Oleh : Rangga Sujali
13.000 kepulauan, 1.300 suku bangsa, 718 bahasa daerah -belum termasuk dialek dan sub dialek, 350 juta penduduk.
Gambaran kompleksitas berbangsa-bernegara di Indonesia. Besar dan rumit. Akan rumit pula dibandingkan dengan bangsa dan negeri mana pun. Tiap suku bangsa punya karakter dan patron tersendiri. Agamis-spiritualis, patrilineal-matrilineal, agraris-maritim, industrialis-tradisional, kapitalis-sosialis.
Sungguh rumit dan bikin limbung. Siapa pun yang memimpin negeri ini, tak cukup dengan pintar berteori, berargumen, apa lagi sekadar berorasi. Maka tak usah berharap banyak dari kaum elit yang hanya mengerti bagaimana mengambil keputusan. Karena abai realitas di bawah. Dia tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan pendidikan yang baik. Atau sekadar mendapat akses kesehatan yang mudah dan murah.
Jangan pula berharap mendapat pemimpin yang pintar, jujur, dan berintegritas. Sepintar apa pun menjadi kambing congek ketika head to head dengan Dhawuh ketua partai. Sejujur apa pun akan ikut arus, karena ketika berurusan dengan upeti, menerima salah-menolak pun jadi masalah. Integritas hanya dijunjungkan kepada partai pengusung.
Limbung bangsaku nan kaya. Mencari seorang pemimpin yang tangguh sungguh bukan hal mudah. Ketika eforia demokrasi hanya menghasilkan kegilaan corupt-culture di segala lini. Dari aparat desa sampai pusat, bersekongkol dengan pengusaha dan para blantik. Sambil tertawa pongah, kapitalis berkata, “Maka jadilah pengusaha supaya bisa membeli kepala penguasa. Tanpa malu pula, banyak penguasa yang menjadi antek pengusaha.
Jadi ingat tahun 1990-an, wawancara dengan almarhum Prof. Dr. Umar Kayam, “Kita butuh seorang tiran..”










