Nuansa Jawa begitu terasa di Nice Time Cafe Purwokerto, Minggu (25/1/2026). DPC PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Indonesia) Kabupaten Banyumas sukses menggelar Lomba Menyanyi Lagu Jawa bertema “SAMUBARANG”. Ajang ini hadir sebagai hiburan meriah sekaligus sarat misi pelestarian budaya.
Dengan biaya pendaftaran Rp100 ribu per orang plus bonus voucher makan, lomba terbuka untuk umum bagi pemilik KTP. Total hadiah senilai Rp6,5 juta, lengkap dengan piagam dan trofi, menjadi daya tarik tersendiri.
Antusiasme Peserta
Sekitar 25 peserta dari berbagai rentang usia, bahkan hingga 60 tahun turut ambil bagian. Mereka membawakan dua lagu: wajib “Pandum Tresno” ciptaan Ki Gandhik Wayah Sugino, serta lagu pilihan dari maestro Jawa seperti H. Gatot, Sun’an, Didi Kempot, Denny Caknan, hingga Gilga Sahid.
Ketua DPC PAPPRI Banyumas, Hangsi Priyanto, SH, MH, melalui Ketua Panitia Julung Gandhik Edi Asmoro (Ki Gandhik Wayah Soegini), mengaku bersyukur atas antusiasme peserta.
“Alhamdulillah, pesertanya luar biasa. Dari muda sampai yang sepuh ikut mendaftar. Tujuan utama lomba ini memang untuk anak-anak muda, supaya seneng, mau nguri-nguri sekaligus nguripi budaya Jawa,” ujarnya.
Meski persiapan kurang dari satu bulan, acara berjalan lancar dan melampaui ekspektasi panitia. Dukungan dari berbagai pihak seperti Sampoerna Photo Purwokerto, Nice Time Cafe, RM Putri Gunung, Kripik Tempe Niti, hingga Soegino Laras turut menyukseskan gelaran ini.
Sorotan Juara
Sorotan utama jatuh pada Anggie Virginia Pitaloka dari Pandansari, Ajibarang, yang keluar sebagai Juara 1. Mahasiswi semester 6 Universitas Jenderal Sudirman jurusan Administrasi Publik ini mengaku awalnya tak percaya diri.
“Biasanya saya ikut lomba vokal pop atau keroncong. Campur sari ini benar-benar pertama kali buat saya,” kata Anggie.

Berkat latihan intensif selama sebulan, rasa ragu berubah menjadi percaya diri.
“Alhamdulillah bisa juara satu. Rasanya bangga banget, apalagi bisa bikin orang tua bahagia. Ternyata usaha belajar itu ada hasilnya,” ungkapnya dengan senyum lebar.
Anggie berharap lomba-lomba lagu Jawa seperti ini bisa lebih sering digelar. Menurutnya, kemasan menarik akan membuat generasi muda semakin penasaran dan akhirnya jatuh cinta pada tembang Jawa.
Musik Tradisi Tetap Punya Panggung
Lomba “SAMUBARANG” membuktikan bahwa musik tradisi tak pernah kehilangan panggung—asal dikemas hangat, inklusif, dan penuh rasa. (Angga Saputra)


