Angga Saputra
DEPRESI tak pernah pandang bulu. Ia pukul rata, entah politisi di panggung kekuasaan atau musisi di panggung dunia. Dalam lansiran Health.com, pekerja kreatif, termasuk musisi yang menduduki peringkat kelima dari sepuluh profesi paling rentan terhadap depresi. Sebuah fakta yang kerap tenggelam di balik gemuruh sorak penonton dan kilatan lampu panggung.
Kepergian Chester Bennington adalah tamparan keras. Vokalis Linkin Park yang selama bertahun-tahun menjadi suara bagi mereka yang merasa tersisih, akhirnya memilih hening dengan cara paling tragis: gantung diri di rumahnya di California.
“Nothing makes me happy. I don’t like anyone, and I even told one of my therapists at one point, I said ‘I just don’t wanna feel anything’.”
Kata-kata Chester dalam video Goalcast itu menggambarkan ironi pahit seorang musisi. Ia yang menghidupkan lagu-lagu tentang rasa sakit ternyata tenggelam dalam rasa sakit yang tak kunjung reda. Kecanduan narkotika dan alkohol, luka masa kecil akibat pelecehan dan kekerasan, serta kritik pedas penggemar atas album One More Light yang dianggap “tidak terdengar seperti Linkin Park”, semua menjadi bahan bakar yang mempercepat ledakan.
Dia menghembuskan nafas terakhir pada usia 41 Tahun.
Dan di sinilah kita berhenti sejenak. Bertanya: berapa banyak lagi yang berjuang dalam sunyi?
Lalu kita ingat The 27 Club. Deretan musisi berpengaruh yang berpulang di usia yang sama: 27 tahun. Robert Jhonson, Jimi Hendrix, Jim Morrison, Janis Joplin, Brian Jones, Kurt Cobain, Amy Winehouse. Mati karena overdosis, bunuh diri, atau kombinasi keduanya.
Robert Johnson (1911–1938) adalah seorang gitaris dan penyanyi blues asal Amerika yang lahir pada 8 Mei 1911. Ia dianggap sebagai maestro blues dan menciptakan lagu-lagu hits seperti “I Believe I’ll Dust My Broom,” “Cross Road Blues,” serta “Sweet Home Chicago.”
Pada 16 Agustus 1938, di usia 27 tahun, Johnson meninggal dunia karena diracun, yang oleh banyak orang diyakini sebagai tindakan sengaja. Namanya baru dihormati atas jasa-jasanya di bidang musik dan aliran blues setelah ia tiada.Meskipun detail kematiannya masih misterius, warisan dan musiknya tetap abadi.
Jimi Hendrix ditemukan di apartemen London, 18 September 1970. Overdosis sembilan resep obat tidur. Muntah-muntah tak keruan, hingga tak sadarkan diri dan tewas.
Janis Joplin, pelantun Piece of My Heart, tewas empat belas hari kemudian—4 Oktober 1970—karena overdosis heroin, ditambah pengaruh alkohol. Di rumahnya sendiri.
The Guardian melansir, obat dan alkohol telah lama menjadi “sahabat akrab” musisi. Efek menenangkan sebelum panggung, peredam euforia setelahnya. Siklus yang mematikan.
Amy Winehouse menggambarkan semuanya dalam lirik yang kini terasa seperti ramalan:
“They tried to make me go to rehab
I said, no, no, no
Yes, I been black
But when I come back, you’ll know, know, know”
Amy ditemukan tewas dengan kadar alkohol 416, jauh di atas batas legal. Lagu “Rehab” bukan sekadar karya—ia adalah otobiografi.
Lalu ada Kurt Cobain. 5 April 1994. Usia 27.
“Saya sudah bilang supaya dia tidak bergabung dengan klub bodoh itu,” ujar Wendy Cobain, ibunya, kepada Associated Press. Kata-kata itu menyebar ke seluruh dunia. Dari sanalah jargon Klub 27 lahir.
Charles R. Cross, penulis biografi Hendrix dan Cobain, menyebut fenomena ini mencengangkan—meski ia menolak kaitannya dengan tahayul. Menurut Cross, media turut memberi andil besar. Tahun 1994, televisi, majalah, dan internet tumbuh pesat. Arus informasi berlari kencang. Sensasionalisme mengabadikan mitos.
Saat ini, Klub 27 belum memiliki anggota baru. Tapi pertanyaannya tetap menganga: berapa banyak musisi di luar sana yang saat ini sedang berjuang melawan iblis yang sama? Berapa banyak yang diam-diam mempertanyakan makna di balik tepuk tangan meriah, yang merasakan kekosongan di tengah keramaian panggung?
Dunia musik telah kehilangan terlalu banyak jiwa. Bukan karena mereka lemah, tapi karena tekanan yang mereka hadapi sering kali tak terlihat oleh mata yang hanya ingin melihat gemerlap.
Karya-karya dan sensasi anggota Klub 27 sudah terpatri. Lagu-lagu mereka akan selalu dinikmati, layaknya petikan syair “Rehab” yang hingga kini sesekali masih terdengar di radio.
Tapi kita tak perlu menunggu anggota baru untuk bertindak. Kita bisa mulai dengan mendengar—benar-benar mendengar—teriakan sunyi di balik nada. Menjadi telinga yang cukup untuk mencegah satu nyawa lagi bergabung dengan klub yang tak pernah diminta siapa pun.
Redaksi :
Untuk mereka yang masih berjuang melawan suara di dalam kepala: kamu tidak sendirian.








