INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Ramai di Luar, Sunyi di Dalam

Kita Ramai Bicara, Sedikit Membaca 
Jumat, 27 Februari 2026

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Agama yang Berisik, Hati yang Sepi

Indonesia mungkin salah satu negeri paling religius di dunia. Masjid berdiri megah di setiap sudut kampung. Pengeras suara tak pernah benar-benar diam. Grup-grup pengajian tumbuh seperti jamur di musim hujan. Di media sosial, ayat dan hadis berseliweran lebih cepat dari berita politik.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Tetapi di tengah keramaian itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: mengapa agama terasa begitu ramai di ruang publik, tetapi sering begitu sunyi di ruang batin?

Paradoks itu nyata. Kita menyaksikan semangat beragama yang tinggi, namun juga melihat maraknya korupsi, kebencian, hoaks, dan pertengkaran atas nama keyakinan. Kita bangga sebagai bangsa muslim terbesar, tetapi masih kesulitan merawat keadaban dalam perbedaan. Ada yang salah dalam cara kita berinteraksi dengan agama—atau mungkin dalam cara agama kita dihidupi dalam kebudayaan sehari-hari.

1. Agama sebagai Identitas, Bukan Kesadaran

Di Indonesia, menjadi Muslim sering kali lebih dulu soal identitas sosial daripada perjalanan kesadaran spiritual. Sejak kecil kita diajari ritual: shalat, puasa, mengaji. Itu penting, tentu saja. Namun jarang ada ruang yang cukup luas untuk bertanya, merenung, atau mengolah makna.

Agama akhirnya menjadi label kolektif: penanda siapa “kita” dan siapa “mereka”. Ia menjadi simbol kebanggaan, bahkan alat legitimasi. Dalam situasi tertentu, agama berubah menjadi bendera yang dikibarkan keras-keras, tetapi tidak selalu dipahami substansinya.

Kita rajin memperdebatkan halal-haram pada level permukaan, tetapi sering gagap ketika harus berbicara tentang keadilan, kejujuran, atau tanggung jawab sosial—nilai-nilai yang justru menjadi jantung ajaran Islam.

2. Ritual yang Meriah, Etika yang Terabaikan

Budaya Islam Indonesia kaya dan indah. Tradisi maulid, tahlilan, halal bihalal, hingga safari Ramadan memperlihatkan wajah sosial agama yang hangat. Masjid penuh saat tarawih. Jalanan macet menjelang buka puasa. Sedekah meningkat drastis di bulan suci.

Namun kita juga menyaksikan ironi yang getir: setelah Ramadan, kebiasaan lama kembali. Korupsi tetap berjalan. Fitnah tetap diproduksi. Kekerasan verbal di media sosial tak surut. Seolah-olah ibadah hanya jeda musiman, bukan proses pembentukan karakter.

Ritual menjadi meriah, tetapi etika tidak selalu menguat. Kita mudah tersinggung oleh kritik terhadap simbol agama, tetapi sering abai terhadap pelanggaran moral yang lebih mendasar. Kita marah jika ajaran dianggap direndahkan, tetapi tidak cukup gelisah ketika ajaran itu sendiri tidak kita jalankan dalam kejujuran dan kasih sayang.

Agama yang seharusnya membentuk akhlak, kadang berhenti pada seremoni.

3. Media Sosial dan Agama yang Reaktif

Era digital memperparah paradoks itu. Di media sosial, agama sering tampil dalam bentuk paling reaktif. Potongan ayat dibagikan tanpa konteks. Ceramah dikutip separuh. Kemarahan dikapitalisasi demi popularitas.

Algoritma lebih menyukai konten yang memancing emosi daripada yang menumbuhkan kebijaksanaan. Maka, agama pun terjebak dalam logika “viral”: siapa paling keras, paling tegas, paling hitam-putih, sering kali paling banyak pengikutnya.

Padahal Islam di Indonesia memiliki warisan panjang moderasi dan kearifan lokal. Interaksi Islam dengan budaya Nusantara melahirkan bentuk-bentuk keberagamaan yang lentur, dialogis, dan damai. Namun suara yang tenang sering kalah oleh teriakan yang nyaring.

Kita menjadi umat yang cepat menghakimi, lambat memahami.

4. Kebudayaan Religius yang Ambivalen

Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat dua wajah sekaligus. Di satu sisi, solidaritas sosial umat Islam sangat kuat. Ketika ada bencana, penggalangan dana berlangsung cepat. Ketika ada yang sakit atau meninggal, gotong royong hadir tanpa diminta.

