Babak 1 : Runtuhnya Majapahit dan Misi Dakwah Demak
Setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit, gelombang perubahan besar melanda Nusantara. Penganut Siwa-Buddha perlahan tergantikan oleh ajaran Islam. Di atas puing-puing kejayaan lama, berdirilah Kesultanan Demak dengan Sultan pertamanya, Raden Patah.
Namun, di sebelah barat, tepatnya di wilayah Pasir Luhur, penduduk masih teguh memeluk Buddha. Mendengar kabar itu, Sultan Demak mengutus tiga orang kepercayaan: Pangeran Makdum, Patih Edin, dan Patih Usen. Mereka ditugaskan menyebarkan Islam ke Pasir.
Penguasa Pasir Luhur saat itu, Adipati Banyakbelanak, menerima utusan Demak dengan tangan terbuka. Tanpa pertumpahan darah, ia memeluk Islam bersama seluruh rakyatnya. Wilayah seluas 8.000 doma itu pun takluk kepada Demak.
Babak 2 : Raden Tole Bergelar Adipati Tole – Kembali ke Buddha
Sang adipati kemudian mangkat. Tahta diwariskan kepada putranya, Raden Tole, yang bergelar Adipati Tole. Bertolak belakang dengan kebijakan ayahnya, Adipati Tole mengambil keputusan kontroversial: meninggalkan Islam dan kembali memeluk Buddha.
Keputusan ini bagaikan duri dalam daging bagi kedua orang tuanya. Mereka sangat terpukul. Kesedihan yang mendalam konon membuat sang ayah jatuh sakit parah hingga akhirnya meninggal. Makamnya kemudian menjadi saksi bisu dari tragedi batin keluarga tersebut.
Babak 3 : Utusan Demak Dihina – Telinga Dipotong, Rambut Dicukur Salib
Menurut naskah kuno “Babad Pasir, volgens een Banjoemaasch handschrift, met vertaling” karya J. Knebel, Sultan Demak mendengar kabar bahwa penguasa Pasir sedang sakit. Ia kembali mengirim empat orang ulama untuk menjenguk dan mendoakan.
Sesampainya di Pasir, mereka justru diminta Adipati Tole berdoa di makam ayahnya. Namun, saat membaca Al-Qur’an, tiba-tiba terdengar suara misterius dari dalam kubur meminta agar jasad digali. Setelah dibongkar, jasad terbukti tak bernyawa.
Merasa dipermainkan, Adipati Tole murka.
Dua utusan Demak dibunuhnya. Dua lainnya disiksa: telinganya dipotong, rambutnya dicukur membentuk pola salib. Mereka kemudian diusir kembali ke Demak dengan surat kalung di leher. Isinya jelas: “Aku tidak sudi tunduk pada Demak. Aku menolak Islam. Aku kembali ke keyakinan lamaku.”
Babak 4 : Murka Sultan – Pasukan Besar Dikerahkan dari Pesisir
Sultan Demak membaca surat itu. Amarahnya meledak. Ia langsung memerintahkan patihnya mengerahkan pasukan besar dari pesisir dan mancanegara.
Ketika pasukan Demak tiba di Brebes, Adipati Tole sedang bersenang-senang di Daha menghadiri perayaan bedaya. Begitu membaca surat ancaman, ia segera meninggalkan pesta. Kembali ke Pasir, ia menyiagakan rakyat dan memperkuat benteng.
Pengepungan pun dimulai.
Babak 5 : Pengepungan 45 Hari-Air Situ Sekar Dibendung
Pasukan Demak mengepung kota Pasir selama satu bulan lima belas hari (45 hari). Namun, benteng Pasir bertahan dengan gigih.
Tak menemukan jalan mudah, pasukan Demak mengubah taktik. Mereka membendung dan merusak aliran air dari Situ Sekar. Akibatnya, pemandian keraton dan seluruh kota mengalami kekeringan parah.
Di tengah penderitaan itu, Patih Wirakancana – paman Adipati Tole – melakukan salat dan doa. Ia menancapkan tongkatnya ke tanah. Ajaib, mata air deras pun memancar. Namun, keajaiban itu lenyap setelah warga menggunakannya untuk mencuci daging babi. Kembali kering, kembali putus asa.
Babak 6 : Pengkhianatan Patih – Surat Bambu di Malam Hari
Melihat keadaan semakin mustahil dimenangkan, Patih Wirakancana menasihati keponakannya agar menyerah dan kembali ke ajaran Islam.
Bukannya sadar, Adipati Tole justru menghina pamannya. “Berhati perempuan!” dan “Pengecut!” kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Sakit hati, sang patih diam-diam menulis surat penyerahan diri di atas potongan bambu. Pada malam hari, ia melemparkannya ke luar benteng. Surat itu ditemukan oleh Adipati Brebes. Pasukan Demak segera menduduki kepatihan. Mereka mengepung keraton dari tiga arah: utara, barat, dan timur. Sisi selatan sengaja dibiarkan terbuka.
Babak 7 : Pertempuran Brutal-Panglima Pasir Tewas
Pertempuran jarak dekat tak terhindarkan. Prajurit Pasir dibantai habis.
Panglima-panglima andalan Pasir seperti Carangandul, Sombra, dan Binatangkarya tewas di tengah kekacauan dan tumpukan mayat musuh. Pertahanan Pasir runtuh.
Babak 8 : Pelarian ke Selatan – Berakhir di Bocor
Menyadari kehancuran sudah di depan mata, Adipati Tole bersama istri, anak-anak, dan pengikut setianya melarikan diri. Mereka menerobos pintu selatan keraton – satu-satunya sisi yang tak dijaga musuh.
Mereka menyusuri tepi Sungai Logawa hingga tiba di bawah wilayah Gandulekor. Patih Wirakancana sempat mengejar dan memotong sebuah pohon besar (pohon gandu) untuk dijadikan jembatan. Namun, Adipati Tole sudah berhasil menyeberang lebih dulu.
Pelarian terus berlanjut ke timur:
· Kepunglakang
· Rangkah
· Menyeberangi Sungai Cincingguling
· Melewati Karangdumur, Petanahan
Akhirnya, rombongan tiba dan menetap dengan aman di daerah Bocor – yang kini dikenal sebagai wilayah Kabupaten Kebumen.
Epilog : Jejak Sejarah yang Tersisa
Kisah Adipati Tole menjadi satu dari sekian banyak babad yang menggambarkan konflik akidah, kekuasaan, dan loyalitas di pesisir utara Jawa pada masa transisi dari Hindu-Buddha menuju Islam.
Di mana air pernah kering karena dendam, dan bambu malam hari menjadi saksi pengkhianatan. Adipati Tole memilih lari, namun namanya tetap terukir dalam manuskrip kuno sebagai pemberontak terakhir Pasir.
BANYUMASE









