PURWOKERTO – Asosiasi Futsal Kabupaten (AFK) Banyumas terpaksa mengandalkan dana patungan pengurus untuk memberangkatkan kontingen atlet muda menuju Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Futsal di Kota Pekalongan. Ajang yang digelar 28 Juni hingga 4 Juli 2026 ini berlangsung di tengah sejumlah kendala, mulai dari bantuan pemerintah yang belum cair hingga polemik tarif sewa fasilitas olahraga di GOR Satria Purwokerto.
Ketua AFK Banyumas, Didi Rudianto SE MM, mengungkapkan bahwa hingga hari keberangkatan, Jumat (26/6/2026), dana hibah dari KONI dan Pemkab Banyumas sama sekali belum turun.
“Kami melakukan persiapan dan pembiayaan tim secara gotong royong sesama pengurus,” ujar politisi PDI-P tersebut.
Ia juga menyayangkan kebijakan pengelolaan GOR Satria yang dinilai tidak berpihak pada atlet daerah. Menurut Didi, selama pemusatan latihan (TC), AFK tidak diberikan akses gratis di kompleks olahraga milik pemerintah daerah tersebut.
“Padahal, seharusnya atlet yang membawa nama Kabupaten Banyumas mendapat fasilitas gratis dari Pemkab melalui Dinporabudpar,” keluhnya.
Ia bahkan menyoroti adanya surat disposisi dari Plt Kepala Dinporabudpar, Ir. Junaidi, yang justru meminta UPTD GOR Satria untuk menindaklanjuti permohonan AFK sesuai aturan yang berlaku, alih-alih memberikan keringanan.
Didi pun mempertanyakan efektivitas prosedur birokrasi tersebut. “Surat AFK meminta pembebasan biaya dengan meminta disposisi bupati untuk difasilitasi, sedangkan disposisi dari plt suruh bayar modal awal. Terus untuk apa minta disposisi ke bupati?” kritiknya.
Klarifikasi Dinas: Gratis Hanya Kewenangan Bupati
Menanggapi keluhan AFK, Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinporabudpar) Banyumas, Wahyudiyono, menegaskan bahwa pihaknya hanya menjalankan kebijakan dan aturan yang berlaku terkait retribusi GOR Satria.
“Bila memungkinkan tidak berbayar, itu harus bersurat kepada Pak Bupati karena yang bisa menggratiskan adalah Pak Bupati. Kalau tatarannya Kepala Dinas itu hanya bisa memberi diskon,” jelas Sudiyono.
Ia juga mengingatkan risiko administratif jika pihaknya bertindak di luar prosedur.
“Karena kalau kita diperiksa inspektorat, menggratiskan tanpa dasar akan jadi masalah. Kami persilakan jika ingin mengirim surat ke Bupati, nanti kami laksanakan perintahnya,” tambahnya.
Soal dukungan dana, Sudiyono menegaskan bahwa mekanisme hibah untuk cabor diatur oleh KONI, mulai dari pengajuan RAB, verifikasi, hingga penyesuaian dengan kemampuan APBD.
“Kalau soal dukungan dana, kami tidak punya anggaran langsung. Semua melalui KONI. Saya secara rinci tidak begitu paham, tapi yang mengatur memang KONI,” ujarnya.
Bantuan dari Swasta dan Target Semifinal
Di tengah kesulitan tersebut, semangat AFK Banyumas justru mendapat suntikan moral dari pihak swasta. SMK Mulia Bakti Dukuhwaluh memberikan akses gratis lapangan futsal untuk tempat latihan.
Bahkan, meski dalam keterbatasan, AFK tetap bertanggung jawab dengan mengganti kaca kelas yang pecah terkena bola saat latihan di sekolah tersebut.
Dengan persiapan seleksi dan pemusatan latihan yang berjalan sejak April lalu, AFK Banyumas tetap optimistis membawa nama daerah. Kontingen U-15, U-17, dan U-19 ditargetkan mampu menembus babak semifinal.
“Dengan segala keterbatasan ini, kami tetap optimis. Target semifinal adalah harga mati untuk mengharumkan nama Banyumas,” pungkas Didi.
Penulis : Angga Saputra








