INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Frans Seda, Lelaki yang Membangun Jembatan Dengan Pemikiran

RAHMAH EL-YUNUSIYAH, PEREMPUAN  YANG MEMBELAI FAJAR

Mikhail Adam.

Kamis, 25 Juni 2026

Mikhail Adam (Peneliti Ekopol di Nusantara Centre).

Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Frans Seda, adalah tokoh keenam dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.

Sejak kecil di Maumere, Frans Seda percaya bahwa Indonesia adalah sebuah buku yang belum dijilid. Pulau-pulaunya berserakan di luas samudera, bahasa dan budaya berkembang mengikuti arus sejarah. Untuk menjadi bangsa, halaman-halaman itu harus dijembatani, diikat oleh ide besar: keterhubungan dan persatuan.

Ketika Orde Baru masih muda dan republik masih belajar berjalan di jalan pembangunan, Seda memanggul satu tugas berat: mengatur denyut ekonomi bangsa. Ia pernah menjabat Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, hingga Menteri Perhubungan. Tiga ruang yang menentukan bagaimana rakyat makan, bergerak, dan berkembang.

Dalam setiap jabatan itu, ia bekerja seperti seorang tukang jam yang telaten: perlahan, penuh detail, dan selalu dengan bayangan masa depan. Ia percaya bahwa pembangunan bukan deretan angka, bukan juga tumpukan proyek, melainkan laku cinta kepada manusia. Kepada petani kecil, buruh, nelayan, pedagang pasar, sopir truk, dan semua yang menghidupi tulang punggung negeri.

Ketika ia menjadi Menteri Perhubungan, bayangan masa kecil itu kembali menghantuinya. Indonesia, baginya, bukan sekadar negara kepulauan; ia adalah organisme yang harus belajar merasa satu sama lain.

“Sebuah bangsa adalah percakapan,” gumamnya suatu sore, “dan percakapan membutuhkan jalan bagi ide dan pemikiran.”

Maka ia mulai bekerja: jalur udara dirintis; pelabuhan diperbaiki; bandara-bandara kecil yang sebelumnya hanya dikunjungi ombak kini disinggahi pesawat. Ia seperti arsitek sunyi yang membentangkan jembatan antara ruang, waktu, dan manusia.

Di meja kerjanya, peta Indonesia bukan alat, melainkan puisi paling panjang yang pernah ia baca.

Frans Seda bukan hanya pejabat negara; ia adalah manusia berpikir. Seorang intelektual Katolik yang melintasi zaman dengan tiga kompas: pendidikan, moralitas, dan kesederhanaan.

Dari Jesuit ia belajar keteguhan logika; dari kehidupan ia belajar empati; dan dari Indonesia ia belajar makna keberagaman dan kemanusiaan yang sejati. Ia meyakini bahwa perbedaan bukanlah hantu politik, melainkan rumah tempat kita membangun persaudaraan dan belajar makna persatuan.

Setelah rapat kabinet usai, duduk sendiri di kapel kecil menjadi tempat favoritnya. Di sana, ia berbicara dengan sunyi. Menemukan ide-ide yang menerangi jalan Republik.

Ia adalah seorang Katolik yang tidak pernah menjadikan imannya sebagai panji politik, namun menggunakannya sebagai kompas moral. Dalam dunia yang semakin gaduh oleh ambisi, ia mencoba menjadi lorong jernih tempat orang bisa kembali pada nalar dan hati.

Organisasi-organisasi Katolik, para seminaris, para intelektual muda, semua pernah merasakan sentuhan pikirannya. Dalam diskusi-diskusi kecil di belakang ruangan seminar, ia sering menggambar di papan tulis: garis-garis, lingkaran-lingkaran, hubungan-hubungan yang rumit antara ekonomi, kebudayaan, dan keadilan sosial.

“Negara tanpa nurani,” katanya, “adalah jalan raya tanpa lampu. Cepat, tetapi membahayakan.”

Ia sedang membangun jembatan lain, yang menghubungkan agama dengan negara, moral dengan kebijakan, idealisme dengan realitas yang keras. Jembatan yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki hati dan pikiran bersih. Jembatan itu bernama satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa kita: Indonesia.

Frans Seda sendiri adalah figur penting yang mengkoneksikan antara gereja, negara, dan masyarakat. Ia menulis, mengajar, mengadvokasi dialog lintas iman, dan menjadi salah satu figur paling disegani dalam jaringan intelektual Katolik Indonesia.

Indonesia pada masa jabatannya bukanlah bunga yang baru mekar, melainkan pohon besar yang akarnya saling berebut ruang. Kekuasaan berputar bagaikan roda raksasa: menggilas yang lemah, menaikkan yang licik, dan menguji yang jujur.

