Nisa Roiyasa
Pemerhati Budaya dan Akademisi Unsoed
Ada satu adegan dari Cibun yang sulit saya lupakan.
Sore itu Rianto, maestro Lengger Lanang Banyumas, sedang menari di Rumah Cibun. Ia menari diiringi gamelan masyarakat setempat. Di tengah tarian, Pak Kedi, seorang lelaki berusia sekitar 70-an tahun, tiba-tiba masuk dan ikut menari.
Tidak lama kemudian Nanang, anak kelas II sekolah dasar, menyusul.
Mereka mengambil peran sebagai badut.
Seorang maestro, seorang lelaki tua, dan seorang anak kecil menari dalam satu ruang.
Tidak ada yang merencanakan adegan itu. Tidak ada koreografi khusus untuk mempertemukan tiga generasi tersebut.
Tetapi bagi saya, justru di situlah kebudayaan memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.
Ia tidak selalu hadir di panggung yang disiapkan. Ia kadang muncul ketika tubuh seorang anak secara spontan mengikuti tubuh orang dewasa; ketika gerak yang hampir terlupakan tiba-tiba ditiru kembali; ketika sebuah pengetahuan berpindah tanpa disadari dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Beberapa jam kemudian, tiga anak berdiri di atas batu di halaman Rumah Cibun.
Mereka melantunkan Macapat Babad Pasir Luhur.
Aditia Rifqi, 10 tahun, cucu Mbah Sikun. Dwi Nanang Setiawan, 8 tahun. Dan Ismey Jumiati, 12 tahun.
Suara mereka belum sempurna.
Tetapi mungkin memang tidak perlu sempurna.
Yang penting, suara itu masih ada.
Dan dari sana saya kembali pada sebuah pertanyaan yang sejak beberapa tahun terakhir terus mengikuti perjalanan saya di Cibun:
Apa sebenarnya yang kita selamatkan ketika kita mengatakan bahwa kita sedang melestarikan budaya?

Apakah kita sedang menyelamatkan sebuah teks?
Sebuah pertunjukan?
Sebuah tradisi?
Atau sebenarnya kita sedang berusaha menyelamatkan kemampuan sebuah masyarakat untuk mengingat siapa dirinya?
Budaya yang Hampir Kehilangan Pewaris
Saya pertama kali mengenal Cibun pada 2019.
Saya bukan warga Cibun. Saya berasal dari Kabupaten Tegal dan bekerja sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman. Saya datang sebagai orang luar.
Tetapi kemudian saya menemukan sesuatu yang membuat saya tidak bisa begitu saja pulang.
Di Cibun masih ada tradisi Maca Babad Pasir Luhur.
Masalahnya, hampir tidak ada lagi orang yang mewarisinya.
Salah satu pemaca yang tersisa adalah Mbah Sikun.
Ia sudah tua.
Dan tradisi itu tidak memiliki cukup banyak penerus.
Saya kemudian menyadari bahwa persoalannya jauh lebih rumit daripada sekadar mengatakan bahwa “anak-anak tidak tertarik budaya”.
Sebelum anak-anak bisa diajak membaca babad, kami bahkan harus mencari tahu: teks apa yang sebenarnya masih tersisa?
Naskah Babad Pasir Luhur yang pernah hidup di masyarakat Cibun sudah banyak yang dibuang, hilang, atau terserak. Yang tersisa antara lain potongan teks beraksara Latin dan sebuah buku tulisan tangan Mbah Sikun dalam aksara Jawa.
Saya mulai mencari jejak.
Saya membaca literatur, berdiskusi dengan Prof. Sugeng Priyadi, menelusuri berbagai versi teks, dan mencari penerbit yang pernah menerbitkan Babad Pasir Luhur.
Proses itu membuka kenyataan yang lebih luas: teks babad sendiri tidak pernah benar-benar statis.
Ia berpindah dari tangan ke tangan, disalin, ditafsirkan, dan direproduksi dalam konteks yang berbeda.
Maka saya semakin percaya bahwa pelestarian budaya tidak berarti mengembalikan masa lalu persis seperti semula.
Melestarikan berarti memberi kesempatan kepada sebuah pengetahuan untuk terus hidup dalam zaman yang baru.
Dari Mbah Sikun kepada Anak-anak
Dalam proses awal revitalisasi, saya tidak berjalan sendiri.
