JAKARTA – Peneliti CORE Indonesia, Sahaya Aulia Azzahra, menegaskan bahwa tenaga kerja Indonesia perlu bertransformasi menjadi versatilist atau penguasa keterampilan lintas disiplin. Langkah ini dinilai krusial untuk menjawab lonjakan permintaan Pekerjaan Hijau (Green Jobs) sekaligus menekan kesenjangan keterampilan (skill mismatch) di industri hijau.
Hal itu disampaikan Sahaya dalam gelaran Youth Economic Summit 2026 yang digelar CORE Indonesia dan Suara.com di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Menurut Sahaya, angkatan kerja Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu keahlian spesialis atau sekadar generalis. Mereka dituntut mampu menjadi versatilist agar adaptif terhadap kebutuhan industri hijau yang terus berkembang.
Meluruskan Definisi Green Jobs
Mengacu pada definisi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Sahaya meluruskan pemahaman publik yang kerap keliru soal green jobs. Menurutnya, pekerjaan hijau tidak sekadar merujuk pada profesi di sektor lingkungan.
“Ada dua syarat utama agar sebuah pekerjaan bisa disebut green jobs. Pertama, pekerjaannya harus berstatus layak. Kedua, pekerjaan tersebut memproduksi barang atau jasa ramah lingkungan, atau setidaknya mempraktikkan operasional ramah lingkungan seperti penggunaan energi terbarukan dan bahan daur ulang,” jelas Sahaya.
Ia menegaskan, seseorang yang bekerja di sektor pendaurulangan limbah atau instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) belum tentu masuk kategori green jobs jika jam kerja, pengupahan, serta standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak terpenuhi.
Permintaan Tenaga Kerja Bergeser
Sahaya memproyeksikan penciptaan lapangan kerja global akan tumbuh pesat di lima sektor utama: transisi digital dan kecerdasan buatan (AI), transformasi sistem pangan (pertanian), transisi hijau (energi dan air), pendorongan manufaktur domestik, serta infrastruktur.
Dari sektor-sektor itu, permintaan tenaga kerja akan mengerucut pada kebutuhan teknisi tingkat menengah hingga tinggi, seperti teknisi pendingin, pemasang panel surya, hingga desainer kendaraan listrik.
Studi kasus transisi kendaraan listrik (EV) di Thailand yang dipaparkan Sahaya menunjukkan penurunan drastis kebutuhan pekerja berketerampilan rendah, sementara permintaan pekerja berketerampilan menengah melonjak hingga 2,5 kali lipat.
Daya Saing dan Skill Mismatch Jadi PR
Di tengah besarnya peluang, Indonesia masih menghadapi tantangan daya saing tenaga kerja. Berdasarkan data Global Talent Competitiveness Index (GTCI), daya saing talenta Indonesia berada di peringkat 80 dari 135 negara, tertinggal dari Malaysia, Vietnam, dan Filipina, serta hanya lebih unggul dari India (peringkat 100).
“Minat pendidikan vokasi kita sebenarnya relatif tinggi. Masalah utamanya ada pada skill mismatch karena minimnya pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan riil perusahaan,” ungkap Sahaya.
Selain itu, kurangnya tenaga kerja tingkat tinggi seperti profesional, peneliti, dan manajer senior, serta rendahnya kesejahteraan karyawan (peringkat 79), masih menjadi persoalan dalam mempertahankan talenta terbaik.
Peluang bagi Lulusan Non-STEM
Sebagai solusi, Sahaya merekomendasikan kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan. Bagi pencari kerja, mahasiswa, maupun fresh graduate, ia mendorong peningkatan visibilitas keterampilan melalui sertifikasi, kursus intensif, dan program magang di industri (on-the-job training).
Sahaya menekankan, peluang green jobs tidak eksklusif bagi lulusan rumpun Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Lulusan Ilmu Sosial dan Humaniora (Soshum) memiliki peluang sama besar asalkan mampu mengawinkan ilmu utamanya dengan literasi lingkungan.
“Misalnya, lulusan Manajemen Sumber Daya Manusia dapat mengambil sertifikasi Health, Safety, and Environment (HSE) di industri, atau lulusan Ekonomi Syariah melakukan riset terkait pembiayaan transisi energi berbasis syariah. Dengan menjadi talenta yang versatile atau menguasai keterampilan lintas disiplin dan terus menerapkan lifelong learning, tenaga kerja kita akan lebih siap terserap oleh kebutuhan industri hijau saat ini,” tutup Sahaya.
Tentang Youth Economic Summit 2026
Youth Economic Summit 2026 diselenggarakan CORE Indonesia bersama Suara.com, dengan European Union sebagai special participant. Acara ini turut didukung VIRIYAENB, OVO, Solaria, Manulife, MIND ID, Mekari, MangKatsu, Frisian Flag, Le Minerale, Garudafood, Tenku, Paling Kopi, dan Nissin Wafers.
Adapun mitra komunitas yang terlibat meliputi Ruang Gagasan, YourSay, Aliansi Remaja Independen, AIESEC Indonesia, Bajik Pendidikan, Generasi Energi Bersih Indonesia, Youth Ranger Indonesia, FOSSEI (Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam), FPCI Climate Unit, dan Jakarta Mendunia.
Sedangkan mitra media yang mendukung penyelenggaraan YES 2026 meliputi Katadata, Inilah.com, Kawan GNFI, BeritaSatu, MetroTVNews.com, Metro TV, Tempo, Investor.id, Bisnis Indonesia Group, Bisnis Muda, Delta FM, Staradio Tangerang, dan Tenten Go.
Pewarta: Alri Johan
Editor : Angga Saputra






