INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

TEKNOLOGI PERTANIAN KUNO NUSANTARA

TEKNOLOGI PERTANIAN KUNO NUSANTARA
Kamis, 12 September 2024

DR Agus Rizal
Praktisi Ekonomi Bisnis dan Dosen UMHT

Mata pencaharian di Indonesia sejak dahulu kala adalah bertani. Tak heran, Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan lahan pertanian yang luas.

Pertanian dan bercocok tanam telah menjadi budaya sejak dahulu kala dan merupakan langkah perkembangan peradaban dari berburu dan mengumpulkan hasil alam.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Warisan budaya bertani banyak sekali kita temui dalam berupa situs, tulisan, symbol dan tindakan budaya yang menggambarkan kemajuan pertanian di Nusantara.

Dalam kemajuan pertanian di Nusantara pada era kerajaan tak lepas dari sentuhan teknologi. Salah satu kemajuan teknologi pertanian di tanah Jawa yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam jurnal yang ditelaah oleh Kristianti, dkk (2024) menyebutkan bahwa kehidupan masyarakat Sunda dan teknologi pertanian tertuang dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian ditulis tahun 1518 yang memuat teknologi pertanian dalam bentuk peralatan pertanian pada zaman itu.

Sedangkan teknologi pertanian Jawa Tengah dan Jawa timur dilansir dari historia.id (2017) bahwa teknologi pertanian tertuang dalam prasasti dan gambar-gambar pada Candi berupa sistem pertanian pada zamannya.

Pada teknologi pertanian Jawa Barat kuno menurut jurnal yang ditulis Kristianti,dkk (2024) bahwa pada naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian menyebutkan bahwa senjata dibagi tiga macam yaitu  senjata Sang Prabu, senjata pendeta dan senjata orang tani. Senjata orang tani terdiri dari kujang, baliung, patik, kored, pisau (sadap), sedangkan Detya yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dikecap dan diminum. Kujang dalam pertanian awalnya sebagai pemangkas rumput, semak, ranting di wilayah huma bahkan pada digunakan dalam aktivitas narawas sebuah ritual permohonan izin untuk ngabukbak (izin membuka hutan untuk huma) yang dilakukan oleh seorang Bujangga. Baliung yang merupakan artefak yang ditemukan di sekitar Situs Tugu Gede, Cengkuk,Sukabumi. Pada kerajaan Sunda kuno sebagai alat perimbas (cangkul) sekaligus memotong tanaman perdu. Patik atau dikenal bedog atau golok selain menjadi pusaka raja juga digunakan untuk memangkas batang – batang kayu tebal. Kored dalam alat pertanian tata tatar Sunda digunakan untuk menjaga dan membersihkan rerumputan.

Sedangkan teknologi pertanian Jawa tengah dan jawa timur yang dilansir oleh radar mojokerto (2024) dan historial.id (2017) lebih kepada sistem pertanian dan mengatasi hama pertanian. Teknologi pertanian yang digunakan dalam bahasa jawa disebut galeng atau gundukan tanah yang menjadi pembatas petak – petak sawah. Galeng atau gundukan ini saat ini masih digunakan oleh pertanian zaman sekarang selain untuk akses petani juga menjaga pasokan air. Kebutuhan air tidak begitu saja dialirkan ke sawah namun ditampung terlebih dahulu dengan pematang agar padi yang baru saja ditanam tergenang air dan mengalami pertumbuhan yang optimal. Dalam mengatasi hama tertuang pada pahatan relief karmawibhangga di Candi Borobudur yang menerangkan dalam mengatasi hama tikus dengan menggunakan daun kelapa kering yang dibakar hingga berasap lalu saat tikus keluar ditangkap oleh anjing penjaga pertanian.

Teknologi pertanian pada zaman dahulu hingga sekarang seperti perlatan pertanian beberapa masih dipakai hingga sekarang seperti alat pertanian kujang, baliung atau cangkul, Patik dan lain-lain yang berkembang menjadi alat berteknologi mesin yang memudahkan pengolahan pertanian. Teknologi pertanian yang menerapkan sistem pertanian yang ditemukan di Candi-candi yang telah menerapkan gundukan dan pematang, bila saat ini kita mengenal dengan sistem irigasi.(*)

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Tanggapi Gerakan Dukung Kotak Kosong, Ketua DPD Golkar Banyumas : Kita Fokus Pada Upaya Pemenangan

Selanjutnya

Atlet Menembak Banyumas Athary Zahraa Raih Perak PON 2024

Eric Erlangga: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1447H

TERBARU

DI ATAS BENDERA INDONESIA INCORPORATED

ANCAMAN BOP PADA EKOPOL NASIONAL

Selasa, 3 Maret 2026

Kita Ramai Bicara, Sedikit Membaca 

Membaca Program MBG Melalui Pelajaran dari Sebuah Eksperimen yang Gagal

Selasa, 3 Maret 2026

HUT ke-54 Basarnas di Cilacap, Kepala SAR: Bukan Sekadar Seremonial!

HUT ke-54 Basarnas di Cilacap, Kepala SAR: Bukan Sekadar Seremonial!

Senin, 2 Maret 2026

POPULER BULAN INI

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Angin Puting Beliung Terjang Cilongok, 27 Rumah Rusak

Minggu, 22 Februari 2026

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Diduga Ditipu Oknum Kolektor, Pedagang Purbalingga Ajukan Laporan ke Polres

Jumat, 6 Februari 2026

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Selanjutnya
Atlet Menembak Banyumas Athary Zahraa Raih Perak PON 2024

Atlet Menembak Banyumas Athary Zahraa Raih Perak PON 2024

Kejuaraan Tarkam Kemenpora RI Resmi Dibuka di Banyumas, Ada 4 Cabor Dipertandingkan

Kejuaraan Tarkam Kemenpora RI Resmi Dibuka di Banyumas, Ada 4 Cabor Dipertandingkan

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com