Riswo Mulyadi
Dari gigir Bukit Sinawing yang sunyi, lanskap peradaban tampak seperti lembaran panggung yang bising namun berpola. Narasi tentang eksploitasi, pembungkaman, dan ledakan amarah kaum marginal bukanlah sebuah fiksi sosiologis, melainkan detak jantung sejarah yang terus berulang. Di bawah injakan kaki penguasa, rakyat kecil sering kali dipaksa menjadi martir demi megahnya sebuah kemajuan, hingga tiba di satu titik jenuh di mana duka bermutasi menjadi api yang menelan balik para penindasnya. Sejarah selalu mencatat dengan tinta tebal: “remah-remah” yang diinjak hari ini adalah air bah yang menenggelamkan menara kekuasaan di hari esok.
Eksploitasi Gula dan Ilusi Kemakmuran
Penderitaan kaum marginal yang memeras keringat demi kemakmuran penguasa memiliki kemiripan historis yang sempurna dengan era Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) di Nusantara pada abad ke-19, serta industri tebu di Karibia.
Di Hindia Belanda, masyarakat pribumi dipaksa menambang kekayaan bumi—terutama tebu dan kopi—dengan tubuh yang lumat oleh kerja rodi. Kesejahteraan dikirim ke Eropa untuk membangun kota-kota megah dan melicinkan peradaban Barat, sementara lambung tanah tempat mereka berpijak dikuasai oleh sistem kolonial yang diskriminatif. Rakyat pribumi diposisikan sebagai kelas terendah, kehilangan hak atas tanahnya sendiri, dan dihancurkan masa depannya hanya oleh satu tarikan napas kebijakan politik dari Batavia atau Den Haag.
Ketika Perut Lapar Mengubah Air Mata Menjadi Api
Kondisi di mana duka menjadi kemewahan yang tak sempat dicicil, dan ketika perut lapar berubah menjadi amarah, adalah pemantik utama meletusnya Revolusi Prancis pada tahun 1789.
Sebelum revolusi pecah, rakyat biasa (Third Estate) dipaksa membayar pajak yang mencekik untuk membiayai gaya hidup mewah para bangsawan—para “monsinyur tanpa jubah” di masa itu. Ketika krisis pangan melanda dan harga gandum melonjak, antrean makanan menjadi pemandangan sehari-hari yang berujung pada kelaparan massal. Bagi mereka, maut mengintai setiap hari sementara para elite abai di istana mereka yang megah. Romantisasi kesedihan pun hilang; air mata rakyat berubah menjadi pantulan api amarah. Puncaknya, massa yang lapar dan murka tidak lagi meminta belas kasihan, melainkan menyerbu Penjara Bastille dan meruntuhkan absolutisme monarki.
Solidaritas Sunyi di Tengah Industri Kematian
Bisikan sunyi di antara sesama martir untuk tetap bertahan di tengah “pabrik peti mati yang panen raya” mengingatkan kita pada nasib mengerikan para Romusha pada masa pendudukan Jepang, atau para buruh pabrik pada awal Revolusi Industri di Inggris.
Di bawah fasisme militer Jepang, ratusan ribu rakyat dikirim ke garis depan atau proyek infrastruktur maut. Mereka bekerja dalam kegelapan sistem, saling menyaksikan satu sama lain tumbang menjadi mayat tanpa nama. Kematian mereka adalah angka-angka statistik yang menguntungkan mesin perang penguasa. Solidaritas bawah tanah yang terjadi di antara para pekerja ini—layaknya sentuhan antena dalam gelap—adalah satu-satunya hal yang menjaga kemanusiaan mereka tetap hidup di tengah industri kematian yang sedang menikmati musim panennya.
Kotak Suara yang Menelan Angkara
Puncak dari segala penindasan adalah akumulasi penderitaan yang bergerak senyap namun masif, yang pada akhirnya menelan balik legitimasi penguasa. Sejarah modern mencatat lembaran ini pada runtuhnya rezim Apartheid di Afrika Selatan (1994) dan Gerakan Reformasi 1998 di Indonesia.
Selama puluhan tahun, rasialisme sistemis dan represi politik mencengkeram rakyat. Namun, ketika “ruwatan air mata” dari jutaan orang yang tertindas mencapai puncaknya, arus itu tidak bisa lagi dibendung oleh moncong senjata atau barikade aparat. Di Afrika Selatan, pemilu tahun 1994 menjadi “kotak suara yang menelan” seluruh tatanan Apartheid yang rasis, mengubah suara kaum kulit hitam yang selama ini dianggap remah-remah menjadi penentu fajar baru. Di Indonesia, krisis ekonomi dan penindasan politik yang menumpuk sekian lama meledak menjadi gerakan massa yang menuntut turunnya rezim yang menggilas mereka.
Memandang dari gigir Bukit Sinawing, kita diingatkan kembali bahwa struktur kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan rakyat kecil tidak akan pernah abadi. Para penguasa di ibu kota sering kali lupa bahwa kelompok yang mereka anggap sebagai “remah-remah” di bawah sol sepatu kebijakan, memiliki ingatan kolektif akan rasa sakit. Ketika liturgi penindasan itu sudah melampaui batas toleransinya, sejarah selalu menyediakan panggung bagi kaum marginal untuk bangkit, bergerak serentak, dan meruntuhkan dinasti para penindasnya.
Karang Anjog, Banyumas, 16 Juni 2026
Tentang Penulis:
Riswo Mulyadi, seorang guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.







