INTERNASIONAL – Gelombang kritik terhadap Adidas terus menguat setelah raksasa apparel asal Jerman itu dituding menargetkan selebritas dan tokoh terkenal yang vokal mendukung perjuangan Palestina. Kasus ini mencuat ke permukaan setelah model kenamaan Bella Hadid, yang dikenal sebagai salah satu selebritas paling vokal menyuarakan dukungan terhadap Palestina, disebut-sebut menjadi sasaran tindakan perusahaan tersebut.
Dilansir dari Anadolu, Pengamat politik dan akademisi Mohammad Al-Arian menilai bahwa langkah Adidas terhadap Hadid merupakan bentuk penargetan sistematis terhadap figur publik yang tidak sejalan dengan narasi perusahaan terkait konflik Palestina. Kepada Anadolu, ia menyebut tindakan tersebut sebagai “puncak kemunafikan” dalam menyikapi persoalan Palestina.
“Saya kira sangat mungkin akan terjadi boikot terhadap produk Adidas. Mereka harus belajar dengan cara yang keras dengan melihat keuntungan mereka terdampak, karena selama ini mereka lebih memilih keuntungan daripada prinsip,” ujar Al-Arian.
Sementara itu, komentator politik Inggris Sami Hamdi memperingatkan bahwa Adidas berpotensi menghadapi konsekuensi serupa dengan sejumlah merek besar lain yang telah lebih dulu menjadi sasaran gerakan boikot global terkait perang di Gaza.
“McDonald’s, Starbucks, KFC, dan merek-merek lainnya sudah merasakan dampak gerakan boikot di negara-negara mayoritas Muslim. Banyak dari merek tersebut bahkan terpaksa menutup sejumlah besar gerai. Kini sudah ada seruan untuk memboikot Adidas dengan cara yang sama,” kata Hamdi kepada Anadolu.
Gelombang boikot terhadap merek-merek yang dianggap pro-Israel telah terbukti memberikan tekanan nyata terhadap kinerja bisnis mereka di berbagai negara, terutama di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara. Penutupan gerai hingga penurunan penjualan menjadi konsekuensi yang harus ditanggung.
Kini, Adidas berpotensi menyusul jejak sejumlah merek global tersebut. Seruan boikot yang muncul di media sosial dan berbagai platform digital disebut semakin masif, terutama dari kalangan pengguna yang menuntut konsistensi sikap perusahaan terhadap isu kemanusiaan.
Kasus ini kembali menyoroti dilema yang dihadapi perusahaan multinasional dalam menyikapi isu politik dan kemanusiaan global. Di satu sisi, mereka dituntut menjaga citra dan basis konsumen; di sisi lain, keputusan bisnis yang dianggap berpihak pada satu kubu berisiko memicu reaksi balik yang signifikan.
Bagi Al-Arian, Adidas harus segera menyadari bahwa konsumen saat ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga menilai nilai dan prinsip yang dipegang perusahaan.
“Selama ini mereka lebih memilih keuntungan daripada prinsip. Sudah saatnya mereka belajar dengan cara yang keras,” pungkasnya.
Tim Redaksi