Ada dalang jemblung Agung Wicaksana. Ada Iang Kie Bae yang membantu melatih anak-anak untuk Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah. Ada kolega saya di kampus, Dr. Chusni Hadiati dan Enni Nur Aeni, M.A.
Kami mulai dari kelompok pemaca dewasa.
Kemudian muncul pertanyaan yang lebih penting:
Kalau tradisi ini ingin benar-benar hidup, kepada siapa ia akan diwariskan?
Jawabannya adalah anak-anak.
Pada 2022, Mbah Sikun meninggal.
Ada kekhawatiran bahwa kepergiannya akan menjadi akhir dari satu mata rantai pengetahuan.
Namun ternyata tidak.
Pada tahun yang sama, anak-anak Cibun tampil dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah di Bandungan, Kabupaten Semarang. Mereka membawakan kisah Raden Kamandaka dan Dewi Ciptarasa melalui maca babad dan jemblungan, tradisi akapela yang dikenal dalam kebudayaan Banyumas.
Bagi saya, ini bukan sekadar keberhasilan sebuah program.
Ini adalah perubahan posisi.
Anak-anak tidak lagi menjadi penonton kebudayaan.
Mereka mulai menjadi pelaku.
Dan di sinilah kita perlu mengubah cara pandang terhadap pewarisan budaya.
Generasi muda bukan sekadar kelompok yang harus “diajari budaya”. Mereka harus diberi ruang untuk menjadi pewaris dan pencipta ulang.
Sebuah tradisi yang hanya dapat dilakukan oleh generasi tua sebenarnya sudah berada dalam situasi rentan, meskipun secara kasatmata tradisi tersebut masih terlihat hidup.
Tradisi baru benar-benar memiliki masa depan ketika generasi berikutnya mampu mengambilnya, mengolahnya, dan memberinya makna baru.
Babad yang Tidak Tinggal di Buku
Ada alasan lain mengapa Babad Pasir Luhur penting bagi Cibun.
Ia ternyata tidak hanya tinggal dalam teks.
Ia masih berkelindan dengan kehidupan masyarakat.
Salah satunya adalah praktik marak, cara menangkap ikan dengan membendung atau mengalihkan aliran sungai.
Dalam kisah Babad Pasir Luhur terdapat cerita tentang aktivitas menangkap ikan di Sungai Logawa. Dari situ muncul kisah pertemuan Kamandaka dan Dewi Ciptarasa.
Di Cibun, praktik menangkap ikan itu masih dikenal.
Dan pada Twilight Dinner #3 – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen, ikan hasil marak hadir di meja makan.
Di titik ini saya merasa bahwa istilah “warisan budaya takbenda” sering kali terlalu mudah kita pahami sebagai sesuatu yang tidak berwujud.
Padahal sesuatu yang tidak berwujud selalu membutuhkan dunia material untuk hidup.
Sebuah tembang membutuhkan suara.
Sebuah cerita membutuhkan tubuh manusia.
Sebuah tradisi pangan membutuhkan tanah, air, tumbuhan, hewan, dan pengetahuan ekologis.
Sebuah babad membutuhkan lanskap yang membuat tempat-tempat di dalam ceritanya dapat dikenali.
Karena itu, ketika sungai berubah, persoalannya bukan hanya persoalan lingkungan.
Ia juga persoalan kebudayaan.
Ketika Alam Mulai Hilang
Inilah kegelisahan yang semakin kuat saya rasakan di Cibun.
Sekitar dua bulan sebelum Twilight Dinner, Rianto masih melihat sebuah pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun.
Ketika ia kembali pada 8 Agustus, pohon itu telah ditebang.
Yang tersisa hanya potongan kayu.
Masyarakat mencatat bahwa dalam waktu kurang dari dua tahun sedikitnya empat pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun telah ditebang berkaitan dengan persiapan pembangunan jembatan.
Saya tidak ingin menyederhanakan persoalan ini menjadi pertentangan antara pembangunan dan kebudayaan.
Masyarakat membutuhkan infrastruktur.
Jembatan dibutuhkan. Jalan dibutuhkan. Akses dibutuhkan.
Pertanyaannya adalah:
pembangunan seperti apa yang memungkinkan sebuah tempat tetap menjadi dirinya sendiri?
Ketika kita kehilangan pohon tua, kita tidak hanya kehilangan kayu.
Kita kehilangan lanskap.
Ketika sungai berubah, kita tidak hanya kehilangan air.
Kita kehilangan pengetahuan tentang bagaimana masyarakat berhubungan dengan sungai.
