PURWOKERTO – Polresta Banyumas masih mendalami penyebab ambruknya tribun VIP di ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Drift Seri ke-3 Tahun 2026 yang berlangsung di GOR Satria Purwokerto. Insiden yang terjadi saat momen selebrasi itu mengakibatkan sedikitnya 83 orang mengalami luka-luka.
Hingga kini, penyidik telah memeriksa sekitar 10 orang saksi dari berbagai unsur penyelenggara, mulai dari event organizer (EO), penanggung jawab kegiatan, kru pembangun tribun, hingga petugas pengamanan.
Kapolresta Banyumas Kombes Pol Petrus P. Silalahi menegaskan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung dan pihaknya belum menyimpulkan penyebab pasti maupun menetapkan tersangka.
“Nanti akan kami sampaikan setelah penyelidikan selesai,” ujar Petrus, Senin (27/7).
Selebrasi Drifter Picu Desak-desakan
Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menemukan fakta bahwa insiden berawal dari momen selebrasi di akhir perlombaan. Para drifter melemparkan kaus kepada penonton di tribun VIP, yang memicu kerumunan dan perebutan.
“Penonton berebut menangkap kaus sehingga terjadi desak-desakan dan pergeseran beban secara berulang di atas tribun. Pergeseran itu terjadi berulang karena pelemparan dilakukan lebih dari satu kali,” jelas Kapolresta.
Kondisi tribun yang merupakan konstruksi nonpermanen diduga tidak mampu menahan pergeseran beban tersebut hingga akhirnya ambruk.
83 Korban Tersebar di Sejumlah Rumah Sakit
Insiden tersebut mengakibatkan 83 orang menjadi korban. Mereka tersebar di sejumlah rumah sakit di Purwokerto, di antaranya RSDKT, Elisabeth, Orthopaedi, RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, dan RS Ananda.
Sebagian besar korban mengalami luka ringan, namun ada pula yang menderita patah tulang. Pendataan korban dilakukan Polresta Banyumas bersama tim kedokteran kepolisian dan dinas kesehatan setempat.
Polisi Lakukan Olah TKP dan Evaluasi
Selain memeriksa saksi, polisi juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengungkap penyebab teknis ambruknya tribun. Meskipun koordinasi dan pengecekan konstruksi panggung disebut telah dilakukan sebelum acara, polisi masih mendalami apakah ada kelalaian dalam aspek keselamatan.
Kapolresta berharap peristiwa ini menjadi evaluasi bagi seluruh penyelenggara kegiatan yang menggunakan panggung atau tribun nonpermanen, terutama dalam memperhitungkan aspek keselamatan dan pengendalian massa.
“Ke depan, penyelenggara harus lebih serius dalam memastikan kekuatan konstruksi dan antisipasi dinamika penonton,” pungkasnya.
Penulis: Angga Saputra






