INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Geguritan Banyumas: Ramai di Panggung, Sepi Dibicarakan

Geguritan Banyumas: Ramai di Panggung, Sepi Dibicarakan
Minggu, 18 Oktober 2026

Nanang Anna Noor
Penyair, Aktor, dan Jurnalis

Ada pemandangan yang sudah cukup akrab di Banyumas. Geguritan dibacakan dengan suara bergetar, mimik penuh penghayatan, sesekali tangan bergerak dramatis. Penonton menyimak, tepuk tangan menggema, panitia tersenyum puas. Foto-foto diunggah ke media sosial. Acara pun dinyatakan sukses.

Tetapi setelah panggung dibongkar, mikrofon dimatikan, dan konsumsi dibereskan, geguritan kembali masuk lemari kebudayaan. Menunggu undangan berikutnya.

Geguritannya ramai di panggung, tetapi apakah ramai juga dibicarakan?

Pertanyaan ini mungkin agak nakal. Namun, sesekali dunia sastra memang perlu diganggu dengan pertanyaan yang tidak selalu menyenangkan.

Sebab kita tampaknya cukup rajin menggelar acara geguritan, tetapi belum tentu sama rajinnya membicarakan mutu karya yang dibacakan. Kita sibuk menyiapkan panggung, mencari peserta, menyusun susunan acara, dan membagikan sertifikat. Soal isi geguritan, kekuatan gagasan, kecakapan mengolah bahasa, sampai keberanian menyampaikan kritik, kadang justru menjadi urusan nomor sekian.

Pokoknya tampil dulu. Soal bagus atau tidak, nanti tepuk tangan yang menjawab.

Padahal, tepuk tangan bukan timbangan sastra. Penonton bisa bertepuk tangan karena pembacaan yang memukau, karena menghormati orang yang tampil, atau sekadar mengikuti suasana. Tidak semua tepuk tangan berarti karya yang dibacakan memang kuat. Bisa jadi yang hebat pembacanya, sementara puisinya masih perlu diajak duduk dan diperiksa kembali.

Jangan-jangan kita terlalu sibuk merayakan orang yang membaca geguritan, sampai lupa mengurus geguritannya sendiri.

Ngapak Jangan Cuma Jadi Kostum Acara

Banyumas memiliki modal kebudayaan yang tidak sedikit. Bahasa Ngapak punya watak khas: lugas, egaliter, spontan, jenaka, dan sesekali terasa nyelekit. Ia bisa menjadi kendaraan untuk menyampaikan kegelisahan, menyindir kekuasaan, mengolok kemunafikan, atau sekadar menertawakan hidup yang makin hari makin rumit.

Tetapi, apakah kekayaan itu sudah benar-benar dimanfaatkan dalam geguritan kita?

Jangan sampai bahasa Ngapak hanya dipakai sebagai kostum kebudayaan. Dikenakan ketika acara berlangsung supaya terasa Banyumasan, kemudian dilepas lagi setelah lampu panggung padam.

Ngapak tidak harus selalu berkisah tentang sawah, desa, embok, simbah, kenangan masa kecil, atau romantisme kehidupan zaman dahulu. Semua itu sah menjadi bahan geguritan. Namun, Banyumas hari ini juga punya cerita lain: jalan rusak, kesulitan ekonomi, lingkungan yang terancam, anak muda yang gamang, politik yang penuh manuver, hingga warga yang sibuk bertahan hidup di tengah harga kebutuhan yang terus bergerak.

Mengapa semua itu tidak lebih sering masuk ke dalam geguritan?

Bukankah bahasa daerah juga berhak membicarakan masa kini, bukan hanya mengenang masa lalu?

Kalau zaman sudah berlari menggunakan kecerdasan buatan, masa geguritan kita masih sibuk mengurus kenangan tanpa pernah menengok keadaan?

Bukan berarti geguritan harus selalu memuat kritik sosial atau menjadi corong persoalan politik. Karya sastra punya kebebasan. Tetapi kebebasan itu semestinya juga membuka kemungkinan baru, bukan membuat kita nyaman mengulang tema dan formula yang sama.

Guyon Boleh, Kritik Jangan Dibonsai

Ada satu kekuatan Banyumas yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan: humor.

Orang Banyumas punya tradisi guyon yang bisa membuat persoalan berat terasa lebih dekat. Kritik tidak harus selalu disampaikan dengan wajah tegang, suara berat, dan pilihan kata yang membuat pendengar merasa sedang mengikuti seminar tujuh SKS.

Geguritan boleh lucu. Boleh nakal. Boleh menyindir dengan halus, bahkan menohok sampai pembacanya merasa seperti sedang bercermin.

Kadang-kadang, empat bait geguritan yang cerdas lebih mengganggu pikiran daripada pidato satu jam yang isinya hanya memuji keadaan.

Sayangnya, humor sering dianggap kurang serius dalam sastra. Padahal, membuat orang tertawa sambil berpikir bukan pekerjaan ringan. Apalagi kalau tawa itu perlahan berubah menjadi kesadaran bahwa yang sedang ditertawakan ternyata diri kita sendiri.

Tentu, nakal bukan berarti asal mengejek. Satire membutuhkan kecerdasan, kepekaan, dan ketepatan sasaran. Kalau hanya mengandalkan kata-kata kasar, itu bukan keberanian sastra. Itu mungkin sekadar orang marah yang kebetulan sedang memegang mikrofon.

