INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Fenomena ‘Dukun Piala Dunia’, Dari Ritual Peru hingga ‘La Brujineta’

Fenomena ‘Dukun Piala Dunia’, Dari Ritual Peru hingga ‘La Brujineta’

Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Minggu, 19 Juli 2026

Di tengah euforia final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol, fenomena paranormal dan ritual takhayul kembali mencuat ke permukaan. Mulai dari dukun tradisional di Peru yang menggelar ritual berbahan daun koka dan marmut hitam, hingga komunitas penyihir modern Argentina yang menamakan diri “La Brujineta”. Semuanya mengklaim memiliki andil dalam perjalanan Tim Tango ke partai puncak.

Dukun Peru: Kirim Energi Positif untuk Messi

Dilansir dari berbagai sumber, menjelang laga final di New Jersey, sekelompok dukun dari Peru menggelar ritual khusus di luar Stadion Nasional Lima. Mereka menggunakan peralatan tradisional seperti daun koka dan marmut hitam untuk memprediksi kemenangan Argentina serta mengirimkan energi positif kepada Lionel Messi. Salah satu dukun, Felix Roldan, bahkan mengklaim mendapat petunjuk dari arwah legenda Diego Maradona.

Namun, sejarah mencatat bahwa ritual serupa pernah gagal total. Pada upaya membantu Peru lolos ke Piala Dunia 2022, tim justru kalah 5-4 lewat adu penalti dari Australia.

‘La Brujineta’: Komunitas Penyihir yang Klaim Bawa Argentina Juara

Berbeda dengan ritual di Peru, di Argentina sendiri terdapat kelompok perempuan yang mengaku sebagai penyihir dengan nama “La Brujineta”—gabungan dari kata bruja (penyihir) dan La Scaloneta (julukan tim nasional di era pelatih Lionel Scaloni).

Dalia Walker, salah satu anggota dari Buenos Aires, meyakini bahwa “sihir membantu Argentina menang” pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Kelompok ini terhubung melalui grup WhatsApp dan media sosial untuk menentukan aspek performa tim yang memerlukan perhatian paling besar.

“Kami menggunakan lilin, doa, dan jimat,” kata Dalia. Ia menegaskan tidak setuju dengan ritual “membekukan” pemain lawan dan lebih memilih menyalakan lilin biru-putih—warna kebanggaan Argentina—serta mengirimkan energi baik.

“Bagi saya, ini benar-benar Piala Dunia para penyihir,” ujarnya. “Di Argentina, jika sesuatu berhasil, lain kali Anda harus mengulanginya dengan cara yang persis sama.”

Tuduhan Voodoo di Afrika: Antara Sihir dan Doa

Di benua Afrika, spiritualitas dan sepak bola juga tak terpisahkan. Pada November lalu, pelatih Nigeria, Éric Chelle, menuduh tim Republik Demokratik Kongo (RDK) menggunakan voodoo alias ilmu hitam dalam kualifikasi Piala Dunia—tudingan yang ditepis mantan pelatih RDK, Florent Ibenge, sebagai “omong kosong”.

Jurnalis sepak bola Maher Mezahi menjelaskan bahwa praktik spiritual tradisional Afrika kerap dipandang curiga karena “sepak bola cenderung Eurosentris”. Namun ia menekankan, “Ini bukanlah sesuatu yang harus membuat orang Afrika merasa malu. Ini adalah sesuatu yang kami praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.”

Doa Gereja dan Masjid untuk Tim Nasional Ghana

Berbeda dengan ritual paranormal, Ghana justru secara terbuka menggandeng pemuka agama. Menteri Olahraga Kofi Iddie Adams meminta jemaat gereja mendoakan tim nasional, sementara Asosiasi Sepak Bola Ghana (GFA) menggelar kebaktian nasional Kristen di Accra dan salat khusus bersama imam nasional.

“Kami percaya bahwa Tuhan berada di pusat dari segala yang kami lakukan,” kata jurnalis Nathan Laryea. “Ya, upaya manusia itu penting, tetapi ini adalah sentuhan khusus, berkah yang kami butuhkan untuk bisa memberikan hasil.”

Brasil Baptis Pesawat sebelum Berangkat

Satu-satunya negara dengan manifestasi agama terbuka dalam sepak bola, menurut Mezahi, adalah Brasil. Pada Piala Dunia 2002, Kaka melepas kostum dan memperlihatkan kaus bertuliskan “I Belong to Jesus”. Tahun ini, sebelum pesawat tim Brasil lepas landas menuju turnamen, pesawat tersebut “dibaptis” menggunakan mobil pemadam kebakaran di landasan—sebuah tradisi pemberkatan simbolis untuk perjalanan penting.

Para penggemar Brasil berharap ritual itu membantu negaranya meraih gelar keenam. Namun di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei memilih bertahan di rumah karena takhayul—menegaskan bahwa dalam sepak bola, keyakinan dan ritual, apa pun bentuknya, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pertandingan terbesar di dunia.

Tim Redaksi

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

PDIP Bangun Monumen Kudatuli, Hasto: Pengingat agar Kekerasan Atas Nama Negara Tak Terulang

Selanjutnya

Kejagung Masih Perdalam Bukti Kasus Krakatau Steel dan Batu Bara, Belum Tetapkan Tersangka Baru

POPULER BULAN INI

Sekda Banyumas: Pemkab Tunggu Surat Resmi DPRD Soal Tunjangan

Sekda Banyumas Buka Suara soal Polemik Lelang Parkir GOR Satria: Pemenang Bukan Sekadar Penawar Tertinggi

Kamis, 26 Februari 2026

PT Solusi Parkir Nusantara Menang Kerjasama Pengelolaan Parkir GOR Satria Purwokerto

Lelang Parkir GOR Satria: Sanggahan PT AKAS Gugur Hanya Gegara Salah Alamat

Kamis, 26 Februari 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Banyumas Raih Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih Nasional 2026

Kamis, 26 Februari 2026

TERBARU

Genap 1 Tahun, PESTOL Diapresiasi Tokoh Lintas Organisasi: Simbol Persaudaraan Banyumas yang Sejati

Genap 1 Tahun, PESTOL Diapresiasi Tokoh Lintas Organisasi: Simbol Persaudaraan Banyumas yang Sejati

Senin, 20 Juli 2026

Air Mata Messi di Akhir Laga: Argentina Gagal Pertahankan Gelar, Spanyol Juara

Air Mata Messi di Akhir Laga: Argentina Gagal Pertahankan Gelar, Spanyol Juara

Senin, 20 Juli 2026

Bukan Sekadar Buku, Karya Mahasantri Ma’had Aly Andalusia Tembus Tokoh Nasional dan Berbagai Daerah

Bukan Sekadar Buku, Karya Mahasantri Ma’had Aly Andalusia Tembus Tokoh Nasional dan Berbagai Daerah

Senin, 20 Juli 2026

Selanjutnya
Deretan “Bintang” di Tim Khusus Kejagung: 9 Jaksa Alumni KPK Tangani Perkara FA

Kejagung Masih Perdalam Bukti Kasus Krakatau Steel dan Batu Bara, Belum Tetapkan Tersangka Baru

Empat Anak Disabilitas Ganda Banyumas Terima Kursi Roda Adaptif Setelah Dua Tahun Menunggu

Empat Anak Disabilitas Ganda Banyumas Terima Kursi Roda Adaptif Setelah Dua Tahun Menunggu

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com