INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

PANCASILA DAN DAULAT ENERGI

PANCASILA DAN DAULAT ENERGI
Kamis, 31 Oktober 2024

Prof Yudhie Haryono PhD
Presidium Forum Negarawan

Tak ada negara miskin. Yang ada hanya pemerintahan yang memiskinkan rakyatnya. Inilah pameo terbesar yang bisa kita baca dalam kurikulum ilmu politik. Terlebih Indonesia yang sangat kaya sumber daya energi. Baik energi purba, maupun terbarukan: keduanya melimpah ruah.

Tetapi, mengapa rakyat Indonesia belum mendapati energi murah? Mengapa energi kita yang melimpah itu tak membuat rakyatnya makmur dan berdaulat? Mengapa epitema energi kita justru paradok? Mengapa kita belum mandiri dan berdaulat?

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Pertama, tentu saja karena kita tak punya big data. Adanya peta data purba yang tak mengalami modernisasi. Kedua, peta jalan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi tak diperbaharui. Padahal, ketahanan energi adalah terjaminnya ketersediaan energi dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi dari sumber dalam negeri.

Selanjutnya, kemandirian energi adalah kemampuan negara memastikan harga murah dan terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Sedangkan kedaulatan energi adalah hak seluruh rakyat, bangsa dan negara untuk menetapkan kebijakan energi yang adil dan beradab tanpa campur tangan negara lain maupun jaringan bisnis global yang rakus dan dominan.

Ketiga, birokrasi bisnis Indonesia lebih banyak mentradidikan kebijakan ekonomi ekstraktif (pemerasan dan anti lingkungan) yang membuat rakyatnya makin miskin, bodoh, timpang dan ilutif. Keempat, lingkaran oligarki rakus yang sangat kuat serta menguasai struktur politik. Kelima, pemerintahan yang lemah pada kaum kaya dan sebaliknya, kejam pada kaum miskin.

Keenam, banjirnya agensi neoliberal di semua struktur negara. Mereka itu para sarjana produk luar dan dalam yang disemai untuk memastikan neokolonial tidak berhenti di mana saja. So, Indonesia harus terus ikut dan beriman pada skema global. Saat bersamaan, mereka memastikan selalu menguasai Indonesia tanpa perang bersenjata, melainkan dengan utang dan krisis yang dibuat berulang.

Tentu, mereka kumpulan manusia “kimunajat” (khianat, munafik, bejat) untuk menyempurnakan kehancuran republik pancasila. Mereka menyebar di sembilan lembaga: Partai, Ormas, Kampus, TNI-POLRI, BI/Perbangkan, Bapenas, Kadin, OJK dan Kemenkeu. Agenda pinggirannnya: menghabisi kelas menengah, memperbanyak pemimpin boneka dan mendesain negara swasta.

Melihat berbagai problem di atas, kita harus merekapitalisasi 8 energi yang ada: energi kinetik; energi potensial; energi panas, energi kimia; energi nuklir; energi listrik; energi mekanik dan energi cahaya. Selanjutnya melakukan reindustrialisasi secara serius, fokus, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Tetapi, proses rekapitalisasi dan reindustrialisasi energi ini harus berbasis pada Pancasila karena nilai-nilai Pancasila memiliki makna sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, sumber nilai, dan pedoman hidup dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Terlebih, pancasila juga pandangan hidup, dasar negara dan ajaran yang dipengaruhi oleh kondisi bangsa, alam, potensi, dan cita-cita masyarakat.

Dus, dua proses itu harus berkeadilan sosial, melukiskan hidup berkonsensus, menciptakan persatuan, menghadirkan kemanusiaan abadi, serta berketuhanan yang menyemesta (lestari alam raya).

Singkatnya, kedaulatan energi itu penting bagi kedaulatan negara sepanjang adil bagi semua, seimbang, setara di semua aspek kehidupan. Kita semua harus bersikap adil antarsesama tanpa memandang ras, agama, jabatan, fisik, dan hal lain yang membedakan. Sebab, pada dasarnya manusia yang menghargai dan dihargai baru bisa memahami arti kata adil.

Kedaulatan energi juga harus beradab karena memiliki etika, sopan santun, akhlak serta moral yang baik. Kita hidup berdampingan sehingga harus menerapkan budi pekerti sebagai adab yang utama. Jika setiap kita menerapkan adab yang simultan, akan tercipta lingkungan yang harmonis, peradaban atlantis, negeri pancasilais dan bumi sorgawi.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Berikut Jadwal dan Daftar Panelis pada Penajaman Visi Misi Paslon Pilkada Banyumas

Selanjutnya

MERANGKUM EKOPOL PANCASILA

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

DKK Banyumas Apresiasi “Tadarus Sastra”, Dorong Budaya Baca Anak Muda

DKK Banyumas Apresiasi “Tadarus Sastra”, Dorong Budaya Baca Anak Muda

Sabtu, 14 Maret 2026

KAI Daop 5 Purwokerto Bagikan 1.700 Takjil Gratis untuk Pemudik Lebaran

KAI Daop 5 Purwokerto Bagikan 1.700 Takjil Gratis untuk Pemudik Lebaran

Sabtu, 14 Maret 2026

KPK Sita Ratusan Juta Rupiah dalam OTT Bupati Cilacap, Dua Orang Sudah Jadi Tersangka

KPK Sita Ratusan Juta Rupiah dalam OTT Bupati Cilacap, Dua Orang Sudah Jadi Tersangka

Sabtu, 14 Maret 2026

POPULER BULAN INI

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Minggu, 22 Februari 2026

KPK OTT Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman

KPK OTT Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman

Jumat, 13 Maret 2026

Rp3,3 Miliar Ditolak, PT AKAS Gugat Tender Parkir GOR Satria

Rp3,3 Miliar Ditolak, PT AKAS Gugat Tender Parkir GOR Satria

Senin, 23 Februari 2026

Selanjutnya
MERANGKUM EKOPOL PANCASILA

MERANGKUM EKOPOL PANCASILA

Bawaslu Pastikan Calon KPPS Bukan Anggota Parpol dan Tak Tercantum Dalam Sipol

Bawaslu Pastikan Calon KPPS Bukan Anggota Parpol dan Tak Tercantum Dalam Sipol

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com