Riswo Mulyadi
Pendidik dan Penulis
Ada saat ketika sebuah bangsa perlu berhenti sejenak dari keluhannya. Bukan untuk menyangkal luka, apalagi berpura-pura bahwa segala sesuatu telah baik-baik saja. Kita hanya perlu memberi ruang kepada diri sendiri untuk bernapas, menatap merah putih yang berkibar, lalu mengingat bahwa harapan belum sepenuhnya padam.
Agustus datang membawa suasana yang berbeda. Jalan-jalan kampung berubah menjadi panggung kegembiraan. Anak-anak berlari dengan wajah penuh cahaya. Drum ditabuh, peluit ditiup, suara musik bersahutan dari pengeras suara. Di tengah kesederhanaan itu, rakyat menemukan alasan untuk tertawa.
Untuk sesaat, kita boleh melupakan harga-harga yang terus bergerak naik, janji-janji yang kerap turun nilainya, serta harapan yang berkali-kali pulang dengan wajah kecewa.
Bukan berarti semua persoalan selesai. Justru karena persoalan itu masih ada, kita membutuhkan kegembiraan.
Sebab bangsa yang terlalu lama menatap lukanya bisa lupa bahwa ia masih memiliki masa depan.
Maka ketika suara-suara itu menyatu di bawah kibaran merah putih, kita berteriak:
MERDEKA!
Teriakan itu bukan sekadar bunyi yang menggema di lapangan. Ia adalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa kita masih mencintai negeri ini, meski kadang kecewa kepadanya. Bahwa mencintai Indonesia tidak selalu berarti membenarkan segala yang terjadi di dalamnya.
Kita boleh kecewa kepada penguasa, tetapi jangan sampai kecewa kepada negeri. Kita boleh mengkritik keadaan, tetapi jangan kehilangan keyakinan bahwa keadaan dapat diubah.
Karena kemerdekaan bukan hanya warisan yang dirayakan setiap Agustus. Ia adalah pekerjaan panjang yang harus terus dijaga—dengan kejujuran, keberanian, kepedulian, dan kesediaan untuk tidak menyerah pada keadaan.
Maka biarkan hari ini anak-anak tertawa. Biarkan kampung menjadi riuh. Biarkan merah putih memenuhi jalan-jalan. Biarkan kita berteriak sekeras-kerasnya:
MERDEKA!
Untuk mereka yang telah pergi membawa cita-cita.
Untuk mereka yang masih bertahan di tengah kesulitan.
Untuk mereka yang setiap hari bekerja, mengajar, bertani, berdagang, mengabdi, dan menyalakan kehidupan dari hal-hal kecil.
Dan bila setelah pesta usai luka kembali mengetuk pintu, bukalah.
Kita akan menghadapinya esok pagi.
Hari ini, mari lupakan luka sejenak.
Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan untuk mengumpulkan tenaga agar mampu kembali menghadapinya.
Sebab ada cinta kepada Indonesia yang kadang tidak membutuhkan pidato panjang.
Cukup satu kata.
MERDEKA!