Banyak teknokrat terjatuh: tersandung intrik, mabuk kekuasaan, atau kehabisan napas oleh tekanan politik. Tetapi Frans Seda berjalan dengan tenang seperti seseorang yang berjalan di taman yang dihiasi bunga.

Bukan karena ia paling lihai.
Bukan karena ia paling kuat.
Tetapi karena ia mengerti cara paling sederhana namun paling sulit: menjaga iman dan integritas.

Ia memilih hening daripada berteriak, kerja daripada citra, prinsip daripada syahwat jabatan. Ketika banyak orang mencari cahaya sorotan, ia memilih bekerja dalam sunyi tapi menuntun arah.

Bertahun-tahun setelah ia tidak lagi duduk di kabinet, banyak orang muda datang kepadanya, berbagi ilmu dan pengalaman dengan senyum khas di wajahnya. Ia mengajari orang muda bahwa sejarah bukan benda mati; bahwa pembangunan bukanlah angka; bahwa nasionalisme bukanlah slogan, melainkan kekuatan batin yang membuat seseorang tetap bekerja dan menunjukkan performa walau tidak ada tepuk tangan; bahwa keberhasilan diukur dari kualitas kehidupan rakyat, bukan popularitas.

Ia percaya bahwa intelektualitas bukanlah menara gading, melainkan sebuah sumur, yang harus bisa didatangi oleh siapa saja untuk mengambil air jernih.

Dalam percakapan-percakapan itu, ia membangun jembatan generasi: dari masa ketika republik masih belajar berdiri, menuju masa ketika republik harus kembali belajar bermimpi.

Frans Xaverius Seda bukanlah lelaki yang membangun untuk dirinya sendiri. Ia memilih membangun jembatan dalam pengertian yang lengkap, jembatan ide dan jembatan infrastruktur. Kehadirannya seperti akar yang menopang pohon besar tanpa perlu terlihat.

Frans Seda wafat pada 2009. Tetapi seperti jalan-jalan panjang yang ia bangun, namanya tetap menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Kisahnya penting bukan karena ia pernah menjadi menteri, melainkan karena ia konsisten di zaman ketika konsistensi adalah kemewahan. Ia menunjukkan bahwa politik bisa dijalani dengan tenang, bahwa pembangunan bisa dilakukan dengan nurani, bahwa keberagaman bisa diperjuangkan tanpa gaduh, dan bahwa kekuasaan bisa dijalankan tanpa harus mengorbankan integritas.

Orang-orang mengenangnya sebagai ekonom, politisi, diplomat, dan Menteri. Tetapi Frans Seda sejatinya adalah seseorang yang membangun jembatan untuk negeri dengan pemikiran. Ia menyulam republik ini dengan visi tentang Indonesia yang utuh, modern, dan bermartabat.

Ia adalah lelaki yang membuktikan bahwa pemikiran dapat menghubungkan pulau, menyatukan manusia, menata ekonomi, juga membangun negara. Dengan tak ingin kaya serta pintar sendiri, tentunya. Dengan pancasila dan kebersahajaan, pastinya.

Pada akhirnya, itu mungkin jembatan paling indah yang pernah ia bangun.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Banyumas Kini Punya IPSKA Mandiri, Eksportir Tak Perlu Lagi Urus Dokumen ke Luar Daerah

Selanjutnya

Luminor Hotel Purwokerto Sambut Musim Liburan, Hadir di Skybridge Holiday Daop 5 Purwokerto

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Empat Mantan Karyawan Kedai Tuas Diperiksa sebagai Saksi Kasus Bank Mandiri Taspen Purwokerto

Empat Mantan Karyawan Kedai Tuas Diperiksa sebagai Saksi Kasus Bank Mandiri Taspen Purwokerto

Kamis, 25 Juni 2026

Cegah Fluktuasi Harga, Kemendag Andalkan Sistem Real Time di 514 Kabupaten/Kota

Cegah Fluktuasi Harga, Kemendag Andalkan Sistem Real Time di 514 Kabupaten/Kota

Kamis, 25 Juni 2026

Luminor Hotel Purwokerto Sambut Musim Liburan, Hadir di Skybridge Holiday Daop 5 Purwokerto

Luminor Hotel Purwokerto Sambut Musim Liburan, Hadir di Skybridge Holiday Daop 5 Purwokerto

Kamis, 25 Juni 2026

Selanjutnya
Luminor Hotel Purwokerto Sambut Musim Liburan, Hadir di Skybridge Holiday Daop 5 Purwokerto

Luminor Hotel Purwokerto Sambut Musim Liburan, Hadir di Skybridge Holiday Daop 5 Purwokerto

Cegah Fluktuasi Harga, Kemendag Andalkan Sistem Real Time di 514 Kabupaten/Kota

Cegah Fluktuasi Harga, Kemendag Andalkan Sistem Real Time di 514 Kabupaten/Kota

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com