INDIE BANYUMAS
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
INDIE BANYUMAS

Zona Ngelinting

Tembakau Lengkap, Kopinya Nikmat, Gayeng Ndopoknya…

Rabu, 8 Desember 2021

Eksistensi café yang menyediakan ragam kopi asli nusantara saat ini semakin tak tergoyahkan dengan kemunculannya hingga ke pelosok desa. Fenomena café ini tampaknya juga akan diikuti degan tren munculnya kedai-kedai Tingwe, singkatan dari ngelinting dewe.

Jika melihat dari sisi konsumtif, kedua jenis sajian yang ditawarkan sejatinya merupakan konsumsi masyarakat yang sudah beratus tahun menjadi kebiasaan dalam gaya hidup di negeri ini. Lalu, bagaimana jika keduanya hadir laiknya istilah kolaborasi dalam jagat media sosial ketika dua orang freelancer duet dalam membuat konten untuk mengisi saluran di youtube?

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca
Advertisement Advertisement Advertisement

Zona Ngelinting, mungkin akan menjadi jawaban yang paling pas ketika ingin merasakan kolaborasi kopi dan Tingwe tanpa harus jauh-jauh ke luar kota seperti Yogyakarta atau Solo. Di kedai yang beralamat di Desa Pancurendang Ajibarang ini, selain beragam tembakau pilihan dari berbagai kota di tanah air juga memang telah dirancang khusus memiliki pasangan ruangan yang dijadikan café.

Sama dengan asal Tingwe, kafe di Zona Ngelinting juga punya stok banyak ragam dan jenis kopi asli Nusantara. Wabil khusus, kafe di Zona Ngelinting menyediakan menu spesial kopi asli yang diambil dari kebun-kebun di wilayah Banyumas yang dinamai Kopi Clebek.

“Kedai kopi atau istilahnya café itu adalah pasangannya. Lakon utamanya, ya Tingwe. Tingwe sudah menjadi bagian dari gaya hidup baru tanpa kecuali, tua maupun muda, yang mereka lahir dan hidup di kota hingga desa. Tak lagi ada anggapan ngelinting rokok itu hanya milik orang kuno, sebaliknya malah bisa dikatakan its so artsy bro,” kata owner Zona Ngelinting, H Slamet Ibnu Ansori.

Advertisement. Scroll Untuk Lanjutkan Membaca

Di berbagai kota, kemunculan kedai Tingwe memang lebih banyak dimulai saat Pandemi Covid-19 sekitar dua setengah tahun lalu. Namun, peralihan cara merokok dari kretek pabrik ke Tingwe bukan hal baru karena sudah mulai menggeliat sejak sekitar tahun 2010 meski jumlahnya baru beberapa saja di tanah air.

“Kenaikan harga rokok menjadi alasan, lalu terjadi Pandemi yang semakin membuat masyarakat perokok menjadi semakin sulit bernafas karena terbebani anggaransekunder akan kebutuhannya itu. Ketika pandemi semakin tak menentu kapan akan berakhir serta dampak ekonomi akibat darinya, Tingwe menjadi alternatif yang berubah menjadi pilihan utama,” kata pria yang pernah 15 tahun duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Banyumas itu.

Kang Slamet, biasa pria berjenggot tebal ini akrab disapa, dari perhitungannya mengkonsumsi Tingwe jelas jauh lebih muah ketika dibandigkan dengan merokok kretek buatan pabrikan. Harga beragam jenis tembakau yang ia konsumsi antara Rp 18 ribu hingga 25 ribu per 50 gram.

Untuk tembakau Madura misalnya, Tamam hanya perlu mengeluarkan uang Rp 18 ribu per 50 gram. Sedangkan tembakau jenis lain seperti Gayo Rp 20 ribu pe 50 gram, tembakau Temanggung Rp 23 ribu hingga Rp 25 ribu per 50 gram.

“Ukuran 50 gram tembakau baru habis hingga satu pekan. Jika dibelikan rokok, hanya mampu bertahan maksimal empat hari,” kata Kang Slamet.

Jangan Merokok Jika Belum Pernah

Slamet Ibnu, dirinya menegaskan tak pernah terbersit untuk melestarikan budaya merokok melalui Zona Ngelinting sebagai bentuk lain perlawanan terhadap pemerintah terkait kesehatan. Dia sadar betul stigma buruk kebiasan meroko yang dilegitimasi dengan himbauan tegas dari negara akan bahaya aktivitas tersebut melalui kemasan bungkus rokok pabrik.

“Sama sekali tak terbersit tentang itu malah justru dalam khazanah berpikir saya, Tingwe ini sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita sejak seratus tahunan lebih. Jangankan mendorong kawan yang tak merokok supaya jadi perokok, jika mereka bukan perokok tetapi karena ingin datang ke sini karena perkawanan, saya sih hanya menyarankan agar jangan pernah mencoba jika memang belum pernah,” kata pria low profile yang lahir di Desa Pandansari Ajibarang ini.

Slamet Ibnu pun buru-buru mengalihkan tema obrolan di kedainya dari pro kontra maupun stigma buruk merokok yang sudah jelas-jelas diketahui seluruh masyarakat.

“Ini tembakau legendaris dari Temangung yang punya aroma khas ketika ente ngelihat atau sedang bersama mbah-mbah yang ngerokoknya ngelinting. Aromanya memang kuno kan, tapi jika merasakan satu batang lintingan maka Anda akan membandingkannya dengan rokok kemasan yang dikenal dengan sebutan rokok putih dan biasanya tertera keterangan asal tembakau, yakni kota Virginia,” kata Kang Slamet sembari memamerkan juga kertas pembungkus tembakau alias papir bermerk.

