FOKUS UTAMA – Badan SAR Nasional (Basarnas) memastikan bangkai Kapal Virgo Transport 8 rute Surabaya–Banjarmasin yang hilang kontak hingga terbalik di Laut Jawa, Minggu (13/9/2026), telah tenggelam ke dasar perairan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan kepastian itu diperoleh berdasarkan rangkaian operasi SAR gabungan hingga hari kelima. Kapal pabrikan Jepang tahun 1987 tersebut sudah tidak terlihat mengambang di permukaan laut.
“Unsur laut dan udara terus melakukan penyisiran di area yang telah ditentukan. Secara visual, pada 16 September 2026, badan kapal KM Virgo Transport 8 sudah tidak terlihat di permukaan laut dari jarak 1,1 NM (nautical mile/mil laut),” ungkap Sudayana, Kamis (17/9/2026) dikutip harianjogja.com.
Bangkai Terdeteksi di Dasar Laut, Bergeser 500 Yard
Sudayana menjelaskan posisi bangkai Kapal Virgo Transport 8 telah terdeteksi berada di dasar perairan Laut Jawa. Lokasinya diketahui bergeser dari titik koordinat awal yang tercatat sebelumnya.
Deteksi dilakukan oleh unsur TNI Angkatan Laut menggunakan sonar aktif. Hasilnya, tim menemukan objek yang diduga merupakan kapal pada koordinat 04°31,667′ S – 114°00,245′ T.
“Deteksi bawah air oleh unsur TNI AL menggunakan sonar aktif berhasil mengidentifikasi posisi objek yang diduga kapal pada koordinat 04°31,667′ S – 114°00,245′ T, dengan pergeseran sekitar 500 yard ke arah tenggara dari posisi sebelumnya,” papar dia.
Selain mendeteksi objek di dasar laut, personel SAR gabungan juga menemukan perahu atau rakit darurat (life raft) di perairan Kuala Pembuang, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.
“Selain itu, ditemukan pula life raft yang diduga berasal dari kapal tersebut di perairan Kuala Pembuang,” tambahnya.
Pencarian Dibagi Sektor Laut dan Udara
Dalam operasi SAR, strategi pencarian dibagi menjadi dua unsur utama, yakni udara dan laut. Unsur udara melibatkan armada helikopter Basarnas, Polri, dan TNI AL yang menyisir area seluas kurang lebih 1.489 nautical mile persegi.
Sementara itu, unsur laut dibagi ke dalam empat sektor utama. Total luas area pencarian melalui unsur laut mencapai sekitar 5.600 nautical mile persegi.
“Dalam pelaksanaan operasi, tim di lapangan menghadapi kendala berupa perubahan cuaca yang terjadi secara cepat. Meski demikian, kondisi cuaca saat ini dilaporkan cerah berawan dengan tinggi gelombang berkisar antara 1 hingga 1,5 meter, yang masih memungkinkan pelaksanaan operasi secara optimal,” ungkap dia.
108 Selamat, 6 Meninggal, 129 Masih Dicari
Kapal Virgo Transport 8 rute Surabaya–Banjarmasin sebelumnya hilang kontak hingga terbalik diduga setelah diterpa cuaca buruk di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026) dini hari.
Berdasarkan data manifes, kapal tersebut mengangkut 243 orang atau person on board (POB), terdiri atas 213 penumpang dan 30 kru. Hingga berita ini ditulis, sebanyak 108 orang ditemukan dalam keadaan selamat, 6 orang meninggal dunia, sedangkan 129 orang lainnya masih dalam proses pencarian.
Kisah Anto, Pengusaha Ekspedisi asal Patikraja yang Ikut Tenggelam
Anto, warga RT 03 RW 03 Desa Sawangan Wetan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, adalah satu dari sekian korban dalam insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Pria 41 tahun itu bukan siapa-siapa di dunia pelayaran. Ia hanya seorang pengusaha ekspedisi, pemilik JSKS Trans Antar Nusa, jasa kirim barang untuk seluruh wilayah Tanah Air.
Aghis, istri Anto, masih menyimpan semua percakapan terakhir. Kamis (10/9/2026) malam, suaminya berpamitan.
“Berangkat malam Jumat setengah dua belas, berangkat dari rumah mampir ke Solo ambil muatan gerobak dibawa ke Kalimantan,” ujar Aghis menirukan pesan suaminya.
Anto tidak berangkat sendiri. Ada Arifin, kernet asal Purbalingga, yang menemaninya. Bagi Aghis, Arifin adalah nama yang sudah lama dikenal sebagai teman komunikasi Anto. Namun, baru kali ini Arifin ikut dalam satu perjalanan.
Setelah mengambil muatan di Solo, Anto menuju pelabuhan. Naik kapal Sabtu pukul delapan pagi.
“Jam sepuluh malam pagi sudah jalan, masih komunikasi seperti biasa. Wasap terakhir 00.26 WIB pada hari Minggu,” kata Aghis.
Tidak ada yang aneh. Tidak ada firasat buruk. Semua berjalan seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya.

Dibangunkan Sebelum Kapal Tenggelam
Malam itu, sekitar pukul 01.00 WIB, cuaca mulai mengamuk. Arifin merasakan kapal bergoyang keras. Ia bangun, lalu membangunkan Anto yang sedang tidur.
“Ceritanya Arifin, dia sempat membangunkan Mas Anto, dia melihat sampai Mas Anto duduk. Kemudian Arifin pergi,” ujar Aghis.
Anto sempat bangun. Duduk. Lalu Arifin pergi menyelamatkan diri. Itulah momen terakhir Anto terlihat dalam kondisi sadar.
Aghis menyebut, suaminya biasanya menggunakan Kapal Dharma Rucitra. Baru kali pertama Anto menaiki kapal tersebut.
“Biasanya Dharma Rucitra, sepengetahuan saya, karena selalu cerita,” ujarnya.
Dari titik lokasi kejadian, informasi yang diterima Aghis menyisakan waktu sekitar lima jam lagi untuk sampai di Banjarmasin.
“Informasinya tinggal lima jam lagi sampai. Arifin selamat dan sudah dievakuasi, sekarang masih di Banjarmasin,” kata dia, suaranya berat.
Doa dari Rumah
Di Sawangan Wetan, Senin (14/9/2026) malam, keluarga Widianto menggelar doa bersama. Tahlilan. Warga datang berbondong-bondong.
Bukan hanya di rumah, doa juga mengalir di warung milik Anto, di perbatasan Desa Sawangan Wetan dan Desa Panusupan, Kecamatan Cilongok.
Anto dikenal sebagai putra Ki Karwin, dalang yang cukup disegani di kalangan masyarakat. Sosoknya akrab, ramah, dan selalu pulang membawa cerita.
Angga Saputra







