FOKUS UTAMA – Kasus dugaan keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Kalangan masyarakat sipil yang tergabung dalam MBG Watch mencatat sedikitnya 43 ribu anak mengalami keracunan dalam 20 bulan, dengan 1.600 korban baru dalam tiga hari terakhir. Pemerintah dinilai belum mengambil langkah komprehensif meski jumlah korban terus bertambah.
CEO Nusantara Centre, Prof. Yudhie Haryono PhD, mengatakan pihaknya telah melakukan focus group discussion (FGD) bertema apresiasi dan kritik terhadap program MBG. Dari forum tersebut, Nusantara Centre merumuskan lima rekomendasi utama.
Pertama, pemerintah diminta berhati-hati soal anggaran dan keberlanjutan program. Menteri Keuangan perlu super cermat dan detail soal ini. Kedua, hati-hati soal eksekusi di lapangan, sebab program ini melibatkan banyak pihak. Ketiga, hati-hati soal target dan capaian karena Indonesia belum punya big data yang solid.
Keempat, hati-hati dengan dampak buruk. Sebab banyak UMKM sekarat, seperti pedagang kantin sekolah dan penjual jajanan yang kehilangan pendapatan karena anak-anak memilih makan gratis. Kelima, hati-hati dengan tata kelola. Banyak yang keracunan, sehingga BPOM dan ahli gizi perlu dilibatkan sebanyak mungkin.
“Singkatnya, niat dan tujuan bagus, tapi eksekusinya terlalu penuh KKN. Kalau manajemen dapur, anggaran, dan data beres, program ini bisa benar-benar berdampak luar biasa bagi rakyat Indonesia. Sayangnya kok belum dan tidak terlihat menuju ke sana,” ujar Yudhie.
Kasus Terbaru di Pati
Terbaru, ratusan siswa di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Jumlah korban terus bertambah, sementara polisi masih melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi.
Kasat Reskrim Polresta Pati, Kompol Dika Hadian Widya Wiratama, mengatakan pihaknya telah memeriksa saksi dari kalangan siswa maupun pihak SPPG.
“Saksi dari siswa dan SPPG yang telah kita periksa. Kita sampaikan nanti informasi yang lebih lanjut. Kita masih proses penyelidikan,” kata Dika, dilansir detikJateng, Sabtu (12/9/2026).
Dika menuturkan, selain memeriksa saksi, pihaknya juga telah mengambil sampel dari menu MBG yang diduga memicu keracunan untuk diuji di laboratorium forensik.
“Kita juga sudah ambil sampel makanan dan sisa muntahan dari para siswa untuk dilakukan uji labfor,” jelasnya.
Hingga saat ini, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka. Dika menegaskan penyelidikan masih berlangsung.
“Kami masih melakukan penyelidikan,” imbuhnya.
Jumlah korban yang diduga mengalami keracunan dari sejumlah sekolah di Gembong, Pati, bertambah pada Jumat (11/9/2026). Korban yang sebelumnya berjumlah 259 orang menjadi 401 orang, berasal dari 4 sekolah dan 1 posyandu.
Dari data hari Jumat, sebanyak 48 orang dirawat di rumah sakit, 319 orang rawat jalan, dan sisanya sudah membaik setelah diobati.
Tim Redaksi






