BANYUMAS — Kepala Desa Sawangan Wetan Kecamatan Patikraja, Kuswanto, menyatakan bahwa pihaknya bersama keluarga telah mengantarkan sampel darah ke Polresta Banyumas. Langkah itu dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya temuan jasad yang menyerupai Windianto alias Anto, warga desanya yang menjadi korban hilang dalam kecelakaan Kapal KM Virgo Transport 8.
“Pihak keluarga yaitu keponakan telah pulang. Kebetulan dari Kapolda Kalimantan Selatan juga menyampaikan akan memberikan kabar karena secara ikatan emosional, Mas Anto ada kedekatan dengan pihak lembaga karena pernah ada pengiriman barang ke sana,” kata Kuswanto, Rabu (30/9/2026).
Kuswanto menambahkan, selain menjalin komunikasi dengan Polresta Banyumas, keluarga Anto masih menggelar doa bersama untuk keselamatan korban. “Doa bersama oleh keluarga sampai dengan tadi malam terus dilakukan,” ujarnya.
Pengusaha Ekspedisi yang Ikut Tenggelam
Anto, warga RT 03 RW 03 Desa Sawangan Wetan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, merupakan salah satu korban dalam insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Pria 41 tahun itu adalah pemilik JSKS Trans Antar Nusa, jasa ekspedisi kirim barang untuk seluruh wilayah Tanah Air.
Aghis, istri Anto, masih menyimpan percakapan terakhir dengan suaminya. Kamis (10/9/2026) malam, Anto berpamitan.
“Berangkat malam Jumat setengah dua belas, berangkat dari rumah mampir ke Solo ambil muatan gerobak dibawa ke Kalimantan,” ujar Aghis menirukan pesan suaminya.
Anto tidak berangkat sendiri. Ada Arifin, kernet asal Purbalingga, yang menemaninya. Bagi Aghis, Arifin sudah lama dikenal sebagai teman komunikasi Anto, namun baru kali ini ikut dalam satu perjalanan.
Setelah mengambil muatan di Solo, Anto menuju pelabuhan dan naik kapal Sabtu pukul delapan pagi. “Jam sepuluh malam pagi sudah jalan, masih komunikasi seperti biasa. Wasap terakhir 00.26 WIB pada hari Minggu,” kata Aghis.
Dibangunkan Sebelum Kapal Tenggelam
Malam itu, sekitar pukul 01.00 WIB, cuaca mulai memburuk. Arifin merasakan kapal bergoyang keras, lalu membangunkan Anto yang sedang tidur.
“Ceritanya Arifin, dia sempat membangunkan Mas Anto, dia melihat sampai Mas Anto duduk. Kemudian Arifin pergi,” ujar Aghis.
Anto sempat bangun dan duduk. Lalu Arifin pergi menyelamatkan diri. Itulah momen terakhir Anto terlihat dalam kondisi sadar.
Aghis menyebut, suaminya biasanya menggunakan Kapal Dharma Rucitra. Baru kali pertama Anto menaiki kapal tersebut. Dari titik lokasi kejadian, informasi yang diterima Aghis menyisakan waktu sekitar lima jam lagi untuk sampai di Banjarmasin.
“Informasinya tinggal lima jam lagi sampai. Arifin selamat dan sudah dievakuasi, sekarang masih di Banjarmasin,” kata dia.
Dari Banjarmasin, Arifin mengirim rekaman suara WhatsApp kepada seseorang yang disebutnya Mandor. Dalam rekaman itu, ia menuturkan detik-detik mencekam.
“Saya sudah pasrah pada takdir karena tidak ada alarm, tiba-tiba saja kapal tenggelam. Saya sudah tenggelam sampai kemudian ada kapal tongkang dan saya diselamatkan oleh kapal itu,” ungkapnya.
Arifin mengaku, pukul 01.00 kapal tiba-tiba miring tanpa pemberitahuan. Para sopir dan crew kendaraan panik dan berlarian menuju kapal tongkang. Dalam kepanikan itu, Arifin sempat menyebut posisi Anto.
“Anto posisi neng mburine nyong (di belakang saya),” katanya.
Namun, ia tidak melihat kondisi Anto. Yang ia lihat hanya sekitar tiga hingga empat orang sudah tergeletak meninggal dunia. Oli sudah membludak di atas kapal.

