PURWOKERTO – Ikatan alumni menjadi jembatan solidaritas yang tak hanya berisi nostalgia, tetapi juga harapan akan peran nyata bagi sesama. Di tengah wacana pergantian kepengurusan Ikatan Alumni SMAN 1 Purwokerto (IKASMANSA), advokat kondang yang juga tokoh alumni angkatan 1991, H. Djoko Susanto SH, menyuarakan sejumlah ide dan impian terkait sosok ketua yang ideal ke depan.
Djoko, yang menempuh pendidikan di SMANSA mulai kelas 1 hingga 3 masing-masing di kelas 1-6, 2 Sos 2, dan 3 Sos 2, menyampaikan pandangannya bukan sebagai kritik tajam, melainkan sebagai wacana konstruktif demi kemaslahatan bersama.
“Seiring bergulirnya kepengurusan alumni, saya sebagai salah satu alumni ikut angkat bicara untuk sekadar ide dan impian saja,” ujar Djoko, Senin (4/4/2026).
Menurutnya, karakter ketua alumni ke depan harus selaras dengan filosofi simbol Ganesha—dewa ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan penghalau rintangan dalam kepercayaan Hindu. Djoko merinci makna atribut Ganesha secara alegoris:
· Kepala gajah → kebijaksanaan
· Telinga lebar → selalu mendengar aspirasi
· Mata kecil → fokus dan konsentrasi
· Belalai panjang → fleksibel dan adaptif
· Perut besar → menerima segala masukan
· Banyak tangan → mampu bekerja serba bisa
· Kendaraan tikus → rendah hati
· Senjata kapak → tegas dalam keputusan
“Hal ini melambangkan sosok ketua alumni ke depan adalah bisa sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan alumni semua angkatan tanpa membedakan suku, ras, dan agama,” tegasnya.
Djoko juga mengingatkan realitas sosial yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, tidak semua alumni SMANSA telah hidup berkecukupan.
“Masih banyak alumni SMANSA yang untuk makan tiap hari saja masih susah, apalagi punya rumah dan harta,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ia mengajukan enam kriteria minimal bagi calon Ketua Alumni SMANSA ke depan:
1. Domisili tidak jauh dari Purwokerto dan sekitarnya
2. Bukan pejabat publik yang aktif
3. Bukan pengurus dan simpatisan partai politik
4. Mampu melayani alumni 24 jam dengan segala problemnya
5. Mampu menyatukan semua golongan
6. Tidak menggunakan fasilitas negara untuk kegiatan alumni
“Hal ini untuk mencegah alumni dijadikan ajang pamer harta dan kekuasaan, apalagi nepotisme. Ikatan alumni adalah tempat wadah yang mampu memberikan kenyamanan alumni sampai akhir hayatnya, bukan sebagai kendaraan politik menuju jabatan tertentu,” pesannya.
Djoko berharap idenya hanya dimaknai sebagai wacana tanpa mengurangi esensi sebuah ikatan.
“Selamat rembug alumni SMANSA, semoga memberikan kemaslahatan dan bermanfaat dunia dan akhirat bagi para alumni SMANSA,” tutupnya. (Angga Saputra)









