INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

BMKG: Waspadai peningkatan curah hujan di Jateng selatan

Minggu, 31 Oktober 2021

Purwokerto – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di Jawa Tengah bagian selatan maupun pegunungan tengah Jateng untuk mewaspadai peningkatan curah hujan sebagai dampak dari La Nina.

“Beberapa hari terakhir ini, hujan sudah sering mengguyur wilayah Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan sekitarnya, intensitasnya sudah mulai lebat. Bahkan, di wilayah Cilacap pada tanggal 27 Oktober 2021 telah terjadi banjir, yaitu di wilayah Wanareja dan Majenang yang salah satu pemicunya adalah hujan lebat,” kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo dalam keterangan di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu.

Ia mengatakan berdasarkan catatan pos pengamatan hujan yang ada di Wanareja, curah hujan pada Rabu (27/10) tercatat 82 milimeter sehingga masuk kategori hujan lebat, sedangkan di Majenang tercatat 77 milimeter dan masuk kategori hujan lebat, serta Dayeuhluhur 52 milimeter dan masuk kategori hujan lebat.

Menurut dia, hujan lebat pada sore hingga malam hari yang terkonsentrasi di wilayah barat Kabupaten Cilacap itu mengakibatkan banjir di daerah tersebut.

“Kewaspadaan musim hujan tahun 2021 ini memang harus dimaksimalkan, karena dibarengi dengan berlangsungnya La Nina yang diprediksikan bisa meningkatkan atau menambah jumlah curah hujan berkisar 40 persen hingga 70 persen. Wilayah Jawa secara umum dan khususnya Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen) tak luput dari pengaruh La Nina tersebut,” katanya.

Teguh mengatakan La Nina merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan dan atmosfer yang ditandai dengan mendinginnya suhu permukaan laut (SST) di ekuator Pasifik Tengah (Nino 3,4) atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut negatif, yakni lebih dingin dari rata-ratanya.

Menurut dia, La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat bila diikuti dengan menghangatnya suhu permukaan laut wilayah Indonesia.

“Anomali dianggap dalam kondisi normal ketika nilainya positif 0,5. Menurut pantauan bahwa pada dasarian I Oktober 2021 anomali tercatat negatif 0,92 atau telah melewati ambang batas La Nina, dan diprakirakan La Nina lemah hingga moderat akan berlangsung hingga Februari 2022,” katanya.

Ia mengatakan pemahaman yang salah sering muncul di masyarakat mengenai La Nina, di beberapa media baik cetak maupun elektronik sering menggunakan istilah “Badai La Nina” untuk pemberitaan, sehingga masyarakat pun akhirnya mengikuti dan menggunakan istilah yang salah tersebut.

“Bayangan yang muncul pada masyarakat saat kita menyebut ‘Badai La Nina’ adalah seolah-olah La Nina bergerak, dapat menerjang, dapat menghantam wilayah, seperti badai tropis yang terjadi di Amerika misalnya. Padahal tidak demikian, bahwasanya La Nina itu adalah bukan badai, La Nina merupakan peristiwa menyimpangnya perilaku Samudra Pasifik,” katanya.

Teguh mengatakan La Nina ditandai dengan suhu permukaan laut yang mendingin jauh dari normalnya pada area yang luas, meliputi Samudra Pasifik bagian timur dekat benua Amerika hingga Samudra Pasifik bagian tengah dekat French Polynesia.

Manakala terjadi penyimpang di lautan, kata dia, di atmosfer juga mengalami penyimpangan sehingga iklim pun akan mengalami penyimpangan.

“Pada akhirnya kita selalu mengingatkan kepada pemerintah daerah, masyarakat, dan semua pihak terkait dengan pengelolaan sumber daya air agar bersiap segera untuk melakukan langkah pencegahan dan mitigasi terhadap peningkatan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung,” katanya.

Ia mengatakan mitigasi yang paling sederhana berupa memangkas pohon yang sudah rapuh, bergotong royong membersihkan selokan dari sampah, dan menempatkan barang-barang ke tempat yang aman atau lebih tinggi untuk antisipasi banjir.

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Pemkab Purbalingga intensifkan penguatan posyandu cegah kekerdilan

Selanjutnya

Harga Minyak Goreng di Cilacap Naik, Omzet Penjualan Pedagang Anjlok 50 Persen

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Membaca Ulang Soemitronomics: Ekonomi sebagai Arena Pertarungan Nasib Bangsa

Soemitronomics: Antara Kapitalisme Global dan Amanat Konstitusi

Jumat, 15 Mei 2026

Kemenhaj Perketat Pembayaran Dam via Adahi, Jemaah Diimbau Hindari Calo

Kemenhaj Perketat Pembayaran Dam via Adahi, Jemaah Diimbau Hindari Calo

Jumat, 15 Mei 2026

Kecelakaan Beruntun di Jatilawang, Seorang Guru Meninggal Usai Terlindas Truk Molen

Kecelakaan Beruntun di Jatilawang, Seorang Guru Meninggal Usai Terlindas Truk Molen

Jumat, 15 Mei 2026

Selanjutnya

Harga Minyak Goreng di Cilacap Naik, Omzet Penjualan Pedagang Anjlok 50 Persen

PPKM Turun Ke Level II, Sejumlah Pertokoan Mulai Ramai

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com