PURWOKERTO — Kabar operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyeret Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan sejumlah pihak dalam dugaan korupsi penerimaan mahasiswa baru menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Banyumas. Peristiwa ini, menurut sejumlah pengamat, tidak cukup dibaca sebagai persoalan hukum semata, melainkan perlu menjadi momentum refleksi terhadap wajah pendidikan Indonesia.
Miftahusurur, seorang pendidik sekaligus Sekretaris DPC PPP Kabupaten Banyumas, menyampaikan keprihatinannya terhadap kasus yang mencoreng dunia pendidikan tinggi di Banyumas. Baginya, ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menanamkan kejujuran dan keteladanan justru diduga bersentuhan dengan praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur pendidikan.
“Yang saya khawatirkan adalah ketika ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menanamkan kejujuran dan keteladanan justru diduga bersentuhan dengan praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan,” ujar Miftahusurur kepada wartawan, Minggu (23/8).
Tabula Rasa: Manusia Lahir Bagai Kertas Putih
Di tengah kegelisahan tersebut, Miftahusurur menyoroti pemikiran John Locke seorang tokoh filsafat dan tokoh pendidikan tentang teori Tabula Rasa. Locke memandang bahwa manusia ketika lahir ibarat kertas putih (tabula rasa). Pengetahuan dan pembentukan diri manusia sangat dipengaruhi oleh pengalaman serta lingkungan yang membentuknya.
Dalam perspektif pendidikan, teori ini memberikan pesan penting: manusia tidak hanya dibentuk oleh apa yang diajarkan secara formal, tetapi juga oleh apa yang ia lihat, dengar, alami, dan rasakan dalam lingkungannya.
“Sekolah dan perguruan tinggi bukan hanya tempat transfer pengetahuan. Keduanya adalah lingkungan pembentukan manusia,” tegas Miftahusurur.
Lingkungan yang Memungkinkan Praktik Korupsi Tumbuh
Miftahusurur mengingatkan, apabila dugaan praktik korupsi dalam penerimaan mahasiswa baru terbukti melalui proses hukum, maka persoalannya tidak berhenti pada pelanggaran hukum oleh individu. Masyarakat perlu bertanya lebih dalam: lingkungan seperti apa yang memungkinkan perilaku tersebut tumbuh dan berlangsung?
Pertanyaan ini, kata dia, bukan untuk menggeneralisasi seluruh sivitas akademika Unsoed. Miftahusurur menegaskan pentingnya membedakan dengan tegas antara individu yang diduga melakukan pelanggaran dan ribuan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta alumni yang tidak terlibat. Proses hukum juga harus tetap dihormati dan setiap orang berhak atas asas praduga tak bersalah.
Momentum Refleksi bagi Dunia Pendidikan
Bagi masyarakat Banyumas, kasus ini seharusnya tidak hanya menjadi bahan perbincangan apalagi sekadar konsumsi media sosial. Miftahusurur menilai ini adalah kesempatan untuk bertanya kembali: sudahkah lembaga pendidikan kita menjadi lingkungan yang memberikan pengalaman positif bagi tumbuhnya karakter anak-anak?
“John Locke mengingatkan kita bahwa pengalaman dan lingkungan mempunyai peran besar dalam membentuk manusia. Maka, ketika kita berbicara tentang pendidikan karakter, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang menciptakan lingkungan yang layak untuk ditiru,” ujarnya.
Ia menegaskan, dunia pendidikan seharusnya menjadi tempat belajar bahwa kompetensi harus diperjuangkan, kesempatan harus diperoleh secara adil, kekuasaan adalah amanah, dan keberhasilan tidak boleh dibeli dengan mengorbankan integritas.
“Jika pendidikan gagal memberikan pengalaman tersebut, kita tidak hanya kehilangan kepercayaan kepada sebuah institusi. Kita juga berisiko mewariskan kepada generasi berikutnya sebuah pesan yang sangat berbahaya: bahwa nilai dapat dikalahkan oleh kepentingan,” tandasnya.
Kembalikan Pendidikan pada Hakikatnya
Miftahusurur berharap kasus ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan, bukan sekadar berita tentang penyalahgunaan wewenang.
“Mari kita kembalikan pendidikan kepada hakikatnya: bukan hanya mencetak manusia yang pintar, tetapi manusia yang mampu menggunakan kepintarannya dengan benar. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak lulusan yang mendapatkan gelar, tetapi berapa banyak manusia berintegritas yang lahir dari lingkungan pendidikan tersebut,” pungkasnya.
Pendidikan yang baik, menurutnya, harus dimulai dari satu hal sederhana namun mendasar: memberikan contoh yang benar sebelum meminta peserta didik melakukan hal yang benar.
Tim Redaksi








