Yaya Sunaryo
(Peneliti Nusantara Centre).
Sore itu, menjelang waktu berbuka puasa di hari ke-23 Ramadan, suasana terasa berbeda. Ketika sebagian orang mulai bersiap untuk i’tikaf atau sekadar menanti azan magrib dengan aktivitas ringan, kami justru memilih berkumpul dalam sebuah diskusi kecil. Bagi sebagian orang, tema yang kami bahas mungkin terdengar jauh dari keseharian. Namun bagi kami, ini adalah percakapan penting—bahkan mendesak—tentang arah negeri yang sedang kita pijak bersama.
Diskusi berlangsung santai, namun sarat makna. Kami duduk melingkar di ruang tamu sebuah rumah di bilangan Tebet, seperti murid yang sedang menyimak petuah gurunya. Rasa penasaran menggantung di udara: apa yang akan disampaikan oleh dua narasumber utama sore itu, Prof. Ichsanuddin Noorsy dan Prof. Yudhie Haryono. Keduanya dikenal sebagai pemikir yang tajam dalam membaca dinamika ekonomi dan kebijakan publik di Indonesia.
Kami yang hadir berasal dari komunitas Nusantara Centre—sebuah ruang belajar yang mempertemukan mereka yang masih haus akan pengetahuan dan kegelisahan intelektual. Di antaranya hadir Agus Rizal, Rian Pratama, Dedi Setiadi, Yaya Sunaryo, Asyari, Riskal Arief, dan Firdaus. Meski tanpa panggung besar atau forum resmi, diskusi ini justru terasa lebih hidup dan jujur.
Pembahasan utama mengerucut pada satu hal: arah kebijakan ekonomi nasional dan bagaimana negara mengelola sumber dayanya di tengah tantangan global yang kian kompleks. Dalam pemaparannya, Prof. Ichsanuddin Noorsy menekankan pentingnya memahami Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukan sekadar sebagai dokumen teknokratis, tetapi sebagai cermin dari keberpihakan negara.
Menurutnya, APBN sejatinya adalah alat politik ekonomi. Ia menunjukkan kepada siapa negara berpihak: apakah kepada rakyat banyak atau justru kepada kepentingan segelintir elite. Dalam konteks ini, publik sering kali tidak diajak untuk memahami secara utuh bagaimana anggaran disusun dan dialokasikan. Akibatnya, kesadaran kolektif terhadap arah pembangunan menjadi lemah.
Prof. Yudhie Haryono menambahkan dimensi lain dalam diskusi tersebut. Ia menyoroti pentingnya membangun kesadaran peradaban dalam melihat ekonomi. Bagi Yudhie, ekonomi tidak bisa dilepaskan dari nilai, budaya, dan visi kebangsaan. Tanpa fondasi itu, kebijakan ekonomi akan mudah terjebak pada pragmatisme jangka pendek. Yudhie juga mengajak kita semua untuk membentuk lini-lini perjuangan berupa komunitas-komunitas epistemik dalam membangun kesadaran masyarakat.
Diskusi sore itu membuka satu kesadaran penting: bahwa banyak persoalan besar bangsa justru luput dari perhatian publik karena dianggap terlalu rumit atau tidak berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Padahal, kebijakan ekonomi yang diambil hari ini akan menentukan masa depan generasi mendatang.
Dalam suasana Ramadan yang seharusnya penuh refleksi, percakapan ini menjadi semacam “itikaf intelektual”—sebuah upaya untuk merenungi keadaan bangsa secara lebih dalam. Kami menyadari bahwa memahami negeri ini tidak cukup hanya dengan mengikuti arus informasi, tetapi perlu keberanian untuk menggali, bertanya, dan mendiskusikan hal-hal yang sering diabaikan.
Menjelang azan magrib, diskusi pun perlahan ditutup. Namun yang tersisa bukan sekadar rasa lapar yang akan segera terobati, melainkan juga kesadaran baru: bahwa mencintai bangsa tidak cukup dengan perasaan, tetapi juga dengan pemahaman.
Dan mungkin, dari diskusi-diskusi kecil seperti inilah, kesadaran besar itu perlahan tumbuh.(*)







