PURWOKERTO — Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mencatatkan sejarah baru dengan memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui penanaman serentak 3.500 bibit pohon sukun (Artocarpus altilis) yang melibatkan ribuan mahasiswa baru, Selasa (1/9/2026).
Penghargaan MURI diserahkan dalam seremoni yang berlangsung di Kampus 2 UMP, Purwokerto, menandai langkah nyata perguruan tinggi dalam mengintegrasikan isu lingkungan dan ketahanan pangan ke dalam agenda orientasi mahasiswa baru.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian First Time at Campus (FTC) UMP 2026 ini mengubah paradigma pengenalan kehidupan kampus. Ribuan mahasiswa baru tidak hanya mengikuti seremonial akademik, tetapi juga turun langsung menanam bibit sukun sebagai wujud kepedulian terhadap krisis iklim dan ancaman pangan global.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, hadir memimpin prosesi penanaman simbolis bersama pimpinan UMP dan perwakilan mahasiswa baru. Kehadiran Menko Pangan menggarisbawahi urgensi program ini dalam konteks kebijakan ketahanan pangan nasional.
Pemilihan pohon sukun dinilai strategis karena tanaman ini memiliki potensi besar sebagai sumber pangan alternatif yang kaya karbohidrat. Selain mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi tanah, sukun juga dapat dipanen sepanjang tahun tanpa memerlukan perawatan intensif—menjadikannya solusi jangka panjang bagi ketahanan pangan berbasis lokal.
Mahasiswa sebagai Garda Depan Advokasi Ekologis
Presiden Mahasiswa UMP, Yoga Dwi Yuwono, menegaskan bahwa gerakan penanaman ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk advokasi ekologis dan kedaulatan pangan yang dimulai dari akar rumput.
“Mahasiswa tidak boleh hanya berhenti pada wacana di ruang kelas. Ribuan pohon sukun yang ditanam hari ini adalah monumen hidup; bukti bahwa mahasiswa UMP siap mengambil peran dalam menghadapi tantangan pangan global di era geopolitik dan iklim yang semakin tidak menentu,” ujar Yoga.
Momentum penerimaan mahasiswa baru, menurut Yoga, menjadi ruang strategis untuk menanamkan kesadaran bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial di tengah berbagai persoalan bangsa.
Sementara itu, Rektor UMP menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut dan menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi universitas dalam membangun budaya akademik yang peduli terhadap persoalan lingkungan dan masyarakat.
“Pendidikan tinggi tidak cukup hanya membentuk mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga perlu mendorong lahirnya generasi yang mampu membaca dan merespons persoalan sosial, ekologis, serta pangan secara konkret,” ujar Rektor.
Orietasi Berbeda: dari Teori ke Aksi Nyata
Ketua Panitia FTC UMP, Wigi Anugrah Aelana, menjelaskan bahwa konsep kegiatan tahun ini dirancang untuk memberikan pengalaman kontekstual kepada mahasiswa baru sejak hari pertama mereka berada di lingkungan kampus.
“Kami ingin FTC menjadi titik tolak bagi mahasiswa baru. Menanam bibit sukun bukan sekadar menggugurkan kewajiban acara kampus, tetapi menanam harapan. Ini adalah edukasi langsung bahwa mahasiswa harus punya kepedulian terhadap isu krisis iklim dan krisis pangan sejak hari pertama,” ujarnya.
Para mahasiswa baru pun merasakan pengalaman yang berbeda dari kegiatan orientasi pada umumnya. Fauzan Adji Darmawan, salah satu peserta FTC, mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai peran generasi muda dalam isu lingkungan.
“Awalnya saya kira orientasi akan menegangkan dan penuh tugas teoritis. Ternyata kami justru diajak memegang tanah dan kompos. Ada kebanggaan mengetahui bahwa satu bibit sukun yang saya tanam hari ini kelak bisa membuahkan hasil pangan untuk masyarakat,” kata Fauzan.
Tantangan Keberlanjutan
Capaian Rekor MURI ini sekaligus menghadirkan tantangan berikutnya bagi UMP: memastikan ribuan bibit yang telah ditanam dapat dirawat dan tumbuh secara berkelanjutan. Universitas berkomitmen untuk tidak berhenti pada seremoni, melainkan mengembangkan program ini menjadi gerakan ekologis dan pangan yang memberikan manfaat jangka panjang.
Dengan kegiatan ini, UMP menunjukkan bahwa masa penerimaan mahasiswa baru dapat dikembangkan tidak hanya sebagai momentum pengenalan kehidupan kampus, tetapi juga sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mulai terlibat dalam persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan bangsa—sebuah langkah kecil dengan dampak besar bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia.
Tim Redaksi