Doa dari Rumah
Di Sawangan Wetan, Senin (14/9/2026) malam, keluarga Widianto menggelar doa bersama. Tahlilan. Warga datang berbondong-bondong.
Bukan hanya di rumah, doa juga mengalir di warung milik Anto, di perbatasan Desa Sawangan Wetan dan Desa Panusupan, Kecamatan Cilongok.
Anto dikenal sebagai putra Ki Karwin, dalang yang cukup disegani di kalangan masyarakat. Sosoknya akrab, ramah, dan selalu pulang membawa cerita.
“Beliau juga sahabat kami, komunikasi bahkan masih kami lakukan sebelum berangkat,” kata Sigit Soeranangga, teman Anto.
Dilansir dari detiknews.com, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii mendesak operasi pengangkatan KM Virgo Transport 8 segera dilakukan. Meski begitu, Basarnas menjelaskan sejumlah faktor penyulit dalam operasi tersebut.
“Yang kita lihat kondisi kapal (KM Virgo) panjangnya hampir 120 m, lebarnya 21 m dengan tinggi kira-kira 18 m dalam kondisi kebalik dan dia juga sudah menyentuh tanah. Mungkin ini juga ada faktor-faktor kesulitan sendiri sehingga tidak semudah itu langsung bisa diapungkan kemudian dibalik,” ujar Syafii seusai pembukaan the 13th ASEAN Transport SAR Forum and ASEAN SAR Exercise 2026 di Jogja, Selasa (29/9/2026).
Syafii mengatakan, pihaknya membuka kemungkinan melibatkan negara lain dalam teknis pengapungan KM Virgo sebelum ditarik. Setelah proses pengapungan selesai, menurutnya, proses penarikan tidak membutuhkan waktu lama.
“Untuk proses pengapungan juga kita kemarin sempat komunikasi mungkin akan melibatkan negara yang memiliki kemampuan itu,” ungkapnya.
“Kalau misalkan semuanya sudah ter-setting dengan baik, proses itu sebenarnya tidak terlalu lama. Karena yang jelas proses awalnya adalah pengapungan dulu, diangkat, kemudian baru dipasang belt, jadi kapal itu dikelilingi belt baru ditaruh dari kedua belah sisi,” urainya.
Syafii menjelaskan, operasi salvage bisa memakan waktu lama, bahkan hingga tiga tahun. Ia mencontohkan proses salvage kapal pesiar besar.
“Contoh kecelakaan kapal pesiar Concordia, Italia kalau tidak salah. Ternyata proses salvaging karena itu memang kapal pesiar membutuhkan waktu sampai 3 tahun. Tapi kalau kapal itu kecil mungkin 1 hari bisa langsung dibalik,” paparnya.
Syafii menerangkan, kewenangan operasi salvage sesuai undang-undang berada di pihak asuransi, dalam hal ini perusahaan asuransi pelayaran P&I (Protection and Indemnity). Ia mendesak operasi ini dilakukan segera.
“Karena kita tahu di dalam kapal masih ada korban, kita meminta bahwa amanah undang-undang itu bisa dilaksanakan secepat-cepatnya,” jelas Syafii.
“Dengan harapan untuk bisa kita laksanakan evakuasi atau pencarian dan evakuasi seluruh korban yang berada dalam kapal,” sambungnya.
Terkait operasi salvage, Syafii mengatakan pihak perusahaan asuransi dari awal sudah kooperatif dan telah melaksanakan observasi. Dari observasi itu dinyatakan bahwa operasi salvage memungkinkan untuk dilakukan.
“Setelah diobservasi, kita fasilitasi waktu itu, dari pihak asuransi untuk melihat kondisi dan dipastikan asuransi bisa untuk melakukan tindakan salvage,” ujarnya.
“Entah itu nanti akan ditarik atau dibalik dulu baru yang pasti diapungkan dulu, apakah langsung ditarik atau dibalikkan dan itu yang sedang kita dorong untuk bisa segera dilaksanakan. Sehingga kita yakinkan bahwa di dalam kapal ini mudah-mudahan seluruh korban bisa kita evakuasi,” imbuhnya.
Angga Saputra







