INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Dhandhaka

Tiran
Senin, 12 Januari 2026

Rangg Sujali

Alkisah ada sebuah negeri subur makmur, alam nan hijau bagai untaian ratna mutu manikam. Bukan singa atau gajah yang menjadi pemimpinnya. Secara aklamasi, ditunjuklah burung rajawali. Bersayap hitam-legam, berparuh melengkung tajam, mata liar, sayap kokoh, mata nanar mengintai segala, dan kaki lengkap dengan kuku yang kekar untuk mencengkeram apa pun yang ingin dimiliki.

Dhandhaka nan tata tentrem kerta raharja. Rakyatnya rukun menjaga dan menghindari pertarungan. Hidup penuh cinta dan saling kerja sama. Bergotong royong, tak pernah saling memangsa, tak ada permusuhan akut berlarut. Diceritakan, tak ada warga belantara yang mati kelaparan, karena pasokan pangan mencukupi. Hingga sesekali berniaga tani ke negeri manca.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Hingga suatu ketika Ki Dhalang melakonkan dua sapi gumarang bertarung. Matanya merah penuh amarah. Helaan nafasnya mampu merobohkan jajaran beribu jati dan meranti. Dengus kegilaan itu bahkan menular ke gajah, macan, garuda, serigala, dan celeng. Semua bertarung bak Bharatayudha. Tanpa tahu alasan pembenar untuk bertikai. Kelinci, ayam, bebek, tikus, cerpelai, tunggang-langgang menghindar dari pijakan kaki besar. Ratusan pula mati tersambar langkah kacau.

Belum lagi pertarungan usai, datang naga terbang penyembur api, hutan pun rusak terbakar. Pohon-pohon berderak bertumbangan, rerumputan menguning kering. Jelaga mengepul menewaskan hampir semua mahluk yang terbang di atasnya.

Gumarang gemuk beruntung jadi pemenang. Bukan karena kelincahan bertarung atau lihai dalam memainkan jurus. Kelicikannya yang luar biasa. Memakai jubah kulit macan, dan sesekali memakai atas nama warga belantara. Mengelabuhi musuh, bahkan yang terculas sekalipun. Seperti memakai aji panglimun, mengaburkan pandangan musuh.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

Gumarang gemuk pandai bermain watak, ekspresinya berubah-ubah mencala putra mencala putri. Tak sedikit kepala suku sato-kewan yang akhirnya menjilati bokongnya, sekadar mendapat kavling untuk makan dan memangsa segala yang ada.

Ki Dhalang kian ugal-ugalan mengarang ceritanya. Dilakonkan di bawah kuasa Gumarang, ada gagak putih yang yang seolah memimpin Dhandhaka. Beberapa bulu sayapnya secara culas dicabut. Sesekali ditimpuk dengan tahi sapi, membuat mata perih tak bisa melihat realitas. Sesekali pula, saat lengah prenjak, jalak, dan kenari disuruh mengoceh sekeras apa, memekakkan telinga, makin olenglah si gagak putih.

Ke mana gajah, sanca, kuda sembrani, dan naga? Kawanan ini mengumpet di belakang Gumarang yang pulas tertidur karena kekenyangan. Memakan rumput upeti dari para naga. Kalau pun terjaga, sang Gumarang langkahnya gontai, tak punya nyali, hanya modal welulang macan. Kecerdasan para naga ini yang memanfaatkan Gumarang.

Kian tak tentu nasib para penghuni belantara Dhandhaka.
Satu sisi api masih terus membara, kebakaran hebat. Dan sisi lain air bah seperti ditumpahkan ke bumi. Kelaparan pun makin merata. Bencana besar melanda, tak ada lagi harmoni di hutan Dhandhaka. Kaum agamis bilang itu azab untuk umatnya yang kafir. Kaum spiritualis mengajak kembali ke ajaran leluhur. Pun dia tidak tahu persis apakah leluhurnya benar-benar hebat. Atau sekadar dongeng sebelum tidur yang dikarang kompeni, sekadar untuk menidurkan kaum terjajah.

Mungkin semua harus bersabar menunggu Raja Kera Sugriwa keluar dari goa Kiskenda atau menunggu Prabu Ramawijaya melewati hutan Dhandhaka. Entah kapan waktunya. Karena Satria Piningit pun masih asyik meliat indahnya belahan dada wanita dari negeri manca..

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Seniman Kritik Larangan Pakai Area Rumput Alun-alun Purwokerto: “Jangan Sampai Seperti Kawasan Terbatas”

Selanjutnya

Dokter Spesialis Anak dari Australia dan UGM Tinjau Pendidikan di RSUD Banyumas

TERBARU

Rektor Bukan Cuma Urusan Internal Kampus, Masyarakat Punya Hak Suara

Rektor Bukan Cuma Urusan Internal Kampus, Masyarakat Punya Hak Suara

Selasa, 3 Februari 2026

Launching RDF dan Recycling Center, Bupati Banyumas Targetkan 10 Unit

Launching RDF dan Recycling Center, Bupati Banyumas Targetkan 10 Unit

Selasa, 3 Februari 2026

Ketua DPRD Banyumas Tekankan Komunikasi Eksekutif-Legislatif, Siap Dorong Dewan Lebih Aspiratif

Ketua DPRD Banyumas Tekankan Komunikasi Eksekutif-Legislatif, Siap Dorong Dewan Lebih Aspiratif

Selasa, 3 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Polemik Puskesmas 2 Cilongok, Anang Kostrad Dorong Pembangunan Puskesmas 3

Polemik Puskesmas 2 Cilongok, Anang Kostrad Dorong Pembangunan Puskesmas 3

Selasa, 3 Februari 2026

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

Senin, 2 Februari 2026

Selanjutnya
Dokter Spesialis Anak dari Australia dan UGM Tinjau Pendidikan di RSUD Banyumas

Dokter Spesialis Anak dari Australia dan UGM Tinjau Pendidikan di RSUD Banyumas

Lawan Otoritarianisme & Jadi Penyeimbang: Pidato Megawati Tentukan Arah PDIP Pasca-Prabowo

Lawan Otoritarianisme & Jadi Penyeimbang: Pidato Megawati Tentukan Arah PDIP Pasca-Prabowo

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com