Tiga puluh lima tahun lalu, U2 merilis Achtung Baby, album yang melahirkan salah satu lagu terbesar sepanjang masa: One. Lagu ini dinobatkan sebagai lagu terbaik sepanjang masa oleh Majalah Q pada 2003.
Namun di balik keindahannya, One lahir dari perpecahan, ketegangan, dan tembok yang sengaja dibangun personel band di tengah studio rekaman.
Bukan Lagu Perayaan, Tapi Luka dan Penyembuhan Sekaligus
Drummer U2, Larry Mullen Jr, mengatakan One adalah satu lagu yang merangkum seluruh identitas band.
“Setiap kali saya mendengarkan atau memainkannya, koneksi itu terasa,” ujarnya.
Liriknya yang ambigu membuat lagu ini bisa dimaknai sebagai kisah krisis band, pernikahan ambruk, hubungan ayah-anak yang bermasalah, hingga pertikaian dengan Tuhan.

Lahir di Hari Persatuan Jerman, Band Justru Sedang Terpecah
U2 tiba di Berlin pada 3 Oktober 1990, tepat saat Hari Persatuan Jerman. Mereka terseret dalam perayaan reunifikasi negara setelah 41 tahun terpisah.
Namun ironisnya, di studio Hansa yang bersejarah itu, justru tembok di antara personel U2 sedang dibangun.
“Kami sedang tidak dekat satu sama lain,” kata vokalis Bono kepada BBC Culture.
Gitaris The Edge mengakui, Adam Clayton (bass) dan Larry Mullen merasa tertinggal dan kesal karena Bono serta Edge terlalu bersemangat bereksperimen dengan mesin drum dan synth.
“Sesi semakin tegang. Tingkat kepercayaan di antara kami semakin terkikis,” ujar Edge.
Lirik Pertama Lahir, “Satu Tapi Tidak Sama”
Suatu hari, Edge memainkan rangkaian nada baru di gitar akustik. Clayton, Mullen, dan Bono langsung bergabung. Sesuatu yang spesial mulai terjadi.
Lirik pertama muncul cepat: “Is it getting better or do you feel the same?”
Bagian chorus berasal dari surat Bono kepada Dalai Lama. Ia menolak tampil di konser amal Oneness dengan balasan: “Satu tapi tidak sama, Bono.”
“Konsep kesatuan adalah sesuatu yang mustahil,” kata Bono. “Lagu ini sukses karena ini bukan panggilan untuk bersatu. Lagu ini memperlihatkan bahwa kita saling terikat, meskipun kita suka atau tidak.”

Tiga Video, Tiga Makna Berbeda
U2 membuat tiga video berbeda untuk One. Yang pertama di Berlin dengan gaya drag dinilai kurang sensitif terhadap penderita AIDS. Versi kedua terlalu minimalis untuk MTV. Versi ketiga karya Phil Joanou akhirnya dipilih karena dianggap paling netral dan terbuka untuk tafsir.
Johnny Cash hingga Mary J Blige Membawa Makna Baru
Johnny Cash menata ulang One sebagai country kelam tiga tahun sebelum wafatnya. Mary J Blige membawa lagu ini ke gereja dan menghubungkannya dengan 9/11 serta Badai Katrina.
Bono mengaku tak tahu persis ke mana Blige pergi dengan interpretasinya. “Tapi saya merasakannya begitu kuat,” katanya.
Momen Paling Berkesan: Setelah 9/11 di Madison Square Garden
Edge mengenang penampilan One di Madison Square Garden, Oktober 2001, sebagai momen paling berkesan. Konser itu adalah pertunjukan pertama U2 di New York setelah serangan 9/11.
“Semua responden pertama yang hadir menyerbu panggung. Itu menjadi sesi terapi kelompok. Saya merasa tersentuh bisa menjadi saksi dan katalis untuk momen itu,” kenangnya.
“One Adalah Lagu yang Belum Selesai”
Bono awalnya menolak organisasi nirlaba miliknya diberi nama ONE Campaign karena menganggap lagu ini terlalu pahit.
Edge sendiri mengaku heran saat ada pasangan yang memainkan One di pernikahan mereka.
“Ini bukan lagu perayaan. Ada makna pengampunan, tetapi juga kesadaran bahwa terkadang hal-hal tidak dapat didamaikan. Kita tidak akan pernah sama. Tapi kita bisa saling mendukung. Itulah konflik di dalamnya,” ujar Edge.
Bono menutup dengan kalimat yang menjadi esensi lagu ini:
“Saya ingin berpikir bahwa lagu ini cukup kuat untuk memberi lebih banyak cerita daripada yang tidak saya selesaikan. One terdengar seperti lagu yang belum selesai. Pendengarlah yang menyelesaikannya.”
(Angga Saputra)








