Tim Liputan Indiebanyumas
Gemerlap warna-warni lampu menghiasi setiap sudut Desa Jipang, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Bukan sekadar pajangan biasa, ini adalah wujud nyata kreativitas dan semangat gotong royong yang menyala di tengah keterbatasan ekonomi.
Memasuki Agustus 2026, desa yang diapit dua sungai besar, Logawa dan Mengaji, itu berubah menjadi lautan cahaya. Total 22 RT berlomba menghias lingkungan dengan lampu-lampu artistik. Suasana kemerdekaan terasa sejak dini, bahkan sebelum panitia resmi mengumumkan perlombaan.
Menara 7 Pahlawan: Ketika Bambu Berbicara
Di RT 2 RW 3, sebuah menara setinggi kurang lebih 5 meter berdiri kokoh. Terbuat dari bambu, bentuknya menyerupai Menara Eiffel yang dihiasi lampu berkelap-kelip. Namun, yang membedakannya adalah filosofi di balik setiap lekukan bangunan.
“Konsepnya penghargaan terhadap 7 pahlawan revolusi, jadi kami namakan Menara 7 Pahlawan Revolusi,” ungkap Ketua RT 2/3, Tasam, kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).

Menariknya, kreasi ini lahir jauh sebelum ada pengumuman lomba. “Kami membuat hiasan ini awalnya tak tahu ada lomba. Ternyata dilombakan, semoga bisa menang,” ujar Tasam sembari tersenyum.
Biaya pembuatan menara mencapai Rp10 juta, seluruhnya dari iuran warga. Bahkan, pembayaran token listrik pun dilakukan secara bergiliran, dengan antusiasme yang mengagetkan.
“Ibarat kata, mereka berebut untuk siap membayar. Kami sangat antusias menyambut bulan kemerdekaan, bahkan di tengah situasi ekonomi yang sedang kurang baik,” katanya.
Gatotkaca dan Red Bull: Perpaduan Timur-Barat
Tak jauh dari lokasi tersebut, suasana tak kalah meriah di RT 3 RW 2. Memasuki kawasan itu, pengunjung langsung disambut rangkaian lampu yang membentang di sepanjang jalan. Setiap 10 meter, mata dimanjakan ornamen mulai dari sosok Gatotkaca, burung Garuda, hingga figur Red Bull. Semua dipadukan dalam satu konsep utuh.
Perancang dekorasi RT 3 RW 2, Anto Joh, mengatakan tema yang diusung adalah keberagaman kebudayaan. Gatotkaca dipilih sebagai simbol budaya tradisional Nusantara, sementara figur Red Bull menjadi representasi budaya Barat.
“Semua budaya kita angkat. Ada Gatotkaca sebagai simbol tradisional dan figur Red Bull yang menggambarkan budaya Barat,” ujarnya.

Proses menghias kawasan itu berlangsung sekitar satu minggu. Seluruh warga dilibatkan, termasuk para ibu rumah tangga yang membuat ornamen dari tali rafia sebagai pelengkap dekorasi. Anggaran yang dihabiskan pun berkisar Rp10 juta.
Dengan kerja keras kolektif, Anto optimistis wilayahnya mampu bersaing menjadi nominasi juara.
Pengunjung dari Luar: “Setiap Tahun Saya ke Sini”
Gemerlap Jipang ternyata tak hanya dinikmati warga setempat. Puji Sabariah, warga Desa Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas, sengaja datang untuk menyaksikan keindahan setiap sudut RT.
“Tadinya mau rombongan, tapi belum jadi karena yang lain sedang ada kegiatan. Mungkin tetangga lain menyusul. Setiap tahun saya ke sini pada bulan Agustus, karena suasananya berbeda,” tutur Puji.
Gotong Royong di Tengah Keterbatasan
Tasam mengakui, kas RT-nya kini benar-benar kosong setelah dialokasikan untuk pembuatan lampu hias. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat warganya untuk tetap berpartisipasi dalam lomba karnaval, yang tahun sebelumnya berhasil menjadi juara pertama.
“Kami tetap akan ikut meski biaya kas RT sudah nol. Apapun caranya nanti bisa, kami yakin,” tegasnya.

Ketua Panitia Lomba, Ati Setyowati, S.H., mengungkapkan bahwa “Jipang Menyala” baru pertama kali diadakan tahun ini. Sebelumnya, lampu hias memang selalu dipasang warga setiap tahun, namun baru kali ini diperlombakan.
“Alhamdulillah antusias warga sangat luar biasa. Kreativitas warga Desa Jipang pantas diapresiasi,” kata Ati.
Tema “Jipang Menyala” memberikan kebebasan penuh bagi warga untuk berkreasi. Tidak ada batasan bentuk atau gaya, yang penting semarak dan penuh inovasi.
“Jadi bebas, silakan warga di tiap RT untuk berkreasi dengan hiasan lampunya. Harapan kami, Desa Jipang bisa dikenal luas karena kreativitas dan antusiasmenya,” tambahnya.
“Ini Bukti Cinta Tanah Air”
Kepala Desa Jipang, Hartanto, S.E., mengungkapkan kebanggaannya atas semangat gotong royong yang tampak jelas dalam persiapan lomba.
“Warga sangat antusias. Mereka bersama-sama menghias dan memperindah lingkungan di wilayah masing-masing,” ujar Hartanto.
Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi momentum menghidupkan kembali semangat kebersamaan. Setiap RT diberi ruang untuk menampilkan kreativitas dan keunikannya masing-masing.

“Ini membuktikan bahwa warga Desa Jipang sangat cinta terhadap tanah air. Warga tidak melihat siapa ketua RT-nya, siapa kadusnya, siapa kadesnya. Mereka berpikir secara makro, ini bagian dari cinta kepada tanah air,” tegasnya.
Hartanto juga mengakui bahwa belum semua RT menyelesaikan hiasannya. Bahkan, beberapa gang sempat ditutup sementara demi proses kreativitas.
Rangkaian Acara Sepanjang Agustus
Panitia peringatan HUT ke-81 RI Desa Jipang telah menyiapkan serangkaian kegiatan:
Tanggal Kegiatan Lokasi
1–31 Agustus Lomba Kreasi Lampu Hias “Jipang Menyala” Seluruh RT Desa Jipang
1–31 Agustus Lomba K3 (Kebersihan, Ketertiban, Keamanan) Desa Jipang
13–15 Agustus Karaoke Gratis untuk Umum & Lembaga Halaman Balai Desa Jipang
17 Agustus 06.30 WIB Upacara Bendera HUT ke-81 RI Lapangan Desa Jipang
17 Agustus 12.00 WIB Gerak Jalan Antar RT Jalan Desa Jipang
29 Agustus Resepsi Malam Puncak & Pengumuman Juara Balai Desa Jipang
Total hadiah yang disediakan panitia mencapai Rp50 juta untuk berbagai kategori lomba.
Jipang Menyala bukan sekadar lomba. Ini adalah gerakan kolektif yang membuktikan bahwa semangat kebersamaan dan cinta tanah air tetap menyala—bahkan di tengah tantangan ekonomi. Desa yang mungkin tak terlalu dikenal, kini mulai menarik perhatian berkat kreativitas dan antusiasme warganya.
Gemerlap Jipang, Gemilang Indonesia.