Karena itu, geguritan Ngapak perlu diberi ruang untuk berkembang. Tidak harus selalu sopan menurut selera seremoni, tetapi juga tidak kehilangan kedalaman hanya demi mencari tawa penonton.

Jangan Takut Karyanya Dikritik

Di sinilah pentingnya kurasi dan kritik sastra.

Kurasi bukan pekerjaan menjadi hakim yang menentukan siapa penyair paling hebat di Banyumas. Kurasi adalah upaya membaca karya secara sungguh-sungguh, memilih dengan pertimbangan yang jelas, memberi konteks, dan membuka ruang dialog.

Kritik pun bukan berarti mencari kesalahan penulis. Kritik membantu sebuah karya menemukan kekuatan sekaligus menyadari kelemahannya.

Sebuah geguritan bisa saja memiliki gagasan menarik, tetapi bahasanya klise. Bisa pula pilihan katanya kuat, tetapi pesannya terlalu mudah ditebak. Ada juga karya yang terdengar indah ketika dibacakan, tetapi kehilangan daya ketika dibaca diam-diam.

Semua itu layak dibicarakan.

Penulis tentu boleh tidak setuju dengan kritik. Kritikus pun boleh keliru. Justru dari perbedaan itulah percakapan sastra menjadi hidup.

Yang perlu dihindari adalah suasana ketika semua karya harus dipuji karena penulisnya hadir, semua peserta dianggap hebat karena sudah tampil, dan semua acara dinilai sukses karena penontonnya ramai.

Kalau setiap geguritan selalu disebut luar biasa, lalu siapa yang berani mengatakan bahwa sebuah karya masih biasa-biasa saja?

Jangan sampai kita begitu takut melukai perasaan penulis, sampai lupa merawat mutu tulisan.

Dari Panggung ke Tradisi

Banyumas barangkali tidak kekurangan orang yang bisa menulis geguritan. Kita juga tidak kekurangan orang yang mampu membacakannya dengan penuh penghayatan.

Yang perlu diperbanyak adalah ruang untuk membaca, mendiskusikan, mengulas, dan memperdebatkan karya.

Festival geguritan bisa dilengkapi forum bedah karya. Komunitas sastra dapat menerbitkan antologi yang dikurasi secara terbuka. Media lokal bisa menyediakan ruang kritik dan ulasan geguritan. Sekolah dan kampus dapat menjadi tempat tumbuhnya penulis muda yang berani bereksperimen dengan bahasa Banyumasan.

Tidak harus selalu mewah. Tidak harus menunggu anggaran besar. Bahkan, sebuah pertemuan sederhana dengan beberapa orang yang benar-benar membaca karya bisa lebih bermakna daripada acara besar yang selesai tanpa meninggalkan percakapan.

Sebab tradisi sastra tidak dibangun hanya dengan menghitung berapa kali acara digelar atau berapa banyak peserta naik panggung. Tradisi tumbuh ketika karya terus dibaca, dipertanyakan, ditafsirkan, dan diwariskan.

Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.

Bukan hanya, “Sapa sing arep maca geguritan?”

Tetapi juga, “Geguritan apa sing arep diwaca, lan apa sing bisa digagas saka kono?”

Bukan hanya sibuk bertanya bagaimana melestarikan bahasa Ngapak, tetapi juga berani bertanya: apa yang bisa dilakukan bahasa Ngapak untuk membaca zaman, menyentil keadaan, dan mengusik kenyamanan kita?

Sebab kalau geguritan hanya hidup ketika ada panggung, ia akan ikut selesai ketika acara berakhir. Kalau ia hidup dalam percakapan, kritik, dan perdebatan, ia punya kesempatan untuk tumbuh lebih panjang.

Jangan sampai kita berhasil melestarikan panggung geguritan, tetapi lupa menghidupkan geguritannya.

Tepuk tangan tentu menyenangkan. Sertifikat juga boleh disimpan. Dokumentasi acara pun penting. Tetapi sastra tidak bisa hidup hanya dengan tepuk tangan, apalagi dengan foto bersama.

Pada akhirnya, geguritan bukan sekadar urusan siapa yang paling merdu membacakan puisi berbahasa Ngapak. Ia adalah soal siapa yang berani mengolah bahasa, menangkap kenyataan, dan menyampaikan sesuatu yang membuat orang lain berhenti sejenak untuk berpikir.

Sebab geguritan yang baik tidak harus membuat semua orang bertepuk tangan.

Kadang-kadang, geguritan yang baik justru membuat ruangan mendadak hening.

Dan jangan-jangan, di Banyumas, yang kita butuhkan sekarang bukan panggung yang lebih ramai, melainkan geguritan yang lebih berani—serta orang-orang yang tidak alergi membicarakannya.

 

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

DPC PKS Karangpucung Juarai Yanuar Mini Soccer Fun Cup 2026

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Geguritan Banyumas: Ramai di Panggung, Sepi Dibicarakan

Geguritan Banyumas: Ramai di Panggung, Sepi Dibicarakan

Minggu, 18 Oktober 2026

DPC PKS Karangpucung Juarai Yanuar Mini Soccer Fun Cup 2026

DPC PKS Karangpucung Juarai Yanuar Mini Soccer Fun Cup 2026

Minggu, 18 Oktober 2026

Warga Kedungwringin Tewas Tercebur di Sumur Saat Perbaiki Pipa

Warga Kedungwringin Tewas Tercebur di Sumur Saat Perbaiki Pipa

Sabtu, 17 Oktober 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • EKONOMI
  • HUMANIORA
  • CATATAN REDAKSI

© 2021 indiebanyumas.com