CILACAP – Pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale tak hanya sukses digelar di lingkungan kampus. Kini, kegiatan serupa menjangkau wilayah pedesaan dan berlangsung lancar tanpa penolakan.
Kurang lebih 100 warga memadati acara nonton bareng (nobar) yang digelar di Kamiada Resto, Desa Kawunganten, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, pada Sabtu (23/5/2026) malam.
Kegiatan bertajuk “Layar Pembebasan: No Borders, No Racism, No Fascism, No Silence” itu berlangsung tertib. Puluhan masyarakat dari berbagai elemen tampak antusias mengikuti jalannya acara sejak pukul 20.00 WIB hingga selesai.
Usai pemutaran, agenda dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang menghadirkan pemantik dialog Afiki Barindo. Diskusi dipandu oleh moderator bernama Risky.
Kontroversi Film dan Kebebasan Berekspresi
Penggagas acara, Arian, mengungkapkan bahwa film Pesta Babi memantik perdebatan luas. Menurutnya, hal ini bukan hanya karena judulnya yang provokatif, tetapi juga karena keberanian film tersebut menyentuh ruang sensitif, mulai dari kebebasan berekspresi, budaya, moral publik, hingga toleransi sosial di Indonesia.
“Di satu sisi, film ini bisa dibaca sebagai upaya sineas menghadirkan realitas sosial secara apa adanya tanpa tunduk pada tekanan mayoritas,” ujar Arian.
Ia menjelaskan, masalah utama dari kontroversi seperti ini sering kali bukan sekadar isi film, melainkan bagaimana ruang publik dengan mudah terjebak pada polarisasi.
Nobar Sebagai Edukasi dan Motivasi Berpendapat
Arian menambahkan, terselenggaranya nobar Pesta Babi di wilayah Kecamatan Kawunganten juga berfungsi sebagai edukasi bagi masyarakat. Ia berharap kegiatan ini dapat memotivasi warga agar berani mengeluarkan pendapat, sesuai dengan perlindungan undang-undang.
“Kami akan membuat wadah komunitas kritis di wilayah kecamatan Kawunganten agar menjadi kontrol dan mewakili pemikiran masyarakat bawah,” katanya.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra






