PURWOKERTO— Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto mengklaim sejumlah capaian rekognisi internasional dalam beberapa waktu terakhir. Rektor UIN SAIZU Prof. Dr. Ridwan, M.Ag. menyebut capaian itu sebagai penanda transformasi kelembagaan melalui spirit “Kampus Desa Mendunia”.
“Desa bukanlah simbol keterbelakangan, melainkan ruang tumbuhnya nilai, pengetahuan, spiritualitas, dan kearifan sosial,” tulis Ridwan, Kamis (5/11/2026) dikutip dari laman Kemenag.
Menurutnya, lokalitas menjadi fondasi epistemologis untuk menghasilkan pengetahuan yang memiliki signifikansi universal.
Apa Saja Capaiannya?
UIN SAIZU mengklaim meraih predikat World’s Three Star University dalam QS Stars Rating 2026 dengan skor 528. Pada kategori Good Governance, universitas memperoleh predikat 5 Stars, sedangkan aspek Teaching, Facilities, serta Diversity, Equity and Inclusion masing-masing 4 Stars.
Universitas juga masuk dalam QS Asia University Rankings 2027 pada kelompok peringkat 1501+ Asia dan posisi 238 Asia Tenggara. Dalam pemetaan perguruan tinggi Indonesia, UIN SAIZU berada di kelompok posisi 78–116 Indonesia dan 5–9 PTKIN.
Selain itu, dalam UI GreenMetric World University Rankings 2026 yang melibatkan 2.016 institusi dari 110 negara, UIN SAIZU menempati peringkat 657 dunia, 389 Asia, 74 Indonesia, dan 9 PTKIN. Tahun 2026 disebut sebagai keikutsertaan awal universitas dalam pemeringkatan keberlanjutan tersebut.
UIN SAIZU juga terlibat dalam ekosistem Times Higher Education (THE) Impact Rankings, termasuk capaian dalam sembilan besar kategori reporter. Status reporter tidak identik dengan peringkat numerik, tetapi menjadi pijakan untuk memperkuat kualitas data dan dokumentasi program.
Bukan Sekadar Angka
Ridwan menegaskan rekognisi global tidak dapat dibangun melalui klaim dan retorika semata. “Reputasi harus memiliki basis empiris, ditopang kinerja kelembagaan yang terukur, serta diperkuat budaya mutu yang dijalankan secara konsisten,” ujarnya.
Ia memaknai internasionalisasi sebagai proses dialektis antara “membaca dunia” dan “dibaca oleh dunia”. Membaca dunia berarti membangun kesadaran kritis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan persoalan kemanusiaan kontemporer. Sementara dibaca oleh dunia berarti hasil penelitian, publikasi, dan inovasi mampu memasuki ruang percakapan akademik internasional.
“Kita tidak boleh berhenti pada kebanggaan terhadap sertifikat, bintang, atau angka pemeringkatan,” kata Ridwan.
Agenda ke Depan
Ke depan, UIN SAIZU menyiapkan lima agenda transformasi: membangun budaya mutu dan tata kelola profesional; meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah; memperluas kemitraan strategis internasional; membangun atmosfer akademik internasional yang inklusif; serta memperkuat kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dan moderasi beragama.
Ridwan menegaskan arah pengembangan universitas harus tetap berpijak pada tradisi lokal, terkoneksi secara global, dan berkontribusi bagi peradaban dunia.
“Kemajuan bukanlah perjalanan meninggalkan akar, melainkan proses menumbuhkan akar yang kokoh agar mampu menjangkau cakrawala yang semakin luas,” pungkasnya.
Pewarta: Alri Johan
Editor : Angga Saputra






