BANYUMAS – Ratusan pelajar dan mahasiswa memadati Alun-alun Kota Lama Banyumas pada Sabtu (13/6/2026). Mereka tidak sedang bermain ponsel, melainkan larut dalam keseruan Festival Dolanan Tradisional Banyumas (Fesdoramas) 2026 yang digelar oleh Induk Organisasi Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Inorga Portina) Kabupaten Banyumas.
Kegiatan ini menjadi upaya nyata melestarikan budaya lokal sekaligus membangun tradisi olahraga di tengah gempuran teknologi digital.
Ketua Panitia Fesdoramas, Rohman Hidayat, menjelaskan bahwa festival ini merupakan komitmen Portina dalam menjaga keberlangsungan permainan tradisional. Selain bersifat edukatif, acara ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan generasi muda terhadap gawai.
“Hari ini kami menggelar Festival Dolanan Tradisional Banyumas. Ada lomba egrang, bakyak, lari balok, dan dagongan,” ujar Rohman di sela-sela acara.
Antusiasme peserta pun terlihat tinggi. Meski sebagian mengaku baru pertama kali mencoba permainan tersebut, mereka tetap bersemangat. Sindy Antika, pelajar SMP Negeri 1 Banyumas, mengaku belum pernah memainkan egrang atau lari balok sebelumnya.
“Saya baru lihat dari video di media sosial. Tapi ini seru, ikut lomba lari balok sekalian melestarikan olahraga budaya,” katanya.
Hal serupa disampaikan Faik, pelajar SMP Negeri 3 Kebasen. Meski belum terlalu terampil bermain egrang, ia merasa asyik bisa bermain langsung seperti yang pernah dilihatnya di kampung.
Ketua Umum Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Banyumas memberikan apresiasi tinggi terhadap Fesdoramas. Menurutnya, permainan tradisional tidak hanya mengenalkan budaya lokal, tetapi juga menanamkan nilai karakter seperti sportivitas, kreativitas, kerja sama, dan keberanian.
“Saya sangat mengapresiasi Fesdoramas. Selain melestarikan olahraga tradisional, ini juga memasyarakatkan olahraga agar warga Banyumas memiliki gaya hidup sehat,” ujarnya.
Festival dolanan tradisional ini membuktikan bahwa permainan rakyat mampu menjadi media pendidikan karakter sekaligus pengenalan identitas budaya bangsa tanpa harus melulu bergantung pada layar gadget.
Penulis : Alri Johan
Editor : Angga Saputra







