PURWOKERTO — Puluhan emak-emak dari Komunitas Biyung Bergerak turun ke jalan, Sabtu (7/11/2026). Bukan dengan spanduk kaku, tapi dengan teflon, panci, wajan, dan spatula di tangan.
Mereka menggelar aksi damai di depan Patung Kuda UNSOED Purwokerto dengan tema “Suara Ibu untuk Negeri”. Aksi ini dikemas teatrikal: ada pembacaan puisi, alunan musik, dan live painting. Peralatan dapur yang mereka bawa bukan sekadar properti—itu simbol perjuangan para ibu menjaga dapur keluarga di tengah himpitan ekonomi.
“Kami di Rumah, tapi Kami Merasa”
Juru Bicara Biyung Bergerak, Ade Yulia, bilang aksi ini lahir dari keresahan yang mendalam.
“Ibu-ibu meski kami berada di dalam rumah bukan berarti tidak merasakan dampak dari kebijakan politik yang amburadul.”
Menurut Ade, program pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat membuat para ibu dan keluarga ikut menanggung bebannya.
Aksi ini bermula dari spontanitas. Ade menyebut kondisi Purwokerto yang dinilai “adem-ayem” pada 28 lalu jadi pemicu. Yang terlibat bukan cuma ibu rumah tangga biasa—ada juga akademisi, pelaku seni, dan pekerja kreatif.
Mereka terhubung dengan gerakan perempuan lain seperti “Ibu Berisik” dan “Suara Ibu Indonesia” di Jogja. Peserta yang hadir pun datang dari Purwokerto, Banyumas Raya, Purbalingga, dan sekitarnya.
Tiga Tuntutan Biyung Bergerak
Dalam aksinya, massa membacakan tiga tuntutan:
1. Ekonomi berpihak pada rakyat. Pemerintah didesak mewujudkan kebijakan ekonomi yang tidak membebani, menjamin keterjangkauan harga kebutuhan pokok, dan menguatkan daya beli masyarakat.
2. Stop kerusakan lingkungan. Pemerintah harus tegas menghentikan kerusakan lingkungan dan menangani krisis iklim. Penanganan bencana seperti karhutla harus cepat, transparan, dan berpihak pada warga terdampak.
3. Pendidikan dan layanan dasar yang adil. Pendidikan dan kesehatan bukan kemewahan, melainkan hak dasar yang harus dipenuhi tanpa membebani keluarga.
Dukungan Datang dari Mana-Mana
Aksi ini mendapat dukungan organik dari masyarakat yang tidak bisa hadir. Menurut Ade, banyak orang mengirim bantuan makanan dan minuman lewat DM Instagram Biyung Bergerak.
“Kegelisahan ini bukan milik kami sendiri, kegelisahan ini juga dirasakan oleh banyak rakyat Indonesia.”
Ade berharap aksi ini memantik gerakan perempuan lain untuk terus bersuara.
“Terus bersuara, jangan diam, suarakan kegelisahan kamu, karena para ibu, para perempuan itu juga pasti terdampak dari kebijakan ekonomi yang sulit.”
Dengan panci di tangan dan puisi di bibir, emak-emak Purwokerto ini membuktikan satu hal: dapur bukan tembok pemisah dari politik.
Pewarta : Yoga Cokro
Editor : Angga Saputra