Dan ketika lanskap budaya hilang, kita mungkin masih memiliki teks Babad Pasir Luhur, tetapi perlahan-lahan kita kehilangan dunia yang membuat teks itu bermakna.
Sthanaluhur Indonesia dan Gagasan tentang Ruang Perjumpaan
Di titik inilah saya melihat pentingnya kehadiran Sthanaluhur Indonesia, yang diketuai Era Prima Nugraha.
Twilight Dinner—atau Nyore Sandĕkala—lahir bukan sekadar sebagai konsep makan bersama, tetapi sebagai upaya menghadirkan ruang perjumpaan antara budaya, masyarakat, lingkungan, pengetahuan, dan berbagai komunitas.
Era dan Sthanaluhur Indonesia menjadi salah satu inisiator yang mendorong gagasan tersebut hadir di Cibun.
Bagi saya, peran ini penting karena pelestarian kebudayaan sering kali gagal bukan karena tidak ada tradisi, melainkan karena tidak tersedia ruang untuk mempertemukan berbagai pengetahuan yang tersebar.

Sthanaluhur membawa perspektif pengembangan masyarakat dan kebudayaan. Rumah Cibun membawa ruang, masyarakat, dan perjalanan revitalisasi tradisi yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Para seniman membawa tubuh dan ekspresi. Akademisi membawa pengetahuan dan refleksi kritis. Pegiat lingkungan membawa kegelisahan ekologis. Jurnalis membawa cerita ke ruang publik.
Dari pertemuan itulah Nyore Sandĕkala menjadi lebih dari sebuah acara.
Ia menjadi ruang interaksi pengetahuan.
Dan mungkin inilah bentuk baru pelestarian budaya yang kita butuhkan.
Bukan lagi pelestarian yang bekerja sendirian di balik pagar institusi, melainkan pelestarian yang membangun jejaring.
Bukan hanya “menyelamatkan tradisi”, tetapi menciptakan kondisi sosial agar tradisi dapat terus memiliki arti.
Pada Nyore Sandĕkala 2026, salah satu hal yang dilakukan Era Prima Nugraha adalah menjelaskan hubungan antara sajian pangan dan narasi Babad Pasir Luhur. Ikan hasil marak, misalnya, bukan hanya makanan. Ia menjadi pintu masuk untuk membaca kembali hubungan antara cerita, sungai, cara hidup, dan pengetahuan ekologis masyarakat.
Di situlah saya melihat kekuatan pendekatan Sthanaluhur.
Cerita tidak berhenti sebagai cerita. Ia dikembalikan kepada kehidupan.
Dari Pelestarian Menuju Gerakan
Karena itu saya tidak lagi ingin menyebut apa yang kami lakukan di Cibun semata-mata sebagai “pelestarian budaya”.
Pelestarian terdengar seperti sesuatu yang dikerjakan untuk menjaga benda agar tidak rusak.
Sedangkan yang kami hadapi di Cibun adalah sesuatu yang hidup.
Ia membutuhkan manusia.
Ia membutuhkan ruang.
Ia membutuhkan regenerasi.
Ia membutuhkan alam.
Ia membutuhkan pendidikan.
Ia membutuhkan kebijakan publik.
Dan ia membutuhkan jaringan.
Rumah Cibun kemudian saya bayangkan bukan hanya sebagai sebuah bangunan, tetapi sebagai sebuah ekosistem kecil.
Tempat masyarakat bertemu dengan seniman.
Tempat akademisi bertemu dengan pengetahuan lokal.
Tempat anak-anak bertemu dengan cerita leluhur.
Tempat tradisi bertemu teknologi.
Tempat kebudayaan bertemu persoalan lingkungan.
Dan tempat masa lalu bertemu pertanyaan tentang masa depan.
Dalam konteks itulah kolaborasi dengan Sthanaluhur Indonesia menjadi penting.
Rumah Cibun menyediakan akar. Sthanaluhur membantu membuka ruang perjumpaan. Dan Twilight Dinner menjadi salah satu ruang tempat berbagai unsur itu bertemu.
Nyore Sandĕkala #3 yang berlangsung pada 8 Agustus 2026 mempertemukan masyarakat Cibun dengan seniman, akademisi, pegiat lingkungan, jurnalis, pelestari babad, mahasiswa, dan komunitas dari berbagai daerah. Pemberitaan mengenai kegiatan tersebut juga mencatat keterlibatan Era Prima Nugraha dari Sthanaluhur Indonesia bersama berbagai unsur lintas komunitas.