Di sisi lain, dalam urusan publik—politik, ekonomi, birokrasi—nilai agama sering tereduksi. Ada yang fasih berbicara tentang surga dan neraka, tetapi tidak ragu menyalahgunakan jabatan. Ada yang rajin mengingatkan orang lain tentang dosa, tetapi kurang reflektif terhadap kesalahan sendiri.

Kebudayaan religius kita menjadi ambivalen: lembut dalam ritual sosial, keras dalam simbol identitas, tetapi kadang lemah dalam integritas.

Paradoks ini bukan untuk menyalahkan umat, melainkan untuk bercermin. Bahwa mungkin selama ini kita terlalu sibuk merawat bentuk, dan kurang serius menumbuhkan ruh.

5. Mencari Kembali Ruh Agama

Apa yang hilang? Barangkali kesadaran bahwa agama bukan sekadar kewajiban kolektif, melainkan perjalanan personal yang jujur. Islam bukan hanya apa yang kita tampilkan, tetapi apa yang kita perjuangkan dalam diam.

Kesalehan sosial seharusnya lahir dari kesalehan batin. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi melatih empati. Zakat bukan hanya kewajiban finansial, tetapi cara meruntuhkan keserakahan. Shalat bukan sekadar gerakan, tetapi latihan disiplin dan ketundukan pada nilai yang lebih tinggi.

Jika agama hanya berhenti di bibir dan simbol, ia mudah diperalat. Tetapi jika ia hidup di dalam hati, ia akan memancar dalam perilaku—bahkan tanpa perlu banyak diumumkan.

Kita mungkin tidak perlu menambah volume pengeras suara. Yang lebih mendesak adalah memperdalam gema di dalam diri.

Dari Keramaian Menuju Kedalaman

Umat Islam Indonesia memiliki modal besar: jumlah yang banyak, tradisi yang kaya, dan sejarah panjang interaksi dengan budaya yang beragam. Tantangannya bukan pada kurangnya ekspresi religius, tetapi pada kedalaman penghayatan.

Agama tidak perlu menjadi semakin berisik agar semakin bermakna. Ia justru perlu menjadi lebih hening agar lebih meresap.

Barangkali sudah saatnya kita menggeser orientasi: dari bangga sebagai umat terbesar, menuju tekad menjadi umat yang paling berintegritas; dari sibuk memperdebatkan perbedaan, menuju kesungguhan memperbaiki diri; dari merawat simbol, menuju menumbuhkan substansi.

Sebab pada akhirnya, yang akan ditanya bukan seberapa sering kita mengutip ayat, tetapi seberapa jauh ayat itu mengubah cara kita hidup.

Di negeri yang religius ini, semoga agama tidak hanya ramai di luar—tetapi juga benar-benar hidup di dalam.

Tentang penulis :

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia.

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

DI BALIK AGREEMENT ON RECIPROCAL TRADE (ART)

Selanjutnya

Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran 9 Kg Bahan Peledak, Dua Pemuda Diamankan

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

Hentikan Spekulasi, PDIP Larang Kader Terlibat Proyek MBG, Tak Terkecuali Banyumas

Hentikan Spekulasi, PDIP Larang Kader Terlibat Proyek MBG, Tak Terkecuali Banyumas

Jumat, 27 Februari 2026

Pilwakot Semarang, PDIP Kalahkah KIM Plus

Ini Isi Lengkap Instruksi Rahasia PDIP: Tak Ada Bisnis MBG untuk Kader

Jumat, 27 Februari 2026

Doa Bersama, Santuni Anak Yatim dan Buka Puasa, Polresta Banyumas Rangkul Tokoh Agama

Doa Bersama, Santuni Anak Yatim dan Buka Puasa, Polresta Banyumas Rangkul Tokoh Agama

Jumat, 27 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Minggu, 22 Februari 2026

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Selanjutnya
Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran 9 Kg Bahan Peledak, Dua Pemuda Diamankan

Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran 9 Kg Bahan Peledak, Dua Pemuda Diamankan

Doa Bersama, Santuni Anak Yatim dan Buka Puasa, Polresta Banyumas Rangkul Tokoh Agama

Doa Bersama, Santuni Anak Yatim dan Buka Puasa, Polresta Banyumas Rangkul Tokoh Agama

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com