HUMANIORA — Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) Roudlotul Munawwaroh mencetak generasi khatimin perdana. Enam santri menyelesaikan khataman Al-Qur’an 30 juz secara bin nadzri, yakni membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf.
Keenam santri itu adalah Keandra Runako El Ahmad, Shafira Anindiya Putri, Almaira Zahira Ahmadi, Ashalina Nasira Hamidah, Qiandra Nasyama Difa, dan Uli Alfiati Rohmah. Mereka menjadi khatimin pertama sejak LPQ yang berlokasi di Masjid Al Fattah, Perum Griya Asri, Desa Karangsalam Kidul, Kabupaten Banyumas, itu berdiri pada 2019.
Sebagai penanda keberhasilan, kegiatan dilanjutkan dengan doa khotmil Qur’an yang diikuti seluruh santri LPQ Roudlotul Munawwaroh.
Syukur Kepala LPQ
Kepala LPQ Roudlotul Munawwaroh, Siti Nurhayati Al Hafidzoh, mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini bermakna karena menjadi hasil pertama sejak lembaga dirintis pada 2019.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bahagia. Keenam santri ini menjadi khotimin generasi pertama sejak LPQ Roudlotul Munawwaroh berdiri. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi santri-santri lainnya untuk terus belajar dan mencintai Al-Qur’an,” ungkap Siti Nurhayati.
Metode Yanbu’a dan sanad keilmuan
Dalam proses pembelajaran, LPQ Roudlotul Munawwaroh memakai metode Yanbu’a dari Kudus, Jawa Tengah. Metode ini menekankan ketepatan pelafalan dan bacaan Al-Qur’an.
LPQ ini juga menjaga kesinambungan keilmuan melalui sanad. Pembelajarannya merujuk pada mata rantai keilmuan yang bersambung kepada KH Arwani Kudus dan KH Munawwir Krapyak.
Secara personal, Siti Nurhayati memperoleh sanad Al-Qur’an melalui KH Mufid Mas’ud dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Tradisi sanad ini mencerminkan pentingnya menjaga transmisi ilmu Al-Qur’an dari guru kepada murid.
45 santri, lima tenaga pendidik
Saat ini, LPQ Roudlotul Munawwaroh memiliki sekitar 45 santri dengan dukungan lima tenaga pendidik: empat guru reguler dan satu pentashih. Para pengajar mendampingi santri sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya.
Siti Nurhayati berharap keberhasilan generasi perdana ini tidak membuat santri berhenti mengaji. Ia ingin capaian itu menjadi pintu untuk memperdalam pemahaman dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
“Harapan kami, semoga keberhasilan ini menginspirasi seluruh santri agar tidak berhenti mengaji. Kalau memungkinkan, anak-anak juga bisa melanjutkan pendidikan dengan bersekolah sekaligus nyantri di pondok pesantren,” tuturnya.
Dengan lahirnya generasi khatimin perdana, LPQ Roudlotul Munawwaroh berharap semakin banyak santri mengikuti jejak mereka, melanjutkan pendidikan agama ke jenjang lebih tinggi, serta tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an.
Pewarta : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