Bagi saya, keberagaman itu bukan sekadar daftar peserta.
Ia adalah model.
Model tentang bagaimana sebuah komunitas kecil dapat menjadi titik temu bagi banyak pengetahuan.
Habis Ini Kita Mau Berbuat Apa?
Ada satu pertanyaan dari Tedjo, dari Perkumpulan Hidora Banyuwangi, yang menurut saya justru menjadi inti malam itu:
“Yang paling penting, habis ini kita mau melakukan apa? Apakah hanya puas di diskusi, atau mau berbuat sesuatu?”
Pertanyaan itu penting karena terlalu banyak kebudayaan mati bukan karena tidak ada orang yang mencintainya, tetapi karena terlalu banyak orang berhenti pada kekaguman.
Kita mengagumi tradisi.
Kita memotretnya.
Kita menuliskannya.
Kita mendiskusikannya.
Lalu pulang.
Sementara tradisi tetap kehilangan ruang hidupnya.
Malam itu kami mencoba melakukan sesuatu yang sederhana.
Sebelum pulang, peserta menandatangani Prasasti Cibun sebagai komitmen untuk turut menjaga dan mengembangkan tradisi, alam, serta literasi ilmu pengetahuan dan teknologi di Kampung Cibun. Komitmen tersebut menjadi penanda bahwa pertemuan itu diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Babad yang Menemukan Pewaris
Saya kembali kepada tiga anak yang berdiri di atas batu malam itu.
Aditia.
Nanang.
Ismey.
Saya membayangkan Mbah Sikun jika masih ada.
Mungkin beliau akan tersenyum melihat anak-anak itu mencoba melantunkan bait-bait yang dahulu ia simpan.
Mungkin juga beliau akan menemukan banyak kekurangan.
Dan memang begitulah seharusnya.
Karena pewarisan budaya tidak pernah berjalan sempurna.
Ada kesalahan.
Ada perubahan.
Ada penyesuaian.
Ada interpretasi baru.
Namun justru melalui proses itulah tradisi memiliki kemungkinan untuk bertahan.
Mungkin kita tidak perlu terlalu takut ketika anak-anak mengubah cara mereka melantunkan babad.
Yang perlu kita takutkan adalah ketika tidak ada lagi anak yang mau melantunkannya.
Kita tidak perlu takut ketika sebuah tradisi menemukan bentuk baru.
Yang perlu kita takutkan adalah ketika tradisi itu tidak lagi memiliki ruang untuk hidup.
Dan kita tidak perlu hanya bertanya bagaimana menjaga masa lalu.
Kita perlu bertanya:
masa depan seperti apa yang memungkinkan masa lalu tetap mempunyai tempat?
Babad Pasir Luhur telah melewati perjalanan yang panjang—dari manuskrip, penyalinan, penelitian, pelantunan, hingga hampir kehilangan pewarisnya.
Kini ia berada di suara anak-anak Cibun.
Di sungai yang masih mengalir.
Di makanan yang masih disajikan.
Di gamelan yang masih dimainkan.
Di tubuh penari yang masih bergerak.
Di tangan orang-orang yang memilih untuk datang, duduk bersama, berbicara, dan kemudian berkomitmen.
Dan di lanskap yang masih berusaha bertahan.
Karena itu, bagi saya, menyelamatkan Babad Pasir Luhur bukan sekadar menyelamatkan sebuah cerita.
Kita sedang berusaha menyelamatkan sebuah ekosistem ingatan.
Sthanaluhur Indonesia, Rumah Cibun, masyarakat Cibun, para seniman, akademisi, pegiat lingkungan, dan berbagai komunitas yang hadir mungkin datang dari titik yang berbeda. Tetapi pertemuan itu menunjukkan satu hal:
sebuah tradisi hanya akan memiliki masa depan jika cukup banyak orang bersedia ikut menciptakan ruang untuk masa depannya.
Malam itu, anak-anak kembali membaca Babad.
Suara mereka belum sempurna.
Tetapi suara itu ada.
Di sebuah dusun kecil di Banyumas, suara leluhur yang nyaris hilang ternyata belum padam.
Kini tugas kita bukan sekadar memastikan suara itu terus terdengar.
Tugas kita adalah memastikan tempat yang membuat suara itu bermakna tidak ikut hilang.