Tentu saja, bukan Cuma tembakau legendaris tadi yang tersedia di Zona Ngelinting. Banyak varian rasa, mulai yang menyerupai rasa sesuai merk rokok kemasan mulai dari Esse sampai Signature hingga tembakau aroma cokelat sampai vodka. Bahkan, Kang Slamet menunjukkan tembakau dengan kemasan ciamik berwarna hijau kombinasi putih bertuliskan Soju.

“Tembakau rasa miras? Rasakan sendiri, nanti tahu kalau itu sama sekali tak memabukkan,” katanya.

Selain menyuguhkan tembakau merk minuman beralkohol asal rusia dan korea itu yang memang punya kekuatan aromatik menyerupai kedua minuman, Kang Slamet begitu yakin tembakau yang terdapat merk menyerupai merk kemasan rokok pabrikan justru memiliki aroma rasa yang lebih nikmat.

“Kesan memang seperti wanna be, tapi bagi yang sudah merasakannya, justru tembakau itu its real otentic bro,” ungkapnya.

Zona Ngelinting buka mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Tetapi seringkali karena si pemilik punya banyak kawan, kedainya seringkali baru closed sampai pagi. “Siapa saja, dari komunitas anak muda hingga yang old school biasanya bertemu di sini, gayeng ngobrol sampai tak terasa sudah pagi,” katan Kang Slamet.

Meski belum lama buka, Zona Ngelinting sudah punya banyak pelanggan khususnya warga di wilayah Banyumas barat. Ada yang sebelumnya sudah berlangganan di kedai Tingwe di Purwokerto, tak sedikit pula yang akhirnya jatuh hati menikmati Tingwe ala Zona Ngelinting.

H Sudiro, misalnya, pria dari Desa Kalibenda Kecamatan Ajibarang ini tak pernah kehabisan stok tembakau bermek TS sebagai pilihan satu-satunya. Mantan kepala desa yang pernah menjabat dua periode ini mengakui efek ekonomis tanpa kehilangan rasa puas tatkala merokok lintingan TS.

“In sebagai alternatif ketika dalam sehari saya biasanya menghabiskan 3 bungkus Jisamsu. Sekarang, ketika menemukan TS saya nggak lagi seboros itu karena tidak harus batangan Jisamsu karena rasa sudah tergantikan oleh TS. Jika dihitung, sehari dari yang tadinya 3 bungkus sekarang hanya satu atau satu setengah bungkus saja,” katanya.

Pak Mantan rutin sepekan sekali datang ke Zona Ngelinting bahkan sebelum stok TS-nya habis. Satu kemasan TS ia beli seharga Rp 12 ribu di Zona Ngelinting. Takaran untuk satu kemas, ia habiskan sekitar tiga hingga empat hari sebagai alternatif memilih batangan rokoknya.

Aji Pradipta, anak muda yang berprofesi sebagai Tatto Artist adalah pelanggan lain Zona Ngelinting. Dia sudah punya pilihan tetap, nama merk tembakau Tingwe-nya adalah Dream. Sama seperti Pak Mantan, Aji sudah merasakan aroma serta kepuasan yang sama ketika tidak harus merokok merk Signature yang sudah menemaninya 3 tahun belakangan.

Di Zona Ngelinting, selain tembakau Tingwe juga kopi clebek, ada juga cerutu lokal buatan Bali. Pernak pernik sebagai pemanis maupun kebutuhan utama merokok pun lengkap, mulai dari pipa atau once, kertas papir, hingga menyan.

Penulis: Angga Saputra

ShareTweetKirimkan
Sebelumnya

Tabrakan Maut Malam Hari di Banjarnegara, Truk Hantam Sepeda Motor

Selanjutnya

Tabrakan Karambol di Cilongok, Truk Vs Avanza dan Sepeda Motor, Satu Pemotor Meninggal

TERBARU

Rektor Bukan Cuma Urusan Internal Kampus, Masyarakat Punya Hak Suara

Rektor Bukan Cuma Urusan Internal Kampus, Masyarakat Punya Hak Suara

Selasa, 3 Februari 2026

Launching RDF dan Recycling Center, Bupati Banyumas Targetkan 10 Unit

Launching RDF dan Recycling Center, Bupati Banyumas Targetkan 10 Unit

Selasa, 3 Februari 2026

Ketua DPRD Banyumas Tekankan Komunikasi Eksekutif-Legislatif, Siap Dorong Dewan Lebih Aspiratif

Ketua DPRD Banyumas Tekankan Komunikasi Eksekutif-Legislatif, Siap Dorong Dewan Lebih Aspiratif

Selasa, 3 Februari 2026

POPULER BULAN INI

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Kades Sudimara Beberkan Polemik Lokasi Puskesmas 2 Cilongok

Selasa, 3 Februari 2026

Polemik Puskesmas 2 Cilongok, Anang Kostrad Dorong Pembangunan Puskesmas 3

Polemik Puskesmas 2 Cilongok, Anang Kostrad Dorong Pembangunan Puskesmas 3

Selasa, 3 Februari 2026

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

MA Kabulkan Kasasi JPU Banyumas, Kades Suro dan Warga Divonis 8 Bulan Penjara

Senin, 2 Februari 2026

Selanjutnya

Tabrakan Karambol di Cilongok, Truk Vs Avanza dan Sepeda Motor, Satu Pemotor Meninggal

SK Bupati Banyumas Terkait Promosi 45 Guru Jadi KS dan Mutasi Kepsek Ditarik, Ini Sebabnya

Tentang Kami / Redaksi
Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com

Tentang Kami / Redaksi / Pedoman Media Siber / Independensi & Donasi

© 2021 indiebanyumas.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • BANYUMAS RAYA
  • NASIONAL
  • HUKUM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • DUNIA
  • HUMANIORA

© 2021 indiebanyumas.com