Ada masa ketika musik underground bukan sekadar genre, melainkan cara hidup. Komunitas, venue, kaset independen, fanzine, hingga jaringan pertemanan menjadi denyut yang menghidupkan scene musik di berbagai kota.
Di Jakarta, salah satu ruang yang pernah menjadi titik penting adalah Poster Café. Tempat ini akhirnya ditutup setelah acara “Subnormal Revolution” yang berujung kerusuhan antara massa punk dan warga sekitar. Sejumlah kendaraan rusak dan aparat kepolisian turun tangan membubarkan massa.
Namun, tutupnya Poster Café justru memunculkan banyak ruang alternatif. Scene musik kemudian berpencar ke berbagai venue. Café Kupu-Kupu di Bulungan menjadi salah satu titik berkumpul komunitas ska, sementara sejumlah venue di Cikini dan Jakarta Selatan digunakan komunitas Britpop dan indie pop.
Untuk punk dan hardcore, Parkit De Javu Club di Menteng menjadi salah satu tempat penting. Sementara BB’s Bar di kawasan Menteng dikenal sebagai ruang sempit yang kerap menjadi panggung bagi band garage rock, new wave, mellow punk hingga rock alternatif.
Di antara venue tersebut, Nirvana Café di basement Hotel Maharadja menjadi salah satu ruang yang relatif lintas-scene. Tempat ini juga menjadi saksi konser terakhir Puppen pada 13 Januari 2002 melalui pertunjukan bertajuk “Puppen: Last Show Ever”.
Dari Punk ke Indie Pop
Perkembangan scene Jakarta dan Bandung tidak bisa dilepaskan dari masuknya pengaruh grunge, alternative rock, hingga punk Inggris.
Di Jakarta, Pestol Aer yang awalnya tumbuh dari komunitas Young Offender dikenal membawakan lagu-lagu Sex Pistols dengan penampilan punk. Namun, sekitar 1994, mereka mengubah arah musik menuju British dan indie pop. Perubahan tersebut ikut menandai berkembangnya scene Britpop dan indie pop Jakarta.

Sejumlah nama kemudian muncul, seperti Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V, Parklife hingga Death Goes To The Disco.
Sementara di Bandung, komunitas Reverse menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan musik independen. PAS dan Puppen termasuk band yang tumbuh dari ekosistem tersebut.
PAS bahkan mencatat sejarah pada 1993 sebagai salah satu band Indonesia yang merilis album secara independen. Mini album “Four Through The S.A.P” disebut terjual sekitar 5.000 kaset.
Puppen kemudian menjadi salah satu pionir hardcore Bandung. Band yang dibentuk pada 1992 itu meninggalkan sejumlah rilisan penting, termasuk Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998), dan album Puppen (2000), sebelum mengakhiri perjalanan pada 2002.
Bandung dan Energi Underground
Jika ada satu kota yang identik dengan ledakan scene underground, Bandung menjadi salah satu jawabannya.
Kawasan Ujung Berung menjadi episentrum musik metal. Studio Palapa turut membesarkan sejumlah nama seperti Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy hingga Burger Kill.
Pada awal 1995, muncul Revograms Zine, salah satu fanzine yang mendokumentasikan perkembangan musik metal dan hardcore lokal maupun internasional.
Ekosistem itu kemudian berkembang melalui berbagai fanzine dan media alternatif seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas, Ripple dan Trolley. Media-media tersebut bukan hanya membahas musik, tetapi juga merekam perkembangan subkultur dan gaya hidup anak muda Bandung.

Di sisi lain, scene indie pop Bandung juga terus tumbuh. Pure Saturday menjadi salah satu nama penting, disusul Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih, The Milo, Mocca hingga Homogenic. Scene ska pun memiliki akar yang panjang dengan nama seperti Noin Bullet dan Agent Skins.
Saparua, Rumah Sakral Musik Underground
Bagi generasi penggemar musik underground, GOR Saparua memiliki tempat khusus.
Venue di Bandung itu menjadi saksi berbagai pertunjukan besar seperti Hullabaloo, Bandung Berisik, dan Bandung Underground. Ribuan penonton memadati konser-konser tersebut, menjadikan Saparua salah satu ikon penting dalam sejarah rock underground Indonesia.
Band dari luar Bandung seolah belum lengkap sebelum merasakan panggung Saparua. Venue tersebut kemudian menjadi simbol bagaimana sebuah ruang dapat membentuk identitas dan solidaritas sebuah scene.
Bandung pun berkembang melampaui musik. Budaya distro, media alternatif, rilisan independen, dan komunitas kreatif tumbuh beriringan.
Mocca menjadi contoh keberhasilan band independen yang mampu menjual puluhan ribu album. Burger Kill bahkan menjadi salah satu band hardcore Indonesia yang menembus major label.
Jogja: Underground dengan Karakter Sendiri
Scene underground kemudian menemukan rumah lain di Yogyakarta.
Komunitas metal seperti Jogja Corpsegrinder ikut menghidupkan ekosistem melalui fanzine Human Waste, majalah Megaton, serta gelaran Jogja Brebeg.
Nama-nama seperti Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis dan Ruction menjadi bagian dari sejarah awal metal underground Jogja.
Sementara scene punk, hardcore dan industrial berkembang dengan munculnya Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65 hingga Teknoshit.
Dari jalur indie rock dan pop, muncul Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop hingga The Monophones. Sementara Shaggy Dog menjadi salah satu nama besar dari scene ska Yogyakarta.
Kota ini bahkan mencatat sejarah melalui Parkinsound, festival musik elektronik yang ikut membuka ruang bagi eksperimen musik alternatif.
Musik, Komunitas, dan Ruang yang Tak Pernah Mati
Sejarah scene underground Indonesia pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling keras memainkan musik atau siapa yang paling banyak menjual album.
Ia adalah cerita tentang komunitas yang menciptakan ruangnya sendiri.
Ketika sebuah venue ditutup, muncul venue lain. Ketika distribusi musik dikuasai industri besar, kaset berpindah tangan dari satu komunitas ke komunitas lain. Ketika media arus utama belum memberi ruang, fanzine dan panggung-panggung kecil mengambil peran.
Dari Jakarta, Bandung hingga Yogyakarta, scene underground tumbuh melalui satu energi yang sama: musik, pertemanan, dan keberanian untuk membuat ruang sendiri.
Dan selama energi itu masih menyala, scene musik independen akan selalu menemukan panggung berikutnya.
Sumber : bawahtanah.blog.wordpress
Ditulis Ulang : Angga Saputra








