
Grup ini merilis dua album tambahan, Hotter Than Hell (1974) dan Dressed to Kill (1975). Keduanya juga tidak terjual baik, memperburuk krisis keuangan Casablanca Records.
Alih-alih membiayai album studio lain, label memutuskan merilis album live untuk menangkap energi panggung Kiss. Album ganda berjudul Alive! (1975) terbukti jadi terobosan: meraih rekaman emas pertama mereka dan hit top 40 lewat “Rock and Roll All Nite”. Lagu itu sebenarnya sudah muncul di Dressed to Kill, tapi versi live dengan solo gitar jadi yang paling dikenal.
Popularitas Kiss meroket setelah Alive!. Pada 1976 mereka merilis Destroyer, salah satu album studio terlarisnya. Juni 1977, Kiss dinobatkan sebagai band nomor satu di Amerika Serikat menurut jajak pendapat Gallup nasional. Oktober tahun yang sama, mereka merilis Alive II, album ganda live dengan materi studio baru di sisi keempatnya. Pada 1978, setiap anggota merilis album solo secara bersamaan.

Pergantian Personel dan Masa Tanpa Riasan
Setelah merilis Dynasty (1979), ketegangan antaranggota memuncak. Criss sangat frustrasi dan mulai menyabotase pertunjukan langsung dengan memainkan drum dalam tempo yang salah. Ia dipecat pada 1980 dan digantikan Eric Carr, yang kemudian menjadi Fox.
Pada 1982, setelah kegagalan komersial album konsep Music from “The Elder” (1981), Frehley meninggalkan band. Ia digantikan Vinnie Vincent, sang Ankh Warrior, yang juga kemudian hengkang dan digantikan Mark St. John pada 1984. St. John digantikan Bruce Kulick pada tahun berikutnya.
Pada 1983, merasa sudah waktunya berubah, Kiss meninggalkan riasan wajah khas mereka. Selama periode “tanpa topeng” ini, band merilis serangkaian album sukses secara komersial, puncaknya Animalize (1984) dan Crazy Nights (1987).
Setelah tampil di MTV Unplugged, formasi asli Kiss bersatu kembali—lengkap dengan riasan wajah—untuk tur Alive Worldwide yang sangat sukses pada 1996.
Grup yang telah berdamai ini melakukan sejumlah tur pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Criss dan Frehley akhirnya meninggalkan Kiss lagi, masing-masing pada 2001 dan 2002. Eric Singer mengambil alih posisi drummer, dan Tommy Thayer jadi gitaris utama.
Formasi Simmons, Stanley, Singer, dan Thayer bertahan selama dua dekade berikutnya, ditandai konser di arena-arena seluruh dunia. Tur terakhir mereka, End of the Road World Tour, dimulai pada 2019 dan dijadwalkan berakhir pada akhir 2023.
Pada Oktober 2025, Frehley meninggal dunia setelah jatuh dari tangga di studio rumahnya di New Jersey. Ia berusia 74 tahun.
Penghargaan
Pada 2014, Kiss dengan formasi aslinya dilantik menjadi anggota Rock and Roll Hall of Fame. Band ini kemudian dinobatkan sebagai penerima penghargaan Kennedy Center pada 2025.
Angga Saputra






