INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

MEMBACA SEJARAH, MENYUSUN ANTITESA

MEMBACA SEJARAH, MENYUSUN ANTITESA
Rabu, 4 Maret 2026

Yaya Sunaryo
(Dosen Univ MH Thamrin, Inisiator Banrehi)

“Kelemahan terbesar kita adalah bersandar pada kepasrahan. Padahal, jalan yang paling jelas menuju kesuksesan adalah selalu mencoba, setidaknya satu kali lagi.” Kutipan Thomas A. Edison itu terasa relevan ketika kami berkumpul dalam sebuah diskusi kecil menjelang magrib. Di ruang yang rapi dan tenang, kegelisahan kami mengerucut pada satu hal: nasib literasi Islam hari ini.

Ya, kita sedang berada di ujung masyarakat konsumtif, bukan produktif. Kita makin defisit literasi dan aksi, bukan surplus narasi dan inovasi tekhnologi.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Sejarah mencatat, dunia Islam pernah menjadi pusat peradaban ilmu. Tradisi menulis, membaca, dan berdebat tumbuh subur. Dari Nusantara pun lahir tokoh besar seperti Syekh Nawawi Al-Bantani (1813–1897), ulama produktif yang menulis tidak kurang dari 115 kitab dalam bidang fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Karya-karyanya menjadi rujukan lintas generasi dan lintas negeri. Itu bukti bahwa literasi Islam bukan sekadar wacana, melainkan tradisi yang pernah mengakar kuat.

Namun kegelisahan kami justru bertolak dari kenyataan hari ini. Apakah tradisi literasi itu masih berdenyut dengan semangat yang sama? Atau kita hanya mewarisi, tanpa berani memperbarui?

Pertanyaan itu mengemuka pada Sabtu, 21 Februari 2026, pukul 15.00 WIB, di Kafe Artivator, Depok. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, di bawah bimbingan Prof. Yudhie Haryono, kami membedah satu dari tiga buku fenomenal mengenai bangsa Arab: History of the Arabs karya Philip K. Hitti. Buku ini adalah hasil riset panjang selama kurang lebih sepuluh tahun untuk memahami bangsa Arab dari sisi agama, budaya, hingga sosial-politik.

Tentu saja, buku ini bukan untuk “diimani”. Ia adalah karya ilmiah yang lahir dari tradisi akademik Barat, dengan sudut pandang dan metodologi tertentu. Namun justru di situlah tantangannya. Membacanya bukan berarti menerima seluruh kesimpulannya, melainkan menguji, mengkritik, dan jika perlu menyanggahnya dengan argumen yang lebih kuat.

Salah satu bagian yang paling sering memantik perdebatan di kalangan ilmuwan adalah pandangan Hitti tentang Al-Qur’an. Ia menyimpulkan bahwa Al-Qur’an merupakan semacam laporan historis dengan sumber bahasa yang tidak tunggal, tidak sepenuhnya konsisten, dan karena itu ia memposisikannya dalam ranah profan, bukan sakral. Pandangan ini jelas kontroversial dan bertolak belakang dengan keyakinan umat Islam yang memandang Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi yang otentik dan suci.

Di sinilah letak urgensi literasi. Jika kita tidak membaca karya-karya semacam ini, kita tidak akan tahu bagaimana Islam dipahami—atau disalahpahami—oleh sebagian kalangan akademik dunia. Dan jika kita tidak memiliki tradisi menulis yang kuat, kita akan terus menjadi objek kajian, bukan subjek yang menyusun narasi sendiri.

Kekurangan kita hari ini mungkin bukan pada semangat beragama, tetapi pada keberanian intelektual untuk memperbarui literasi. Banyak karya besar Islam lahir seribu tahun lalu, tetapi pembaruan pemikiran yang sistematis dan berpengaruh masih terasa terbatas. Padahal, tantangan zaman terus bergerak.

Bedah buku sore itu menyadarkan kami bahwa membaca adalah langkah awal, bukan akhir. Dari membaca, lahir pemahaman. Dari pemahaman, lahir kritik. Dan dari kritik, seharusnya lahir karya-karya baru yang lebih kokoh dan memadai—sebuah “buku perlawanan” dalam arti intelektual.

Jika dunia Islam pernah berjaya karena literasi, maka kebangkitannya kembali pun hanya mungkin melalui jalan yang sama: membaca dengan kritis, menulis dengan berani, dan tidak bersandar pada kepasrahan.

Mari segera mulai. Kini, bukan nanti. Kita semua, bukan mereka.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Peduli Sesama di Bulan Ramadhan, Mahasiswa Kedokteran UMP Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

MEMBACA SEJARAH, MENYUSUN ANTITESA

MEMBACA SEJARAH, MENYUSUN ANTITESA

Rabu, 4 Maret 2026

Peduli Sesama di Bulan Ramadhan, Mahasiswa Kedokteran UMP Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan

Peduli Sesama di Bulan Ramadhan, Mahasiswa Kedokteran UMP Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan

Rabu, 4 Maret 2026

Perkuat Stabilitas Daerah, Kapolresta Banyumas Jalin Komunikasi ke OJK dan DPRD Banyumas

Perkuat Stabilitas Daerah, Kapolresta Banyumas Jalin Komunikasi ke OJK dan DPRD Banyumas

Rabu, 4 Maret 2026

POPULER BULAN INI

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Minggu, 22 Februari 2026

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com