Brili Agung
CEO Aksara Semesta Investama
Wakil Ketua HIPMI Institute
Hari ini saya menulis catatan ini langsung dari Yiwu, sebuah distrik selevel kabupaten di Provinsi Zhejiang, China. Perjalanan kali ini terasa sangat spesial dan penuh energi karena saya tidak sendiri. Saya mendapatkan amanah untuk memandu delegasi lebih dari 50 pengusaha Indonesia yang tergabung di Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) dalam agenda Business Trip sekaligus mengunci MoU Strategis Lintas Negara.
Kalau Anda berpikir pusat perdagangan dunia itu selalu kota megapolitan sekelas New York, Shanghai, atau London, Anda salah besar. Di tempat yang status administrasinya cuma setingkat “kabupaten” inilah, hampir 80% barang-barang komoditas kecil di seluruh pelosok bumi—mulai dari pernak-pernik rumah tangga, peralatannya, sampai barang di rak ritel kita, diproduksi dan dikirim ke seluruh penjuru dunia.
Melihat pemandangan di Yiwu ini bikin kepala saya berdenyut sekaligus miris kalau mengingat kondisi daerah-daerah kita. Bagaimana bisa sebuah wilayah sekelas kabupaten punya ekosistem rantai pasok (*supply chain*) begitu raksasa sampai bisa mendikte harga pasar global?
Jawabannya ada pada efisiensi radikal dan integrasi teknologi digital.
Berada di provinsi yang sama dengan Hangzhou (markas utama Alibaba), Yiwu mengalami lompatan kuantum saat sentuhan dingin Jack Ma mengintegrasikan platform B2B Alibaba (seperti 1688) langsung ke lapak-lapak fisik pedagang di Yiwu. Hasilnya gila: toko-toko kecil di sini tidak lagi cuma duduk manis menunggu pembeli datang membawa koper, tapi bisa melayani transaksi grosir skala besar dari berbagai belahan dunia secara *real-time* cuma dari layar gawai.
Itulah alasan utama mengapa saya membawa rombongan 50 lebih pengusaha Serikat Usaha Muhammadiyah terbang langsung ke sini. Kita tidak boleh membiarkan pengusaha lokal dan anggota jaringan kita cuma pasrah jadi penonton, atau sekadar jadi *reseller* eceran paling ujung yang gampang tergilas zaman. Lewat *MoU Strategis* yang kami layangkan, kami ingin mengambil celah: mempelajari efisiensi sistem mereka, memotong mata rantai yang tidak perlu, dan membangun akses kemitraan B2B yang memposisikan pengusaha kita sebagai pemain utama, bukan sekadar objek pasar.
Sebagai orang yang mengelola unit bisnis di sektor ritel, F&B, agribisnis, hingga properti produktif, perjalanan ini memberikan tamparan keras sekaligus suntikan optimisme. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan banjir barang impor kalau kita sendiri enggan mempelajari cara kerja rantai pasok dunia.
Saatnya gerakan ekonomi komunitas seperti Serikat Usaha Muhammadiyah ini melompat lebih jauh: melek peta rantai pasok global, membangun efisiensi konsolidasi, agar bisnis lokal kita berdaulat dan berjaya di negeri sendiri.
Menurut Anda, langkah konkrit apa yang harus segera kita persiapkan di daerah agar jaringan UMKM kita tidak cuma jadi penonton di tengah gempuran produk global?








